Doleng Dona Do Itu Paolus Hadi
| Pasutri Paoulus Hadi dan Artita, sang istri, duet ber-doleng donado. Istimewa. |
Oleh Masri Sareb Putra
Sebuah lagu etnik amat merakyat di Sanggau. Lagu yang lahir dari tanah. Dari nafas sungai. Dari tawa hutan. Dari suara rumah panjang. Ia bukan sekadar nada.
Bukan sekadar kata dalam syair lagu. Ia mantra. Denyut yang melebihi urat nadi. Nafas yang mengikat manusia dengan tanahnya.
Lagu itu adalah “Doleng Dona Do”.
Dari Tradisi ke Simbol Budaya
Pasutri Paoulus Hadi dan Artita, sang istri, kerap duet ber-doleng Donado. Lagu ini lahir dari cerita Shon Afgato. Dari alunan yang sederhana. Namun menyimpan makna mendalam. Dalam setiap nada.
Dalam setiap lirik. Lagu ini menjadi simbol. Mengikat identitas. Menghubungkan kebersamaan. Menjadi saksi perubahan sosial.
Prokem yang Berubah Jadi Aliran Modern
Awalnya, hanya prokem. Membawa bayangan Nina Bobo. Mengantar tidur anak-anak Golik. Dayak Bidayuh. Tapi ada lebih. Shon Afgato menambahkan lirik bahasa lokal. Memberi napas baru. Mengikat masa lalu dengan masa kini.
"Doleng Dona Do" kini jembatan bagi kebersamaan. Lagu yang bisa menari bersama tubuh. Lagu yang menangis dan tertawa bersamaan.
Menembus Batas, Menyatukan Ragam
Kini, lagu ini menembus batas Sanggau. Pontianak. Sekadau. Sintang. Melawi. Kapuas Hulu. Di pesta, di acara, di jalanan. Pinggul bergoyang. Tangan bertepuk. Hati tergerak. Semua terikat satu alunan.
Meski memuliakan Sanggau, daya tariknya melampaui lokalitas. Mengikat keragaman. Menjadi hiburan. Menjadi pengingat. Seni adalah perubahan. Budaya adalah akar yang menuntun masa depan.
Paolus Hadi: Ikon dan Nafas Abadi
Ketika melantunkan “Doleng Dona Do”, sosok Paolus Hadi hadir. Lelaki tambun dari Jangkang. Suara lembut tapi kuat. Membawa tawa, senyum, dan haru. Dimulai dengan gurindam lagu, gembala suling gembaa. Nada mengikat pendengar.
Kunjungi dan nikmati DOLENG DONADO- PAOLUS HADI
Dengarkan gendang, dengarkan gong. Tung. Tung. Tung. Nada yang memanggil. Nada yang menuntun. Mengikat manusia dengan tanahnya.
Paolus Hadi bukan sekadar penyanyi. Ia ikon. Ia simbol. Lagu ini napas. Warisan. Kekal dalam denyut masyarakat. Dalam sejarah yang mengalir. Dalam budaya yang hidup.
Kini pelantun lagu “Doleng Donado” mengemban amanah sebagai wakil rakyat di Senayan melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
0 Comments