Buah Lae dan Tali Persahabatan yang Terikat Tulus dari Yansen TP
| Lae, buah pengikat tali persahabatan dari Yansen TP kepada 3 sahabatnya di Jakarta. Dokpen. |
Persahabatan tulus itu kadang hadir dalam bentuk sederhana, seperti kiriman pekawai khas Borneo yang membawa lebih dari sekadar rasa, tetapi juga ingatan dan perhatian. Dari sana lahir refleksi makna literasi Indonesia sebagai ruang berbagi jiwa, bukan sekadar bertukar kata.
Persahabatan tidak pernah lahir dari keramaian. Ia tumbuh dalam jeda. Dalam kesunyian yang dibiarkan bekerja.
Kami berempat.
Urutan usia hanya penanda waktu. Bukan ukuran kedalaman.
Empat sekawan pegiat literasi
Kami menyebut diri Espelindo. Empat sekawan pegiat literasi. Namun sebutan itu sebenarnya terlalu tipis untuk menampung apa yang mengikat kami. Sebab yang menyatukan bukan hanya gagasan. Bukan sekadar buku. Melainkan kesediaan untuk tinggal dalam percakapan yang panjang. Kadang keras. Kadang lirih. Kadang hanya diam yang saling mengerti.
Dalam dunia yang gemar bergegas, kami memilih lambat. Dalam zaman yang gemar menghitung, kami belajar memberi tanpa kalkulasi.
Persahabatan, barangkali, adalah bentuk lain dari iman. Ia tidak selalu terlihat. Tetapi ia menggerakkan.
Sebelas dan kelimpahan yang tak dijanjikan
Suatu hari sebuah box tiba di Tangerang. Dikirim dari jauh. Dari tanah yang menyimpan akar dan kenangan.
Isinya buah lae. Pekawai. Dalam bahasa botani dikenal sebagai (Durio kutejensis). Kerabat durian. Namun dengan rasa yang lebih lembut. Lebih halus. Seperti tidak ingin memaksa.
Kata Yansen, awalnya tujuh. Angka ganjil. Sulit dibagi rata.
Tetapi hidup jarang berhenti pada rencana pertama.
Ketika kardus itu dibuka, jumlahnya sebelas.
Sebelas.
Ada sesuatu yang sunyi tetapi dalam pada angka itu. Sebuah isyarat bahwa kebaikan sering datang lebih banyak dari yang dijanjikan. Bahwa ketulusan tidak pernah berhitung secara sempit.
Buah lae memiliki kulit yang rada lembut dibanding durian. Jika masih mentah, ia tidak mudah ditembus. Seperti manusia yang ditempa pengalaman. Namun di balik keras itu ada daging yang lembut. Manis dengan sedikit pahit di ujung. Seperti persahabatan yang matang. Tidak selalu manis. Tetapi jujur.
Buah-buah lae itu kemudian dibagi-bagi. Tidak seperti paralon yang mengantar air makin ke ujung makin kecil. Pembagian kali ini justru terbalik. Makin ke ujung makin banyak. Makin diberikan makin terasa cukup.
Di situlah filsafat sederhana bekerja. Bahwa kelimpahan bukan soal jumlah. Ia soal hati yang tidak takut kehilangan.
Tali yang tidak tampak tetapi mengikat
Apa sebenarnya yang dikirim Yansen. Buah. Atau ingatan.
Barangkali keduanya.
Sebab setiap kiriman selalu membawa makna yang tak tertulis. Ia membawa jejak tanah. Aroma kampung halaman. Dan pesan yang tidak perlu diumumkan.
Persahabatan bukan kontrak. Ia bukan perjanjian tertulis. Ia adalah tali yang tidak tampak tetapi mengikat. Tidak mencekik. Tidak menahan. Hanya menjaga agar kita tidak tercerabut dari akar.
Dalam dunia yang semakin cair. Yang relasinya mudah putus. Yang komitmennya tipis seperti kabut pagi. Sebelas buah lae itu terasa seperti pernyataan diam. Bahwa masih ada ketulusan yang tidak dipamerkan. Masih ada perhatian yang tidak disiarkan.
Buahnya mungkin telah habis. Dimakan. Dibagi. Dikenang sebentar.
Tetapi maknanya tinggal.
Dan mungkin di situlah inti persahabatan. Bukan pada apa yang tampak di meja. Melainkan pada apa yang tumbuh di dalam dada. Sebuah rasa cukup. Sebuah keyakinan tenang. Bahwa tali itu masih terikat.
Dengan tulus.
Tangerang, 26 Februari 2025
0 Comments