Emas atau Tanah? Rangkuman Diskusi di Grup WAG “Literasi Dayak”
| "Air kehidupan", tidak ada "emas kehidupan". Salah satu penampakan penambangan emas di pulau Kalimantan, Dokpen. |
Emas atau Tanah? Inilah Rangkuman diskusi di Grup WAG “Literasi Dayak".
Berawal dari percakapan yang berangkat dari kegelisahan sehari-hari. Lalu berkembang menjadi permenungan kolektif tentang arah hidup orang Dayak hari ini.
Di satu sisi, emas tampil sebagai jawaban cepat atas kebutuhan ekonomi. Emas tidak disangkal menghadirkan uang besar, rasa aman sesaat, dan kebanggaan baru yang terukur dalam angka milyar rupiah.
Di sisi lain, tanah muncul sebagai pertanyaan sunyi namun menentukan. Sebab di tanah pusakalah kehidupan jangka panjang berpijak, identitas diwariskan, dan keberlanjutan ditentukan.
Diskusi ini tidak mempertentangkan keduanya secara hitam-putih, melainkan membaca emas sebagai fase dan tanah sebagai fondasi. Sembari mengkritik pendidikan yang tercerabut dari realitas kampung dan menyerukan perubahan makna sekolah agar kembali relevan.
Rangkuman ini menegaskan satu simpul pemikiran: emas boleh diambil, tetapi tidak boleh menghabiskan tanah. Uang boleh dicari, tetapi harus diubah menjadi daya hidup. Dan orang Dayak hanya akan benar-benar berdaulat jika mampu menjadi tuan di tanahnya sendiri, bahkan setelah kilau emas benar-benar padam.
Grup WAG “Literasi Dayak" yang memantik pemikiran kritis-solutif
Diskusi itu bermula dari sebuah pesan sederhana di Grup WhatsApp "Literasi Dayak". Bukan esai panjang. Bukan teori akademik. Hanya keluhan yang terasa sangat nyata.
Keluhan seorang keluarga guru di kampung. Tentang bagaimana pandangan orang terhadap sekolah perlahan berubah. Tentang kalimat yang kini sering terdengar di beranda dan dapur kampung: buat apa sekolah tinggi-tinggi: Lihat guru hidupnya susah, sementara penambang emas pulang membawa ratusan juta, bahkan milyaran.
Pesan itu tidak ditulis dengan nada marah. Justru datar. Seolah sudah diterima sebagai kenyataan. Di situlah kegentingannya. Ketika sebuah ironi tidak lagi membuat orang terkejut, melainkan dianggap wajar.
Diskusi pun mengalir. Ada yang membela pendidikan. Ada yang membela realitas ekonomi. Ada pula yang memilih diam, mungkin karena tak tahu harus berpihak ke mana: Emas dan tanah. Sekolah dan tambang.
Masa depan dan kebutuhan hari ini. Semua bertemu dalam satu ruang digital, tetapi membawa beban hidup yang sangat konkret.
Diskusi ini bukan soal benar atau salah. Ini soal pilihan yang dihadapi orang Dayak hari ini. Pilihan yang tidak pernah hitam-putih.
Emas sebagai janji cepat serta daya pikat
Tak ada yang bisa menyangkal daya pikat emas. Satu kilogram emas hari ini bernilai lebih dari dua miliar rupiah. Angka yang bahkan sulit dibayangkan oleh banyak keluarga kampung. Uang ratusan juta terasa seperti mainan. Pembicaraan tentang milyar-milyar menjadi penanda status sosial baru.
Dalam konteks itu, sekolah tampak lamban. Terlalu lama. Terlalu jauh dari dapur dan kebutuhan harian. Guru menjadi simbol kegagalan janji pendidikan. Bukan karena mereka tidak bekerja keras, tetapi karena sistem yang tidak memihak mereka.
Di titik ini, emas tampak rasional. Bukan sebagai keserakahan, tetapi sebagai jalan keluar. Orang tidak sedang mengejar kemewahan. Mereka mengejar kepastian. Mereka ingin melihat hasil. Sekarang, bukan nanti.
Diskusi di WAG menyadarkan satu hal penting: orang Dayak tidak anti pendidikan. Mereka hanya sedang mempertanyakan relevansinya.
Ketika emas memberi hasil nyata, pendidikan dituntut untuk menjawab: Apa yang bisa kau beri selain ijazah?
Tanah yang diam-diam menjadi taruhan terbesar
Namun, di balik gemerlap emas, diskusi mulai berbelok ke arah yang lebih sunyi. Tentang tanah. Tentang lubang-lubang yang ditinggalkan tambang. Tentang sungai yang berubah warna. Tentang kebun yang tak lagi subur.
Emas, betapapun mahalnya, adalah tamu. Ia datang, diambil, lalu pergi. Tanah bukan tamu. Tanah adalah rumah.
Dalam diskusi itu muncul kesadaran bersama: setelah emas habis, yang tersisa hanyalah tanah. Jika tanah rusak, maka tak ada lagi tempat berpijak. Tak ada lagi sumber hidup. Tak ada lagi cerita yang bisa diwariskan.
Di titik ini, emas dan tanah tidak lagi dilihat sebagai lawan. Mereka dilihat sebagai dua fase. Emas adalah fase cepat. Tanah adalah fase panjang. Masalah muncul ketika fase cepat menghabiskan fase panjang.
Orang Dayak selama ratusan tahun hidup dari tanah. Berladang. Berkebun. Menjaga hutan. Bukan karena romantisme, tetapi karena pengetahuan ekologis yang diwariskan. Ketika tanah dijadikan taruhan demi emas, yang dipertaruhkan bukan hanya ekonomi, tetapi identitas dan keberlanjutan.
Sekolah yang perlu menemukan kembali maknanya
Diskusi di WAG tidak berhenti pada nostalgia. Ia bergerak ke arah yang lebih reflektif. Jika sekolah ingin kembali dipercaya, ia harus berubah fungsi. Sekolah tidak cukup hanya mencetak pegawai. Sekolah harus melahirkan manusia yang berdaya di tanahnya sendiri.
Pendidikan yang terputus dari realitas kampung akan selalu kalah oleh emas. Tapi pendidikan yang mengajarkan pengelolaan uang. Pengelolaan tanah. Perencanaan jangka panjang. Itulah pendidikan yang dibutuhkan.
Guru tidak seharusnya berdiri di menara gading. Guru perlu hadir sebagai penafsir hidup. Menjembatani emas hari ini dengan masa depan setelah emas habis. Sekolah harus mengajarkan bahwa uang besar tanpa pengetahuan hanya akan habis lebih cepat.
Di sinilah pendidikan menemukan kembali martabatnya. Bukan sebagai pesaing emas. Melainkan sebagai penuntun agar emas tidak berubah menjadi petaka.
Menjadi tuan di tanah sendiri
Diskusi panjang itu akhirnya menemukan satu simpul pemikiran. Solusi bukan menolak emas. Solusi bukan memuja sekolah secara buta. Solusinya adalah jalan tengah yang berakar pada kearifan lama.
Uang dari emas harus diubah menjadi aset hidup. Kebun produktif. Usaha kampung. Pendidikan anak. Infrastruktur bersama. Tanah tidak dijual. Tanah dijaga. Tanah diwariskan.
Kebanggaan baru perlu dibangun. Bukan lagi soal berapa milyar yang dibicarakan. Tetapi tentang siapa yang masih bisa hidup layak di kampungnya sendiri. Siapa yang tidak menjadi buruh di tanah leluhur.
Diskusi di Grup WAG "Literasi Dayak" itu mungkin hanya percakapan digital. Tapi ia mencerminkan pergulatan besar orang Dayak hari ini.
Pergulatan antara cepat dan lambat. Antara hari ini dan esok. Antara emas yang berkilau dan tanah yang diam-diam menyimpan kehidupan.
Narasi ini tidak menawarkan jawaban final. Ia hanya mengajak berhenti sejenak. Berpikir lebih panjang. Karena setelah emas habis, satu-satunya yang tersisa adalah pilihan yang kita buat hari ini. Dan tanah. Yang selalu setia menunggu.
Penulis: Masri Sareb Putra
0 Comments