Das Kapital: Kitab Kritik untuk Membaca Indonesia dan Dayak Hari Ini

Marx dan Das Kapital
Marx dan Das Kapital, Kitab Kritik untuk Membaca Indonesia dan Dayak Hari Ini. Ist.

Oleh Masri Sareb Putra

Das Kapital adalah kitab kritik yang lahir dari luka zaman. Karl Marx kerap disalah-mengerti oleh orang yang hanya paham sekulit ari pemikiran dan bukunya saja, tidak menyentuh esensinya. Kitab tua ini masih, dan tetap relevan, terutama untuk membaca Indonesia dan Dayak hari ini. Pas!

Das Kapital bukan sekadar buku tebal. Ia lahir dari luka sejarah. Ditulis Karl Marx, filsuf dan ekonom Jerman, karya ini adalah usaha panjang membaca denyut paling dalam dari kapitalisme modern

Juul aslinya, Das Kapital: Kritik der politischen Ökonomie, menandai niatnya sejak awal: bukan memuja ekonomi, melainkan membedahnya.

Volume pertama terbit tahun 1867. Marx belum melihat dunia bergetar oleh bukunya. Setelah wafat, Friedrich Engels, sahabat, rekan seperjalanan intelektual, menyusun dan menerbitkan volume kedua (1885) dan ketiga (1894) dari catatan yang terserak. 

Sebuah karya yang selesai justru setelah sang penulisnya tiada!

Karena itu Das Kapital adalah buku yang “belum selesai”. Ia terus dibaca ulang. Ditafsir ulang. Diperdebatkan. Ia bukan kitab suci. Ia pisau. Dan pisau hanya berarti bila dipakai dengan akal sehat dan hati yang jujur.

Pertentangan Kelas dan Suasana Kejiwaan Indonesia

Marx memulai dari satu tesis sederhana namun tajam: dalam kapitalisme, sejarah digerakkan oleh pertentangan kelas. Pemilik modal berhadapan dengan mereka yang hanya memiliki tenaga. Kapitalis dan proletariat.

Pertanyaannya: Apakah Das Kapital masih relevan di Indonesia hari ini?

Jawabannya tidak selalu terlihat di permukaan. Pertentangan kelas di Indonesia jarang meledak sebagai konflik terbuka. Ia lebih sering hadir sebagai suasana kejiwaan: rasa terpinggirkan, ketidakadilan yang diterima sebagai takdir, jurang antara kerja keras dan hasil yang diterima.

Di desa-desa, tanah menyusut. Di kota-kota, tenaga murah menjadi norma. Sumber daya alam dikuasai segelintir. Kerja kolektif diganti kontrak individual. Di titik ini, Das Kapital membantu kita membaca yang tak terucap.

Bukan untuk menghasut. Melainkan untuk memahami: siapa diuntungkan, siapa dikorbankan, dan mengapa ketimpangan terasa begitu “normal”.

Kapitalisme Global, Pancasila, dan Jalan yang Tersesat

Indonesia hidup di pusaran kapitalisme global. Modal bergerak lintas negara. Keuntungan mengalir cepat. Tetapi keadilan tertinggal jauh. 

Marx telah lama mengingatkan bagaimana kapital cenderung menghisap nilai lebih, memusatkan kekayaan, dan memperlebar jurang sosial.

Dayak mempraktikkan Pasal 33 UUD 1945

Di atas kertas, Indonesia punya PancasilaPasal 33 UUD 1945 jelas: "Ekonomi disusun sebagai usaha bersama. Bumi, air, dan kekayaan alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat."

Namun praktik sering berkhianat pada teks. Ekonomi kerakyatan kerap menjadi slogan, bukan sistem. Negara berjalan seperti kapitalisme dengan bendera moral.

Di tengah kegagalan itu, justru muncul contoh-contoh sunyi: koperasi dan Credit Union. Di kalangan orang Dayak, semangat Pasal 33 tidak diperdebatkan. Pasal itu dipraktikkan. Modal dikembalikan ke komunitas. Keuntungan menjadi belarasa.

Di sini Marx dan Pancasila bertemu, bukan sebagai ideologi, melainkan sebagai keprihatinan yang sama: bagaimana manusia tidak direduksi menjadi alat produksi.

Marx sebagai Pisau Analisis, Bukan Berhala

Kesalahpahaman terbesar tentang Marx adalah menjadikannya dogma. Padahal Marx sendiri adalah pengkritik dogma. Marxisme bukan agama. Ia metode. Pisau analisis.

Pengalaman mendalami Marx dan Neo-Marxisme, termasuk Frankfurt School, menunjukkan satu hal penting: kritik sosial tidak berhenti pada ekonomi, tetapi merambah budaya, politik, bahasa, bahkan kesadaran. 

Marx adalah “babon” dalam arti titik berangkat, namun bukan titik akhir.

Menyebut Marx sebagai sesuatu yang “buruk” sering lahir dari gagal-paham. Yang berbahaya bukan membaca Marx, melainkan berhenti berpikir.

Bagi Indonesia hari ini, Das Kapital tidak menawarkan resep siap pakai. Marx menawarkan cermin. 

Melalui cermin itu, kita diajak merancang kebijakan yang lebih adil, mengurangi ketimpangan, dan menata ekonomi yang berpihak pada manusia, bukan semata pada angka.

Marx membantu kita bertanya. Pancasila menuntun kita menjawab. 

Di antara keduanya. Masa depan Indonesia dipertaruhkan.

0 Comments

Type above and press Enter to search.