Dayak Hari Ini Ketika Tradisi Berjumpa dengan Modernitas

Perubahan sosial pada masyarakat Dayak Jangkang.
Perubahan sosial pada masyarakat Dayak Jangkang: menjadi modern tanpa meninggalkan warisan nilai adat budaya leluhur. Dok. Eremespe.

Oleh Fidelis Saputra

Desa Jangkang, Kabupaten Sanggau pagi itu. Seorang anak perempuan bernama Vanessa membuka tirai rumah permanen milik keluarganya.

Rumah itu kini berdiri kokoh dengan dinding bata dan atap seng. Jauh berbeda dari rumah panjang yang dulu jadi satu-satunya tempat tinggal komunitas Dayak. 

Listrik menyala. Suara kipas angin mengusir udara pagi yang lembap. Namun, di pekarangan, tanaman obat tradisional masih tumbuh di antara bunga-bunga yang ditanam neneknya.

Kehidupan di kampung kini tidak lagi berdetak sesuai ritme lama semata. Sepeda motor menjadi alat transportasi utama, bukan lagi perahu dayung atau berjalan kaki berjam-jam. Ketika Vanessa hendak berangkat sekolah, ia menggenggam ponsel untuk membuka aplikasi belajar daring. Ia naik sepeda motor, meski masih usia SMP. Di desa, keadaan aman-aman saja. Semua orang saling mengenal, mengetahui, dan mengawasi.

Dengan senyum, ia berkata kepada ibunya, “Aku mau jadi guru biologi supaya bisa mengajar anak-anak kampung seperti aku.” 

Perpaduan akses pendidikan modern dengan kehidupan kampung menunjukkan realitas baru masyarakat Dayak hari ini. Mereka mandiri, beradab, dan mengait masa depan dengan masa lalu.

Sebelum kemajuan ini, perjalanan ke kota untuk sekolah sering memakan waktu berjam-jam dengan biaya tinggi. Kini, meski internet kadang lambat di pagi yang berkabut, akses online sudah mengubah cara belajar anak-anak di kampung ini. 

Jalanan, Internet, dan Realitas Infrastruktur

Setelah sarapan nasi goreng singkong buatan ibunya, Sari bergegas menunggu angkutan motor kecil yang akan mengantarnya ke sekolah. 

Jalanan tanah merah menuju desa kini sudah tertutup kerikil kasar; sebuah kemajuan nyata dibanding jalur licin saat musim hujan dulu. Namun, di beberapa titik pedalaman, jalan masih bergelombang dan membuat perjalanan menjadi goyang-goyang. 

Di situlah terlihat bahwa kemajuan infrastruktur belum merata, terutama di desa pinggiran sungai dan daerah perbatasan hutan.

Saat motor melaju pelan, pemandangan berubah dari kebun karet ke kebun sawit. Perkebunan sawit kini menjadi pemandangan dominan di Borneo, termasuk di komunitas Dayak Jangkang, subrumpun Bidayuh di sekitar Jangkang Kehadiran sawit mengubah pola hidup masyarakat; dulunya hutan lebat kini berganti deretan pohon sawit yang rapi dan produktif. 

Sawit memberi peluang ekonomi besar bagi keluarga. Uang dari penjualan buah sawit memungkinkan keluarga membeli motor, listrik rumah, dan sekolah bisa lebih mudah diikuti secara daring. Tetapi perubahan ini juga menyisakan dinamika sosial; beberapa generasi tua merasakan pergeseran dari kehidupan berbasis hutan dan ladang rotasi menuju ekonomi pasar. 

Perubahan seperti ini merombak ritme hidup dan pandangan masyarakat terhadap hutan, bukan hanya sebagai sumber spiritual dan adat, tetapi juga sebagai komoditas ekonomi. 

Internet pun menjadi pemandangan umum di ruang tamu rumah. 

Listrik seringkali bergantian nyala-mati, tetapi ketika jaringan stabil, anak-anak berkumpul membuka video pembelajaran, resep makan, atau bahkan livestream tarian adat yang sedang berlangsung di kampung tetangga. Itu adalah pertemuan dua dunia: tradisi yang diwariskan turun-temurun dan teknologi digital yang membentuk cara baru berinteraksi.

Kebun Sawit: Napas Ekonomi dan Kesempatan Baru

Di kebun sawit tidak jauh dari rumah Vanessa, ayahnya, Pak Saputra, sedang memeriksa batang-batang sawit yang mulai berbuah. Ia berkisah tentang bagaimana kehidupan berubah. “Dulu kita bercocok tanam untuk sehari-hari saja. Sekarang sawit memberi kami penghasilan tetap,” katanya sambil menyeka keringat di dahinya.

Ekonomi sawit telah mengubah banyak pola hidup masyarakat Dayak. Dari hasil panen, keluarga menabung untuk pendidikan anak, membeli kebutuhan rumah tangga, dan memperbaiki kondisi rumah. 

Dalam studi etnografi, perubahan pola hidup masyarakat Dayak Jangkang akibat hadirnya perkebunan sawit terlihat jelas. Kebutuhan dasar yang dulu susah terpenuhi kini makin mudah dijangkau. 

Namun di balik itu, ada pergulatan antara miris dan berterima kasih. Lahan yang dulu dihutan dengan ritual dan cerita leluhur kini berubah menjadi lahan produksi. Meski memberi kemakmuran, transformasi tanah ini kadang menimbulkan perdebatan lintas generasi tentang identitas budaya dan keberlanjutan lingkungan. Banyak warga kini belajar untuk memadukan kearifan lokal dengan praktik modern agar keduanya berjalan seiring.

Ritual Gawai dan Kehidupan Sosial

Siang hari, saat matahari mulai tinggi, nenek Sari sedang menyiapkan keperluan untuk Ritual Gawai, perayaan syukur dan kebersamaan masyarakat Dayak. Ritual ini bukan sekadar upacara; ia adalah perekat sosial di mana orang-orang kampung berkumpul, berbagi makanan, tarian, dan lagu. 

Di halaman rumah panjang yang sudah jarang ditempati penuh, beberapa keluarga berkumpul dengan pakaian khusus, menabuh alat musik tradisional, dan mengajak anak-anak berdansa mengikuti irama musik. Meskipun banyak generasi muda kini tinggal di kota besar untuk sekolah atau bekerja, ritual adat seperti Gawai tetap menjadi rangkaian yang mengikat masyarakat pada akar budaya mereka.

Dalam pengalaman ritual itu, terlihat hubungan emosional dengan tanah leluhur, bahasa nenek moyang, dan sistem kekeluargaan yang kuat. Meskipun modernitas telah hadir, keadaan ini menunjukan bahwa masyarakat Dayak masih kuat mempertahankan praktik budaya yang memberi makna pada kehidupan mereka, bukan hanya identitas semata.

Malam Hari: Listrik dan Cerita Leluhur

Saat malam turun, listrik mulai berpendar di rumah-rumah. Di beranda yang sama di mana dulu nenek bercerita sambil menyalakan obor, kini lampu LED menerangi wajah-wajah yang duduk bersama, silih berganti mendengarkan cerita leluhur. Bedanya, cerita itu kini direkam menggunakan ponsel, untuk disimpan sebagai arsip digital budaya agar tak hilang ditelan waktu.

Ini adalah perjumpaan unik antara modernitas dan tradisi. Teknologi dokumentasi menjadi alat baru untuk melestarikan cerita. Tekanan modernisasi tidak sepenuhnya memadamkan praktik ritual yang kaya makna. Mahasiswa dan anak muda kampung bahkan mulai membuat arsip kultural komunitas online, memadankan cerita lisan tradisional dengan platform digital sehingga warisan budaya tetap hidup dalam generasi modern. 

Malam itu, di rumah Vanessa, terdengar tawa, lagu, dan kadang teriakan riang anak-anak yang meniru tarian saat Gawai. Makanan habis, tetapi energi kolektif itu tetap mengalir; sebuah gambaran bahwa komunitas Dayak tidak sekadar hidup di era modern, mereka beradaptasi secara kreatif.

Tantangan Masa Kini dan Titik Harapan

Kemajuan tampak jelas: rumah permanen, akses internet, listrik, pendidikan, serta sumber ekonomi seperti sawit yang menopang kehidupan keluarga; semua itu sudah bukan sekadar ide, tetapi kenyataan di kampung. Namun, tidak bisa disembunyikan bahwa tantangan besar tetap tersisa.

Infrastruktur masih tertinggal di beberapa wilayah; kualitas jalan dan jaringan internet belum merata. Perubahan budaya global bisa membawa pengaruh yang membuat generasi muda kurang menghayati tradisi lama. Ada juga konflik batin: bagaimana merawat hutan adat yang memiliki nilai spiritual tinggi, sekaligus mengembangkan ekonomi berbasis lahan produktif. 

Meski demikian, tidak sedikit komunitas Dayak yang berupaya menjadikan kearifan lokal sebagai kekuatan strategis dalam menghadapi modernitas. Praktik pengelolaan lahan tradisional seperti kaleka  sistem agroforestry yang mencampur tanaman pangan, buah, dan kayu  kini dipelajari kembali sebagai model pengelolaan lahan berkelanjutan. 

Hidup di kampung Dayak hari ini bukan kisah hitam-putih tentang tradisi versus modernitas. Ini adalah cerita tentang perjumpaan dua dunia yang saling merangkul, mengambil manfaat dari kemajuan sambil tetap menjaga akar budaya.

Larut dalam ritme kehidupan sehari-hari, dari sepeda motor yang menembus jalan berkerikil, sinyal internet yang kadang menguat, sampai musik Gawai yang menggetarkan jiwa, terlihat satu hal: masyarakat Dayak bukan sekadar bertahan di era modern, tetapi berkembang dengan kesadaran identitas dan harga diri.

Perubahan bukan sekadar kemajuan materi; ia adalah transformasi budaya yang berarti, yang membuat komunitas adat ini tetap relevan di dunia yang terus berubah.

0 Comments

Type above and press Enter to search.