Bedah Buku “Defense Heritage” Angkat Warisan Pertahanan Lewat Perspektif Literasi di Movieland Lobby, Cikarang
| Bedah Buku Defense Heritage. Ist. |
JAKARTA, Dayak Today — Warisan pertahanan tidak hanya berbicara tentang strategi militer dan kekuatan persenjataan.
Warisan pertahanan juga menyimpan jejak sejarah, identitas kebangsaan, serta narasi budaya yang membentuk cara suatu bangsa memahami dirinya.
Perspektif itulah yang akan diangkat dalam "Seminar & Discussion of The Defense Heritage Newest Book" pada 26 Februari 2026 di Movieland Lobby, Cikarang.
Pertahanan Bangsa dalam Perspektif Literasi dan Sejarah
Melalui tema “Unpacking Defense Heritage Through Literature”, seminar ini menempatkan literasi sebagai pintu masuk membaca ulang konsep pertahanan.
Buku yang dibedah berupaya menunjukkan bahwa pertahanan bukan sekadar urusan taktik dan alutsista, melainkan juga soal memori kolektif, nilai, dan konstruksi sejarah yang diwariskan lintas generasi.
Dalam konteks ini, pendekatan arkeologi sejarah dan kajian literatur menjadi relevan. Warisan pertahanan dipahami sebagai bagian dari kebudayaan, yang membentuk karakter bangsa dan kesadaran kebangsaan.
Diskursus ini diharapkan memperluas pemahaman publik bahwa kekuatan nasional bertumpu pula pada narasi dan pengetahuan.
Kolaborasi Akademisi Bahas Defense Heritage Secara Multidisipliner
Kegiatan ini menghadirkan akademisi dan praktisi dari berbagai bidang. Dr. Wuri Handoko dari BRIN akan menyoroti dimensi arkeologi sejarah sebagai fondasi memahami sistem pertahanan masa lampau.
Sementara itu, Dr. Saparudin Barus dari Universitas Pertahanan RI akan mengulas sejarah militer dalam konteks pertahanan nasional modern.
Ridwan, Ph.D., dari Universitas Islam Internasional Indonesia, dijadwalkan membedah aspek politik global dan dinamika geopolitik kontemporer. Diskusi akan dipandu oleh Muhammad Farid, S.S., M.P.A., dosen hubungan internasional President University.
Pada sesi pembukaan, Ir. Petrus Gunarsa, M.Sc., Ph.D., Masri Sareb Putra, M.A., serta Mering Alexander turut memberikan pengantar yang menegaskan pentingnya literasi sebagai medium membangun kesadaran strategis.
Kolaborasi lintas disiplin ini menunjukkan bahwa “defense heritage” adalah isu kompleks yang memerlukan pembacaan menyeluruh.
Bedah Buku Jadi Ruang Jejaring dan Penguatan Wacana Kebangsaan
Di samping forum akademik, kegiatan ini juga menjadi ruang membangun jejaring intelektual.
Momentum Ramadan memberi warna tersendiri karena peserta akan berbuka puasa bersama setelah diskusi. Panitia menyebutkan, manfaat yang ditawarkan tidak hanya pengetahuan, tetapi juga relasi dan refleksi bersama.
Acara ini terbuka untuk umum dengan jumlah kursi terbatas.
Pendaftaran dilakukan secara daring melalui tautan resmi yang tertera pada materi publikasi.
Melalui forum ini, warisan pertahanan diharapkan tidak berhenti sebagai arsip atau dokumen sejarah, tetapi menjadi sumber pembelajaran untuk memperkuat wawasan kebangsaan. Sebab, kekuatan bangsa bukan hanya soal daya gentar militer, melainkan juga kesadaran sejarah dan kedalaman literasi masyarakatnya.
0 Comments