Buku yang ditulis "Dayak dari Dalam" Luar Biasa, Mengejutkan Dunia Literasi

Buku yang ditulis "Dayak dari Dalam" Luar Biasa, Mengejutkan Dunia Literasi
Dayak menulis dari dalam adalah pilihan etnis, bukan mengutip, tetapi: dikutip. Dokpri.
Oleh Masri Sareb Putra

Lebih dari seribu buku ber-ISBN yang ditulis orang Dayak dan tentang Dayak, bukanlah warta-berita kecil. Bilangan angka yang menggugat kebiasaan lama kita dalam membaca peta kebudayaan Indonesia.

Angka kadang datang lebih dulu daripada kesadaran. Ia muncul tanpa gegap gempita, lalu memaksa kita berhenti sejenak. 

Selama ini, ada asumsi yang jarang diucapkan tetapi bekerja diam-diam: bahwa literasi etnis tertentu lebih “mapan” dibanding yang lain. 

Dayak: dari tradisi lisan ke tulisan: lompatan raksasa

Selama bertahun-tahun, Dayak kerap direduksi sebagai komunitas lisan: kaya mitos, cerita, dan ritus, tetapi dianggap lemah dalam tradisi tulis dan arsip. 

Pandangan ini hidup tenang di ruang akademik, diulang dalam laporan penelitian, bahkan kadang diterima tanpa keberatan. Padahal, ketiadaan arsip tertulis sering kali bukan soal kemampuan, melainkan soal akses, sejarah kekuasaan, dan siapa yang diberi ruang untuk mencatat. 

Data terbaru tentang buku-buku ber-ISBN yang ditulis orang Dayak mematahkan anggapan itu tanpa perlu retorika. Angka bekerja diam-diam, tetapi tegas. Ia menunjukkan bahwa tradisi lisan tidak pernah mandek; ia hanya menunggu medium yang memungkinkan dirinya menjelma menjadi tulisan.

Kini, peta itu berubah. Ibarat lomba lari marathon, Dayak memang memulai dari garis start yang lebih belakang, tertinggal oleh sejarah dan infrastruktur. Namun justru karena itu, lajunya terasa nyata. Langkahnya tidak meledak-ledak, tetapi konsisten. Pelan, nyaris tanpa sorak, namun meyakinkan. 

Ketika sebagian yang lain mulai kehabisan napas, Dayak terus berlari, mencatat, dan menerbitkan. Bukan untuk membuktikan diri kepada siapa pun, melainkan untuk memastikan bahwa pengalaman dan pengetahuan mereka tidak lagi tercecer di pinggir lintasan sejarah.

Hal yang menarik adalah bahwa temuan ini bukan hasil riset lembaga besar, bukan pula proyek negara. Ia lahir dari percakapan, dari kegelisahan, dari kebutuhan untuk mencatat diri sendiri sebelum orang lain kembali melakukannya dengan caranya.

Menulis dari Dalam sebagai Pilihan Etis

Istilah “Dayak menulis dari dalam” pertama kali diperkenalkan pada 2015. Ia adalah Motto penerbit Lembaga Literasi Dayak. Terminologi bukan jargon akademik, apalagi slogan pemasaran. Ia adalah pilihan etis. 

Menulis dari dalam berarti menolak jarak yang terlalu nyaman antara penulis dan subjeknya. Ia mengandaikan keterlibatan, risiko, dan kejujuran.

Menulis dari dalam tidak berarti menutup diri dari kritik. Justru sebaliknya. Ia membuka ruang bagi suara yang selama ini tercecer. Pengalaman orang Dayak tidak lagi disaring sepenuhnya oleh teori orang lain. Ia hadir apa adanya, dengan bahasa, kegamangan, dan konteksnya sendiri.

Di titik ini, sastra dan pengetahuan bertemu. Buku-buku yang ditulis tidak hanya memelihara ingatan, tetapi juga membentuk cara pandang baru tentang siapa yang berhak bercerita.

Grup WhatsApp dan Kerja Sunyi Pendataan

Pada 2023, lahirlah Grup WhatsApp “Literasi Dayak”. Medium yang tampak remeh, tetapi fungsinya krusial. Di ruang digital itu, hampir 300 penulis, akademisi, rohaniwan, dan pegiat literasi bertemu. Mereka berdiskusi, berdebat, dan yang terpenting: mencatat.

Pendataan penulis dan karya dilakukan dengan teliti, meski jauh dari kata sempurna. Nama diperiksa, jumlah buku diverifikasi, data dikoreksi berulang kali. Teknologi memungkinkan semua itu berlangsung cepat, tetapi yang membuatnya bertahan adalah disiplin kolektif.

Hasil sementara pendataan itu mengejutkan banyak pihak. Lebih dari seribu buku tercatat. Dari penulis dengan ratusan karya hingga mereka yang baru menerbitkan satu buku. Tidak ada yang dikecualikan. Setiap buku dianggap penting karena setiap buku adalah jejak.

Kerja ini, dalam diam, telah membangun arsip kebudayaan yang belum pernah dilakukan oleh satu etnis secara sedetail ini di Indonesia.

Angka, Nama, dan Pergeseran Posisi

Di balik angka, ada nama. Korrie Layun Rampan dengan ratusan buku, Masri Sareb Putra dengan lebih dari seratus karya, hingga puluhan penulis lain dengan produksi yang konsisten. Tetapi artikel ini tidak sedang menyusun daftar prestasi. Ia sedang mencatat pergeseran posisi.

Jika dulu orang Dayak lebih sering menjadi bahan kutipan, kini karya-karya mereka mulai dirujuk. Jika dulu cerita tentang Dayak lebih banyak ditulis dari luar, kini perspektif dari dalam semakin dominan. Ini bukan soal menggantikan suara lain, melainkan menyeimbangkannya.

Dalam konteks sastra dan ilmu pengetahuan, keseimbangan ini penting. Ia mencegah satu perspektif menjadi tunggal dan hegemonik. Ia membuka ruang dialog yang lebih setara antar-etnis.

Dari Literasi ke Martabat

Apa arti semua ini? Lebih dari sekadar produktivitas menulis, gerakan ini menunjukkan bahwa literasi adalah soal martabat. Menulis adalah cara menyatakan hadir, menolak dilupakan, dan menegaskan bahwa pengalaman sendiri layak dicatat.

Teknologi telah membantu, tetapi bukan teknologi yang menciptakan kesadaran ini. Ia lahir dari kebutuhan lama yang menemukan momentumnya sekarang. Dari keinginan untuk tidak terus-menerus diceritakan oleh orang lain.

Mungkin inilah makna terdalam dari ledakan literasi Dayak hari ini. Bukan pada jumlah bukunya, tetapi pada sikap yang menyertainya. Sikap untuk berdiri di dalam cerita sendiri. Dan dari sana, berbicara ke dunia.

Senarai Penulis dan buku "Dayak dari dalam"

1. Korrie Layun Rampan: 280

2. Masri Sareb Putra: 235

3. Damianus siyok: 20

4. Yansen TP: 14

5. Paran Sakiu: 6

6. Tonich Uda: 4

7. Tiwi Etika: 14

8. Liu Ban Fo (Munaldus): 14

9. Paulus: 8

10. Niko Andas Putra: 5

11. Rei: 4

12. Suriansyah: 17

13. Kumpiady Widen: 8

14. Yetrie Ludang: 6

15. Salampak Dohong: 8

16. Valentinus Saeng: 3

17. Musa N: 3

18. Adilbertus: 5

19. Pitalis M: 8

20. Herys M: 3

21. Fidelis S: 4

22. Lambut: 14

23. Usop: 6

24. Afri: 3

25. Tirussel: 2

26. Hepi: 2

27. Gumelar: 5

28. Wuoh: 27

29. Amon Stefanus: 8

30. Deodatus Kolek: 3

31. Nyaming: 3

32. Dosen-dosen ITKK: 15

33. Muner Daliman: 8

34. Tamtama: 2

35. Tina Lie: 3

36. Maria Fransiska: 1

37. Wilson A: 9

38. Telhalia: 1

39. Tirtasusila: 3

40. Hadi Saputra: 3

41. Darius Dubut: 3

42. Agustiman: 3

43. Tomi Paulus: 6

44. Liberti Hia: 3

45. Mugeni: 4

46. Thambun Anyang: 6

47. Krstianus Atok: 7

48. Resty Kencana: 3

49. Dionisius Meligun: 3

50. Dehen: 1

51. Christina Lomon: 5

52. Anderis Usat: 1

53. Marthin Billa: 3

54. Theresia Kristiana: 3

55. Aloysius Aloi: 1

56. Yohanes Laon: 5

57. Paulus Nokus: 2

58. Bambang Bider: 3

59. Siun Jarias: 3

60. Harin Tiawon: 3

61. Njau Anau: 4

62. Sandy Firli: 12

63. Alexander Mering: 18

64. Ding Ngo: 7

65. Ramhadi Lentam: 12

66. Jastin: 2

67. Lio Bijumes: 7

68. Mirintan Binti: 3

69. N. Diana: 5

70. Urbanus: 12

71. Marthin Memory: 4

72. Herwine Sastra: 4

73. Budi Miank: 7

74. Setia Budi: 6

75. Rochmond Onasis: 2

76. Elisae Sumandie: 1

77. Daniel Karanawai: 1

78. Emt Nilan: 3

79. Lorensius Amon: 3

80. Agustina: 2

81. Dismas Adju: 14

82. JJ Kusni: 7

83. Jiu Uay: 1

84. Jemari Andrreas: 1

85. Merylyn Yohannis: 1

86. Sepmiwawalma: 12

87. Hermogene Ugang: 2

88. Patricia Ganing: 5

89. Stefanus Masiun: 9

90. Aliman: 12

91. Albertus: 10

92. Rizali Hadi: 10

93. Andika Pasti: 3

94. Nasrullah: 6

95. Timoteus Tenggel Suan (TT Suan): 1 

96. Timoteus Tenggel Suan: 1

97. Ming Ming Chy: 25

98. Eka Olivia: 1

99. Andersius Namsi: 3

100. Januarto Budi Assa: 1

101. Hamid Darmadi: 14

102. Mgr. Valentinus Saeng: 3

103. Antonius: 3

104. Kalvin: 3

105. Elia Embang: 3

106. Samuel ST Padan: 1

107.  Kartika Bungas: 1

108. Lin Magdalena: 1

109. Sofia – Muara Teweh: 2

110. Yusak Buing: 1

111. Tajeri: 2

112. Sosilawaty: 1

113. Eliezer Lewis: 1

114. Kristian: 1

115. Titus Turot: 1

116. Marson Apui: 1

117. Holten Sion Bahat: 7

118. Lenggan Pait: 1

119. Zakaria: 1

120. Wido H. Toendan: 1

121. Mansur Samin: 1

122. Rollis: 1

123. Sanasintani: 1

124. Berkat: 3

125. Rina Laden: 4

126. Lion Morry Oddy: 3

127. Agus Mulyawan: 3

128. Bulkani: 2

129. Setinawati: 1

130. M. Jaka Trisnadi: 1

131. Prasetiawati: 1

132. Matius Jon: 2

133. Yohanes Bahari: 6

134. Gat Khaleb: 1

135. Napa J Awat: 3

136. Simon Takdir: 2

137. Helwatin Najwa: 5

138. Kornel: 1

139. Maria Amanda: 1

140. Vedastus Riky: 2

141. Heironimus Bumbun: 2

142. Lonsen & Sareb: 1

143. Markus Yohanes Tui cs: 3

144. Dunis Iper: 2

145. Nila Riwut: 8

146. Tjilik Riwut: 7

147. Vera Amelia: 1

148. Hanna Pertiwi: 1

149. Hendrikus Adam: 1

150. Oktamia Karunia Sangalang: 5

151. Bambang Lautt: 2

152. Yankris: 5

153. Ding Ngo: 7

154. Yosef Semael: 1

Pembaca yang mendapatkan masih ada penulis Dayak yang belum masuk senarai ini, silakan memberikan masukan untuk diimbuhkan. 

0 Comments

Type above and press Enter to search.