Dayak Hari Ini: Tajir, Modern, dan Beradab

Dayak Hari Ini: Tajir, Modern, dan Beradab
Modus vivendi dan modus essendi Dayak hari ini menyatu dengan cara peradaban modern. Dokpen.
Oleh Rangkaya Bada

Orang Dayak kini hadir dengan wajah baru. Mereka modern dan beradab. Modernitasnya tidak diimpor dari kota besar, bukan pula kemewahan yang menutupi akar budaya. Modernitas ini lahir dari tanah sendiri, dari tangan yang terbiasa bekerja, dari akar budaya yang dirawat dengan cermat selama generasi.

Dayak hari ini modern dan beradab. 

Tak ada lagi stigma serba-minor. Modus vivendi dan modus essendi Dayak hari ini embeded dengan cara peradaban modern.

Selamat tinggal kemiskinan struktural! 

Beradab bukan sekadar formalitas atau protokol. Beradab adalah kemampuan untuk hadir di dunia tanpa kehilangan diri, tanpa tunduk pada stigma lama yang pernah membatasi mereka.


Selamat tinggal kemiskinan struktural! Ungkapan itu bukan slogan, tetapi kenyataan yang bisa dilihat dan disentuh. Hari ini, orang Dayak memiliki kebun sawit, lahan pertanian, usaha perdagangan, bahkan ruang ekonomi kreatif. 

Mereka duduk di ruang rapat dengan tenang, berbicara dengan percaya diri, dan bergerak di pasar ekonomi dengan martabat yang jelas. 

Tidak ada lagi bayangan minor yang membatasi. Tidak ada lagi prasangka bahwa mereka hanyalah subjek sejarah.Kehidupan mereka berubah. Modus vivendi, cara bertahan hidup, menyesuaikan dengan zaman. 

Modus essendi, hakikat keberadaan, ikut tertata ulang. Kehidupan orang Dayak embeded dengan peradaban modern. 

Di desa, rumah-rumah tetap menjadi pusat keluarga, tetapi halaman kini menjadi ruang kendaraan berjejer, anak-anak bermain, perempuan mengatur usaha dagang. Di kota, orang Dayak duduk di kantor pemerintahan, di lembaga pendidikan, di ruang sosial, hadir tanpa menunduk..

Dulu, cerita tentang orang Dayak selalu diikat oleh hutan, sungai, dan lembah. Kini, batas-batas itu tidak lagi menjadi penghalang. Mereka bergerak di kota, di kantor pemerintahan, di sekolah, bahkan di pertemuan nasional. Kehadiran itu nyata, bukan simbol semata. Orang Dayak ikut menentukan arah kebijakan, ikut menggerakkan ekonomi, ikut menyalakan pengetahuan. Kesetaraan yang mereka raih adalah hasil akumulasi kerja keras, kecerdikan, dan keberanian menegakkan diri di ruang publik.

Di sela rapat, di antara dokumen dan agenda, mereka hadir. Tidak dengan riuh, tetapi dengan ketenangan yang menegaskan bahwa posisi mereka bukan hadiah. Posisi itu diperoleh, dipertahankan, dan dijalankan. 

Orang Dayak duduk sama rendah, mendengar, menimbang, memahami. Mereka berdiri sama tinggi, mengambil keputusan, memberi pengaruh, membentuk ruang bagi generasi berikut.

Di halaman rumah panjang di pedalaman Kalimantan Barat, suasana berbeda tetapi serupa. Matahari siang menyinari deretan rumah beratap rumbia. 

Anak-anak berlari di antara pohon durian dan rambutan. Udara hangat, tapi ada aroma basah tanah yang baru digarap. Di sini, satu rumah panjang bukan sekadar tempat tinggal, tetapi pusat kehidupan.

Peran di Berbagai Bidang

Di Kalimantan, orang Dayak tidak lagi tersembunyi. Mereka ada di mana-mana. Di politik, mereka hadir di parlemen lokal maupun nasional. Keputusan mereka memengaruhi kehidupan banyak orang, bukan hanya komunitas mereka sendiri. 

Di ekonomi dan keuangan, mereka mengelola lahan, kebun sawit, usaha perdagangan, dan bahkan proyek kreatif berbasis budaya. Mereka belajar menghitung risiko, menanam modal, dan memanen hasil dengan cermat. 

Di pendidikan, mereka menyalakan pengetahuan. Mereka menjadi guru, dosen, dan pembimbing, memastikan generasi baru memahami akar budaya, tetapi tetap mampu bersaing di dunia modern.

Kelas ekonomi mereka meningkat. Tidak lagi sebatas bertahan hidup. Kebebasan finansial memberi mereka pilihan: berinvestasi, berdagang, membuka usaha kreatif, mengelola sumber daya secara mandiri. Tanah dan kebun bukan hanya tempat bekerja, tetapi modal dan warisan. Penguasaan atas tanah memberi mereka kendali, memberi mereka kapasitas untuk menentukan masa depan sendiri.

Ekonomi kreatif menjadi jalan baru. Dari kerajinan tangan, tenun, seni, hingga literasi digital, orang Dayak mengekspresikan budaya sambil menjadikannya aset ekonomi. Ini bukan sekadar soal uang. Ini soal kemandirian, soal hak untuk tetap menjadi pengelola hidup dan tanah mereka sendiri.

Di tengah kebun sawit yang rapi, seorang pemuda Dayak menunjuk pohon durian yang sedang berbunga. 

“Ini akan jadi panen pertama kami tahun ini,” kata Fidelis Saputra sembari membentuk seluas senyum. 

Ada kebanggaan sederhana di matanya. Kebun itu bukan hanya sumber pendapatan. Ia adalah tanda kerja, pengelolaan, dan keberanian untuk mengelola tanah sendiri.

Satu Rumah, Banyak Motor

Rumah panjang tidak hanya tempat tinggal. Ia adalah pusat energi dan mobilitas orang Dayak. Satu rumah dengan puluhan anggota keluarga bisa menjadi penggerak kehidupan. Setiap anggota berperan, membawa kemampuan berbeda, tetapi semuanya bekerja dalam kesatuan. Kolektivitas ini adalah kekuatan yang tak terlihat tetapi nyata.

Di halaman, deretan mobil siap bergerak. Ada yang mewah, ada yang menengah, ada yang sederhana. Mobil yang baru dibeli dari hasil kebun sawit. Mobil dari usaha dagang keluarga. Mobil dari proyek kreatif anak muda. Semua kendaraan menjadi perpanjangan dari mobilitas sosial, ekonomi, dan budaya.

“Setiap mobil punya ceritanya sendiri,” kata seorang ibu sambil menyiapkan kopi di halaman. “Yang satu untuk anak sekolah, yang satu untuk berdagang, yang satu untuk ke kota.” Mobil bukan sekadar simbol status. Ia adalah bukti kerja, bukti rencana, bukti bahwa orang Dayak mampu bergerak jauh tanpa meninggalkan akar.

Halaman Rumah sebagai Panggung Kehidupan

Setiap kali ada pesta keluarga, arisan, atau perayaan adat, halaman rumah panjang berubah bentuk. Dari tanah biasa menjadi panggung kehidupan. Anak-anak berlari, menertawakan udara, memanjat pohon rambutan. Orang tua duduk, bercerita, menyingkap masa lalu. Dewasa menyiapkan hidangan, menyapa tamu, mengatur acara.

Dan mobil-mobil itu tetap berada di halaman, seakan ikut bercerita. Ada yang mengkilap, ada yang sederhana, ada yang tua tapi gagah. Mereka tidak hanya bergerak. Mereka menegaskan diri. Menegaskan bahwa orang Dayak hadir di dunia modern, mampu bersaing, mampu menegakkan martabat di tanah sendiri.

Pesta itu berlangsung sampai sore. Aroma masakan tradisional bercampur dengan suara anak-anak, langkah orang dewasa, dan deru mesin mobil yang keluar masuk halaman. Setiap suara menjadi bagian dari harmoni, bagian dari bukti bahwa kehidupan orang Dayak berjalan dengan ritme sendiri.

Mobil dan Kehidupan Kolektif

Deretan mobil di halaman bukan sekadar benda. Ia menjadi saksi kehidupan kolektif. Setiap mobil memiliki cerita sendiri. Ada mobil yang selalu dipakai untuk mengantar anak ke sekolah. Ada mobil yang dipakai untuk berdagang di pasar. Ada mobil yang digunakan untuk perjalanan ke kota lain. Semua bergerak, semua bekerja, semua memberi arti.

Bagi orang Dayak, rumah panjang adalah unit ekonomi dan sosial. Setiap anggota keluarga punya peran dan tanggung jawab. Anak-anak belajar tentang kerja sama, menghargai usaha orang tua. Orang tua mengatur lahan, mengelola keluarga, menyiapkan acara. Halaman rumah panjang menjadi mikrokosmos kehidupan. Setiap langkah, setiap mobil, setiap suara anak-anak adalah bagian dari harmoni itu.

Perayaan Keluarga: Ritual Modern

Ketika ada perayaan keluarga, halaman rumah panjang penuh warna. Pakaian tradisional, tawa, aroma masakan mengisi ruang. Mobil-mobil berjejer dari yang mewah hingga sederhana. Semua hadir dalam kesatuan yang harmonis. Tidak ada yang menonjolkan diri secara berlebihan. Semua hadir sebagai bagian dari komunitas.

Acara ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah ritual modern. Bukti bahwa orang Dayak mampu menjaga tradisi sambil bergerak maju. Bukti bahwa mereka menguasai tanah, keluarga, ekonomi, dan budaya. Bukti bahwa mereka mampu duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, dan tetap menjadi diri sendiri.

Kesetaraan dan Kemandirian

Hari ini, orang Dayak bukan sekadar cerita masa lalu. Mereka hadir di setiap ruang yang menentukan. Mereka duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Mereka hadir di politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial. Mereka punya mobil, kebun, rumah panjang, kreativitas, dan kolektivitas.

Halaman rumah panjang, dengan deretan mobil, anak-anak yang bermain, orang tua yang bercerita, keluarga yang sibuk menyiapkan acara, adalah simbol kemajuan. Bukan kemewahan, tetapi kemampuan untuk hadir, bergerak, dan menegaskan eksistensi.

Orang Dayak hari ini adalah kombinasi harmonis antara tradisi, modernitas, dan kemandirian. Mereka membuktikan bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan akar. Kehadiran mereka di berbagai bidang bukan sekadar statistik. Itu adalah bukti nyata bahwa mereka bisa duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, mengelola tanah, keluarga, ekonomi, dan budaya dengan cara yang penuh martabat.

Di halaman rumah, di tengah kebun dan jalanan, di kantor dan sekolah, di pasar dan ruang pertemuan, orang Dayak hadir. Tenang, tapi jelas. Tersenyum, tapi tegas. Mereka maju, mereka beradab, mereka penguasa di tanah mereka sendiri.

Hal yang paling penting, mereka melakukan itu tanpa mengumbar diri. Tanpa riuh. Hanya hadir, bergerak, dan menjadi Dayak sepenuhnya di zaman ini.

0 Comments

Type above and press Enter to search.