Balai Sebut dan Jangkang dalam Catatan Misionaris dan Pelancong Barat
| Sungai Mengkiang dan jamban yang multifungsi di Balai Sebut, Kabupaten Sanggau. Dokpen. |
Oleh Masri Sareb Putra
Di tepian Sungai Mengkiang, sebuah jamban berdiri sederhana. Ia tampak dari jembatan, tanpa rasa perlu menyembunyikan diri.
Di sanalah orang Balai Sebut mandi, mencuci, dan membuang hajat. Pemandangan ini bukan sekadar detail kebersihan, melainkan potret cara manusia berhubungan dengan air dan alam.
Sungai menjadi ruang hidup bersama
Sungai menjadi ruang hidup bersama, tempat kebutuhan paling dasar manusia dipenuhi, sekaligus ruang sosial yang tak tertulis dalam peta administrasi. Air mengalir membawa tubuh, waktu, dan ingatan, menyatukan generasi demi generasi tanpa pernah menuntut penjelasan.
Bagi orang Balai Sebut, sungai adalah halaman depan rumah. Dari sanalah mereka berangkat dan pulang, mengambil ikan, mandi sore, dan bercakap ringan.
Sungai bukan sekadar latar, melainkan pelaku utama dalam sejarah lokal. Sungai menghubungkan kampung dengan kampung, hulu dengan hilir, dan masa lalu dengan hari ini. Ketika perahu lewat perlahan, riak air menyimpan cerita yang jarang dituliskan, namun terus hidup dalam kebiasaan.
Catatan Harian Seorang Misionaris
Untunglah ada sebuah buku yang membuka jendela itu. Mijn Leven met de Daya, catatan harian Pastor Herman Josef van Hulten. Buku ini terdiri atas dua jilid dan terbit terbatas pada tahun 1983 dalam bahasa Belanda.
Lebih beruntung lagi ketika buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan PT Grasindo pada 1992.
Kata "untung" di sini bukan sekadar kebetulan penerbitan, melainkan kesempatan membaca diri sendiri melalui mata orang lain.
Dalam buku itu, Van Hulten menuliskan kesan pertamanya tentang Balai Sebut, Jangkang, dan penduduknya. Catatan tersebut lahir dari pengalaman langsung, dari perjalanan kaki yang panjang, dari tatapan pertama pada wajah wajah yang asing baginya.
Kesan orang luar sering kali terasa mentah, belum dipoles kepentingan, sehingga justru menghadirkan kejujuran yang langka. Ia mencatat pertemuan, kecurigaan, keramahan, dan jarak yang terjaga.
Potongan catatan Van Hulten tentang perjumpaannya dengan pemimpin Balai Sebut memperlihatkan suasana yang tegang namun tertib. Bahasa Belanda bercampur Melayu, hukum kolonial bertemu adat lokal, dan seorang pastor berdiri di antara dua dunia. Dari situ kita belajar bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh peristiwa besar, melainkan oleh percakapan kecil yang menentukan arah hubungan antar manusia.
Jangkang dalam Lintasan Kolonial
Pada masa kolonial hingga pendudukan Jepang, Jangkang relatif luput dari perhatian pemerintah jajahan. Bukan karena tak penting, melainkan karena terlalu jauh dari pusat kekuasaan. Luasnya Borneo membuat wilayah ini seperti berada di pinggir peta.
Pada masa itu, Borneo bahkan belum menjadi wilayah kolonial tersendiri. Baru pada tahun 1936 ditetapkan Ordonantie pembentukan Gouvernementen Sumatra, Borneo en de Groote Oost.
Dalam struktur tersebut, Borneo Barat menjadi sebuah karesidenan dengan pusat pemerintahan di Banjarmasin. Dua tahun kemudian wilayah Borneo dibagi lagi menjadi dua residensi, yakni Zuideen en Oosterafdeling dengan ibu kota Banjarmasin dan Westerafdeling dengan ibu kota Pontianak.
Pembagian administratif ini menunjukkan bagaimana kekuasaan kolonial mencoba menata ruang yang luas dan beragam, meski sering kali tertinggal dari kenyataan di lapangan.
Bagi orang Jangkang, perubahan administratif itu terasa jauh. Kehidupan tetap berjalan mengikuti irama alam dan adat. Sejarah resmi datang belakangan, sementara ingatan kolektif sudah lama tertanam dalam cerita lisan, jalur sungai, dan jejak langkah kaki.
Menyebut pemukiman Sinan
Akan tetapi, sumber tertulis seperti catatan seorang misionaris asal Belanda, Herman Josef van Hulten tahun 1940-an, sudah menyebut pemukiman Melayu ini.
Dengan sedikit mendeskripsikan kekurangsenangan pemimpin Melayu pada misonaris Belanda, Herman antara lain mencatat,
“…Maar weer terug naar Jangkang –tweemaal 70 km te voet, voor niks en strakjes weer opnieuw! Na een half jaar de tweede oproep; weer die 70 km afleggen. Ik sta weer voor het gebow en weer in habijt. Tientallen mensen staan te wachten. Eindelijk hoor ik duidelijk de naam Bong, burgemeester van Balai- Sebut, dus nu moet mijn naam ook volgen. Dan reoept iemand: “Pastor Herman van Jangkang”. Aller ogen zijn op mij gericht; ik ga de trap op, waar Bong al op het bankje zit en mij de plaats naast hem wordt aangewezen. De twee rechters zijn zeer vriendelijk en wensen mij n.b. in Nederlands goedemorgen, wat ik ook vriendelijk beantwoord, terwijl zij mij de hand geven. Een van de twee rechters –ze spreken nog steeds in het Nederlands—vraagt mij eerst een eed af te legen—wat gebeurt. Daarop: “Pastor Herman, vertelt U eens wat er is gebeurt… De rechter herhaale dit in het Maleis en zei erbij van nu af de Malaise taal te gebruiken, zodat de heer Bong het ook zou kunnen volgen. Nu gaf de rechter de heer Bong de gelegenheid om er iets tegenin te brengen….” (Hulten, 1983: 248-249).
Sungai Mengkiang dan Jejak Kekuasaan
Jangkang terletak di kaki Gunung Bengkawan. Udaranya sejuk, lanskapnya tenang, dan panorama alamnya memanjakan mata. Jarak Jangkang ke Balai Sebut sekitar tujuh kilometer, namun hingga tahun 1980 jarak itu terasa panjang.
Transportasi hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, bersepeda, atau sepeda motor. Hubungan dengan dunia luar bergantung pada transportasi air yang memakan waktu belasan jam, bahkan mengharuskan menginap di perjalanan.
Jika musim kemarau datang dan perahu terdampar di Riam Keboda, perjalanan menjadi lebih lama. Tak jarang orang Jangkang memilih berjalan kaki ke Sanggau. Melintasi kampung Sekantut, Parai, Jeropet, Jungur Tanjung, Entakai, hingga tiba di kota.
Jalan kaki menjadi bentuk ketekunan, sekaligus penanda jarak kultural dari pusat kekuasaan.
Sungai Mengkiang, yang juga disebut Moncakng, memegang peran strategis. Sungai ini kaya ikan seperti lais, baong, tuman, tapah, dan seluang.
Orang Jangkang dan Sinan Balai Sebut menangkap ikan bersama tanpa pertikaian. Ada kesepakatan tak tertulis untuk tidak mengambil ikan yang sudah masuk alat tangkap orang lain. Etika ini menunjukkan cara hidup yang mengedepankan keseimbangan dan saling menghormati.
Lebih dari itu, muara Sungai Mengkiang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sanggau. Dari masa Dara Nante hingga Sultan Muhammad Jamaluddin, pusat kekuasaan berpindah, namun sungai tetap menjadi saksi.
Dari muara inilah pemukiman tumbuh dan sejarah lokal berlapis lapis terbentuk.
Sinan, Melayu, dan Jalan Akulturasi
Di sepanjang pesisir Sungai Mengkiang bermukim etnis yang dikenal sebagai Sinan atau Senganan. Mereka kemudian disebut Melayu Balai Sebut, meski akar leluhurnya berkelindan dengan Dayak.
Perkampungan Melayu paling hulu adalah Balai Sebut, yang kini menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Jangkang. Pada tahun 1970-an, sekitar sembilan puluh persen penduduknya Melayu, sisanya Dayak dan sebagian kecil Tionghoa sebelum kemudian berpindah ke kota.
Kini komposisi itu berubah. Warga Balai Sebut separuhnya Dayak, yang bermukim agak menjauh dari tepi sungai sesuai kebiasaan lama. Karena itu mereka disebut Sidak Darat oleh Melayu setempat. Pola pemukiman ini membuat para pengamat asing menyebut mereka Land Dayak, karena lebih menyukai daratan daripada tepian sungai.
Catatan tertulis tentang awal pemukiman Sinan di Balai Sebut memang terbatas. Namun catatan Van Hulten pada 1940-an sudah menyebut keberadaan mereka dan relasi yang tidak selalu mulus dengan misionaris asing. Ada kekurangsenangan dari sebagian pemimpin Melayu terhadap kehadiran pastor Belanda. Namun sejarah tidak berhenti pada ketegangan itu.
Buktinya, ketika gereja dan sekolah Jangkang pertama kali dibangun, para tukang yang mengerjakannya adalah orang Melayu Balai Sebut. Mereka membangun tempat ibadah yang bukan milik iman mereka, karena keterampilan bertukang memang menjadi keahlian yang diwariskan. Sampan, perahu motor, kusen rumah, dan bangunan kayu di pesisir Mengkiang menjadi saksi keterampilan itu.
Sangat mungkin kekurangsenangan sebagian pemimpin Melayu dipengaruhi rasa iri, mengapa misionaris lebih banyak membantu Dayak. Pada masa itu, Melayu sudah memeluk Islam, sementara Dayak umumnya masih menganut kepercayaan leluhur.
Dayak menjadi prioritas evangelisasi. Namun para misionaris, seperti Herman, memilih jalan persuasif. Mereka hidup bersama orang Dayak, menyesuaikan diri dengan pola hidup setempat, berpikir dan bertindak seperti mereka.
Dalam istilah antropologi, itulah akulturasi dan adaptasi. Dalam bahasa yang lebih sederhana, para misionaris belajar hadir tanpa meniadakan. Mereka masuk bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai sesama manusia yang berjalan perlahan menyusuri sungai sejarah.
0 Comments