Ngayau Masa Kini

 Catatan tentang Daya Tahan, Ingatan, dan Perlawanan Orang Dayak

Ngayau Masa Kini
Ngayau masa kini: memerangi kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan bentuk penjajahan baru. Ist.

Kata "ngayau" (yau, mencari, mendapatkan kemenangan, pergi berperang, mempertahankan wilayah dan klan) di kalangan sukubangsa Dayak sering dibawa ke ruang publik sebagai fosil sejarah. 

Ngayau dipadatkan. Disederhanakan. Lalu diletakkan di masa lalu. Seolah tugasnya telah selesai. 

Padahal, dalam kebudayaan Dayak, ngayau bukan sekadar peristiwa, melainkan cara memahami hidup. Ia adalah sikap batin yang lahir dari pengalaman panjang berhadapan dengan kehilangan.

Dalam pengertian itu, ngayau adalah kerja mengingat. Ia menjaga manusia agar tidak mudah dilucuti dari haknya, tidak cepat lupa pada tanah tempat ia dilahirkan. Yang diwariskan leluhur bukan hanya ruang hidup, tetapi kewaspadaan. Sebuah kesadaran bahwa hidup selalu berada di persimpangan antara bertahan dan tersingkir.

Hari ini, ngayau tidak lagi berlangsung dalam bentuk benturan fisik. Ia hadir di ruang yang lebih sepi. Ketika sebuah keluarga Dayak berusaha mengurus sertifikat tanah, duduk berjam-jam di kantor administrasi, menghadapi bahasa hukum yang asing dan prosedur yang berbelit, di situlah ngayau bekerja. Yang dilawan bukan musuh yang tampak, melainkan sistem yang perlahan menggerus hak.

Setiap berkas yang diselamatkan, setiap tapal batas yang diakui, adalah hasil dari perlawanan tanpa sorak. Tidak ada heroisme. Yang ada hanya ketekunan, dan keyakinan bahwa tanah bukan sekadar aset, melainkan bagian dari tubuh sosial.

Hutan dan Pertarungan Tanpa Genderang

Hutan Borneo tidak runtuh dalam satu ledakan. Ia menyusut sedikit demi sedikit, melalui kebiasaan yang dinormalisasi. Alat berat datang tanpa amarah, hanya rutinitas. Suara mesin menggantikan bunyi burung, dan pelan-pelan sunyi yang lain pun lahir.

Menjaga hutan, dalam situasi seperti itu, bukan tindakan romantik. Ia adalah keputusan panjang yang menuntut konsistensi. Menolak menjual tanah, mempertahankan tembawang, menjaga sungai agar tetap mengalir jernih, semuanya adalah ngayau dalam wujud yang baru. Tidak gagah, tetapi tegas.

Bertahan di tanah sendiri kini menjadi tindakan yang sarat risiko. Investor membawa janji kemakmuran, pengusaha tambang membawa angka, birokrasi membawa legitimasi. Mereka berbicara atas nama pembangunan, seolah hanya ada satu jalan menuju masa depan. Dalam keadaan seperti itu, memilih tetap tinggal adalah bentuk keberanian yang jarang dicatat.

Pengakuan wilayah adat pun bukan urusan simbolik. Ia adalah upaya mengembalikan relasi antara manusia dan ruang hidupnya. Peta resmi sering lupa bahwa sebelum garis ditarik, ada cerita yang sudah lebih dulu hidup. Menghadirkan kembali cerita itu ke hadapan negara adalah ngayau yang menuntut kesabaran panjang.

Pengetahuan sebagai Jalan Sunyi

Bagi banyak orang Dayak, sekolah adalah perjalanan menjauh. Ia membuka pintu dunia, tetapi sekaligus menciptakan jarak dengan kampung halaman. Bahasa ibu menjadi aksen, pengetahuan lokal dianggap tambahan, bukan pusat. Tidak semua mampu melewati proses ini tanpa luka.

Namun justru di situlah ngayau berlangsung dalam bentuk paling halus. Bertahan dalam pendidikan, menyelesaikan kuliah, membaca buku-buku yang tidak selalu memihak pengalaman sendiri, semua itu adalah perburuan makna. Ia tidak selalu berakhir dengan kepulangan. Kadang malah menghasilkan keterasingan baru.

Berusaha, membangun ekonomi keluarga tanpa menjual tanah, mengelola koperasi, menghidupi komunitas secara mandiri, juga bagian dari ngayau. Dalam kerja keras, ada perlawanan terhadap ketidakpastian. Tidak spektakuler, tetapi menentukan.

Menulis adalah bentuk ngayau yang lain. Setiap kalimat yang dicatat adalah pernyataan bahwa suatu kehidupan layak dikenang. Dalam menulis, seseorang menolak dihapus. Ia berkata, dengan suara yang mungkin kecil, tetapi tegas, bahwa ia masih ada dan masih berpikir.

Literasi, pada akhirnya, adalah perlawanan terhadap lupa. Membaca ulang sejarah, menafsir ulang tradisi, mengoreksi narasi yang timpang, semuanya adalah kerja yang menuntut keberanian intelektual. Sebab berpikir, dalam banyak konteks, selalu dianggap mengganggu.

Ngayau yang Tidak Mati

Apakah ngayau hanya tinggal cerita masa lalu, dihias romantisme, lalu disimpan rapi dalam arsip budaya. Ataukah ia masih berdenyut dalam kehidupan hari ini.

Tradisi yang hidup bukan tradisi yang membeku. Ia berubah, beradaptasi, tanpa kehilangan arah. Ngayau hari ini bukan tentang mengalahkan tubuh lain, melainkan mengatasi keadaan. Ia menuntut ketajaman membaca situasi dan keberanian mengambil keputusan.

Di dunia politik, ngayau hadir sebagai kecakapan membaca momentum. Di dunia seni, ia menjelma pencarian identitas dan upaya merawat ingatan. Di dunia digital, ia berubah lagi. Ide menjadi senjata, kecepatan menjadi penentu.

Persaingan kini terjadi di ruang maya, di jaringan yang tak terlihat. Siapa yang lambat tertinggal. Siapa yang gagal membaca perubahan, tersingkir. Ngayau di zaman ini adalah strategi berpikir, bukan adu tenaga.

Dan mungkin yang paling sulit adalah berbuat baik. Di dunia yang penuh tipu daya, kebaikan sering dianggap kelemahan. Padahal memilih tetap jujur, tetap adil, tetap berpihak pada yang rapuh, adalah ngayau paling berani. Ia melawan arus tanpa jaminan kemenangan.

Ngayau tidak mati. Ia hanya berpindah tempat. Dari hutan ke ruang kelas, dari medan terbuka ke meja tulis, dari senjata ke kesadaran. 

Selama masih ada manusia yang menolak menyerah pada penghapusan, ngayau akan terus menemukan bentuknya.

Jakarta, 16 Januari 2026


0 Comments

Type above and press Enter to search.