7 Destinasi Ekowisata Sekadau yang Wajib Kamu Kunjungi
| Sekadau: Sebongkah tanah yang jatuh dari Taman Eden dengan 7 Destinasi Ekowisata yang wajib kamu kunjungi. Ist. |
Oleh Masri Sareb Putra
Sekadau. Sebongkah tanah yang jatuh dari Taman Eden. Kita saja yang kadang tak melihat indah serta membuka hati pada pesonanya. Karena berada di dalam sebagai bagian dari semesta. Lalu menyatu dengan nuansa alamnya.
Ungkapan ini terdengar berlebih?
Ya! Saya pun pernah meragukannya. Sebelum kaki benar-benar menapak tanahnya. Sebelum mata menyaksikan sendiri bagaimana sungai berkilau ditimpa cahaya, batu-batu purba terhampar bagai disusun tangan raksasa, dan hutan tropis berdiri sebagai katedral alam yang hening.
Berdarmawisatalah ke Sekadau
Kini musim libur tiba. Sudahkah Anda merancang perjalanan?
Jika belum, izinkan saya mengajak Anda menyusuri tujuh titik cahaya di Bumi Lawang Kuwari, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Bukan sekadar pelesiran. Ini perjalanan menyentuh akar, menyapa alam, dan menemukan kembali diri yang kerap hilang dalam riuh zaman.
Bila Anda mengaku pencinta ekowisata, atau petualang yang rindu pengalaman otentik, camkan ini baik-baik. Tujuh destinasi ini bukan sekadar tempat. Ia adalah kisah. Ia adalah lanskap yang menyimpan memori kolektif. Nulli secundus. Tiada duanya.
1. Batu Jato’: Batu yang Telah Lama Jatuh
Namanya sederhana: Batu Jato’. Batu jatuh. Untunglah ia jatuh entah kapan, jauh sebelum kita lahir. Nenek moyang orang Sekadau sudah menyaksikan hamparan batu-batu bulat itu, seolah gugusan meteor yang memilih sungai sebagai peraduan terakhirnya.
Terletak di Desa Pantok, Kecamatan Nanga Taman, sekitar 12 kilometer dari pusat kecamatan, akses menuju lokasi sudah beraspal baik. Namun yang membuat orang terpukau bukan sekadar kemudahan jalan, melainkan komposisi alamnya. Batu-batu bulat besar, terserak alami di sungai yang jernih. Seperti disusun oleh kurator agung bernama alam.
Di sini, kita belajar satu hal: keindahan tidak selalu dicipta. Ia ditemukan.
2. Sirin Meragun: Laboratorium Hidup
Di hulu yang sunyi, tanpa pemukiman di sekitarnya, Sirin Meragun berdiri sebagai lanskap yang masih perawan. Asri. Alami. Belum terjamah hiruk-pikuk komersialisasi.
Bagi mereka yang memiliki natural smart, kecerdasan mencintai dan membaca alam, Sirin Meragun adalah laboratorium hidup. Hutan tropisnya menyimpan flora dan fauna yang belum tentu seluruhnya terpetakan. Berapa jenis serangga hidup di sana? Bagaimana habitat sengkubak bertahan? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar akademik, tetapi undangan untuk menyelam lebih dalam.
Lokasinya di Desa Meragun, Kecamatan Nanga Taman. Datanglah bukan hanya sebagai pelancong, melainkan sebagai peziarah pengetahuan.
3. Kalai Susu: Air yang Menjadi Filsafat
Kalai Susu. Namanya lahir dari rupa. Air terjun yang memercik putih seperti susu. Tidak terlalu tinggi, tetapi justru di situlah magnitnya. Daya tarik yang membuat orang kembali.
Dasarnya cadas batu yang kokoh. Air jatuh tanpa henti, namun tak mampu mengikisnya. Dari perjumpaan antara kekokohan dan aliran itu, lahirlah percik putih yang memesona.
Di sini, Heraclitus seakan berbisik: *panta rhei kai ouden menei*. Segala sesuatu mengalir dan berubah. Yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri. Air mengalir. Waktu berjalan. Manusia bertumbuh. Namun batu tetap teguh.
Lokasinya di Lubuk Tajau, Kecamatan Nanga Taman. Tempat yang cocok bagi perenung, seniman, dan siapa saja yang ingin berdialog dengan dirinya sendiri.
4. Semirah Putih: Buih yang Menyejukkan Jiwa
Namanya persis wujudnya. Semirah Putih. Air terjun dengan buih-buih putih yang jatuh serentak dari ketinggian. Suaranya bukan sekadar gemuruh, melainkan musik alam.
Terletak di Desa Tinting Boyok, Kecamatan Sekadau Hulu, Semirah Putih menghadirkan kesejukan yang bukan hanya menyentuh kulit, tetapi juga batin. Hawa segar bertebaran. Kabut air membelai wajah.
Di sana, mimpi dan nyata seakan bertukar tempat. Kita terbuai, namun justru paling sadar akan keberadaan diri.
5. Lawang Kuwari: Gerbang Sejarah
Jika Anda mencintai sejarah, Lawang Kuwari adalah pintu masuknya. Di sinilah jejak Kerajaan Sekadau pernah bernaung. Untuk mencapainya, kita harus menyeberangi Sungai Kapuas dengan speed boat. Sungai terpanjang di Indonesia itu mengalir tenang namun berwibawa, membawa air hingga ke samudera di Pontianak.
Pada masa silam, tempat ini menjadi persembunyian dan pertapaan Pangeran Agong. Kini ia dibangun sebagai representasi sejarah Sekadau. Museum hidup yang mempertemukan masa lalu dan masa kini.
Nama Lawang Kuwari hari ini menjadi ikon. Terminal, pasar rakyat, ruang publik menyandang namanya. Sebuah penanda bahwa sejarah bukan untuk dikenang saja, melainkan dihidupi.
Lokasinya di Desa Seberang Kapuas, Kecamatan Sekadau Hilir.
6. Taman Kelempiau: Rekreasi dan Belarasa
Di Tapang Sambas, sekitar 27 kilometer dari kota Sekadau, berdiri Taman Kelempiau. Ekowisata milik Gerakan Credit Union Keling Kumang. Di sini keluarga-keluarga berkumpul. Rekreasi air tersedia. Bungalow dan penginapan bisa disewa. Kuliner khas Dayak tersaji. Buah tangan pun bisa dibawa pulang.
Atraksi kelempiau sering mengundang tawa. Tingkahnya lincah. Menggemaskan.
Pada Maret 2023, kawasan ini dipadati ribuan orang dalam Keling Kumang Festival dan Iban Summit II. Lebih dari 25.000 pengunjung hadir. Sebuah bukti bahwa rekreasi bisa menyatukan orang dalam semangat belarasa dan kebersamaan.
Datanglah. Rasakan kesegaran yang memulihkan. Re-kreasi: kembali mencipta diri yang segar.
7. Batu Tinggi: Lagu dan Kenangan
Saat kemarau tiba, Batu Tinggi menampakkan wajah eksotiknya. Di tengah kota Sekadau, kita masih bisa menyaksikan hutan di tepian sungai. Dari sini, matahari terbit dan tenggelam menjadi peristiwa yang layak untuk dinikmati.
Ada lagu tentang Batu Tinggi. Berirama rentak Senganan. Tentang rindu yang mengigau dalam tidur. Tentang abang di rantau. Tentang kenangan yang tak lekang.
Baca Batu Tinggi
Di Batu Tinggi, alam bukan hanya panorama. Ia adalah memori. Ia adalah rasa.
Itulah tujuh destinasi andalan Sekadau. Bukan sekadar daftar wisata, melainkan tujuh alasan untuk datang dan membuktikan.
Jika Anda masih ragu, jangan berdebat panjang. Datanglah. Injak tanahnya. Dengarkan sungainya. Rasakan hutannya.
Barulah Anda akan mengerti. Mengapa Sekadau layak disebut "sepotong tanah yang jatuh dari Eden".
0 Comments