Willie Mongin : Kami Makan Babi, tetapi Tidak Rasuah
Willie Mongin menekankan bagaimana manusia memperlakukan manusia lain dan apa yang esensi dalam hidup. Kredit gambar: Fb MalaysiaStory.
Di ruang Dewan Rakyat yang kerap dipenuhi perdebatan teknis dan retorika politik, Ahli Parlimen Puncak Borneo, Willie Mongin dari GPS, menyampaikan sebuah pernyataan yang terdengar sederhana namun menggugah. Ia tidak berbicara tentang anggaran atau kuasa, melainkan tentang makanan.
Pernyataan itu menyentuh cara masyarakat menilai dan memperlakukan sesamanya.
Makanan dan Prasangka Moral
Willie mengawali dengan pengalaman komunitas Dayak yang, menurutnya, tidak pernah menghina atau merendahkan pilihan makanan etnik lain. Namun dalam praktik sosial, mereka justru kerap menjadi sasaran kritik hanya karena mengonsumsi daging babi, sebuah pilihan pangan yang berakar pada tradisi dan budaya.
Di titik inilah, ujar Willie, persoalan makanan sering kali bergeser menjadi penilaian moral. Apa yang dimakan seolah-olah dijadikan ukuran tentang baik dan buruk seseorang. Padahal, pilihan makanan adalah bagian dari identitas budaya, bukan indikator etika atau integritas pribadi.
Integritas yang Kerap Terabaikan
Willie kemudian mengajak hadirin melihat hal yang lebih substantif. Di komunitas Dayak, katanya, tidak banyak yang terlibat rasuah, tidak banyak yang terjerumus narkoba, dan tidak hidup dalam perilaku yang merusak tatanan sosial.
Nilai-nilai hidup yang dijaga justru sering luput dari perhatian, tertutup oleh stigma atas satu aspek yang sangat kasatmata, yaitu makanan.
Di sini, Willie menyentil paradoks sosial yang lebih luas. Banyak orang begitu keras menolak sesuatu yang dianggap tidak bersih di meja makan, tetapi bersikap longgar, bahkan permisif, terhadap rasuah dan penyalahgunaan kuasa. Moralitas seakan-akan disempitkan pada simbol, bukan pada tindakan nyata.
Harmoni dalam Perbedaan Sehari-hari
Untuk menegaskan pesannya, Willie membandingkan aroma daging babi dengan bau beberapa makanan lokal seperti budu dan belacan yang dikenal kuat. Namun, katanya, perbedaan itu tidak pernah menjadi alasan bagi komunitasnya untuk merendahkan budaya orang lain. Justru penghormatan terhadap keragaman kuliner dianggap sebagai bagian dari hidup bersama.
Inti seruan Willie sederhana, tetapi mendasar. Jangan kaitkan makanan dengan martabat manusia.
Dalam masyarakat majemuk seperti Malaysia, harmoni tidak dibangun melalui penyeragaman selera, melainkan melalui kesediaan saling menghormati perbedaan yang nyata dan hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk yang ada di meja makan.
Pernyataan itu, pada akhirnya, bukan soal babi atau tidak babi. Ia adalah pengingat bahwa ukuran moral sebuah masyarakat terletak pada kejujuran, keadilan, dan saling menghormati. Bukan pada apa yang dikonsumsi, tetapi pada bagaimana manusia memperlakukan manusia lain. (X-5/dayaktoday.com)
Sumber: MalaysiaStory, Facebook
0 Comments