Buku "Eksploitasi Dayak Masa ke Masa" Diserahkan kepada Kardinal Ignatius Suharyo oleh Petrus Gunarso

 

Petrus Gunarso menyerahkan buku Eksploitasi Dayak Masa ke Masa kepada Kardinal Ignatius Suharyo
Petrus Gunarso menyerahkan buku Eksploitasi Dayak Masa ke Masa kepada Kardinal Ignatius Suharyo. Kredit gambar: rmsp.

Petrus Gunarso menyerahkan buku Eksploitasi Dayak Masa ke Masa kepada Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta. Penyerahan dilakukan dalam kapasitasnya sebagai salah satu board director Penerbit Literasi Dayak sekaligus pemberi kata pengantar buku tersebut.

Penyerahan buku itu berlangsung di Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu siang, 8 Februari 2026. Peristiwa langka di sela-sela kardinal usai memimpin Misa Hari Perkawinan Sedunia. Momentum penyerahaan berlangsung seketika. Amat sederhana. Tanpa seremoni, spontan saja. Namun sarat makna.

Petrus Gunarso selain sebagai Pemberi Kata Pengantar buku juga dalam kapasitasnya sebagai salah satu board difector Penerbit Lembaga Literasi Dayak.

Seketika sebuah pustaka penting berpindah tangan. Namun yang sesungguhnya hadir adalah sejarah panjang. Sejarah tentang alam yang dieksploitasi. Tentang manusia yang terpinggirkan. Tentang Borneo yang terus dibebani.

Ingatan Panjang tentang Borneo

Buku Eksploitasi Dayak Masa ke Masa bukan bacaan ringan. Ia memuat jejak eksploitasi sumber daya alam Borneo lintas zaman. Dari era kompeni Hindia Belanda. Hingga praktik ekonomi ekstraktif masa kini.

Baca juga Kardinal Ignasius Suharyo Terima Buku 100 Imajinasi Koperasi

Narasinya runtut. Datanya tegas. Bahasanya jernih. Buku ini menunjukkan bahwa eksploitasi bukan peristiwa tunggal. Ia adalah pola. Ia diwariskan. Ia dilembagakan.

Hutan ditebang. Tanah dialihfungsikan. Sungai tercemar. Konsesi bertambah. Semua terjadi berulang.

Di sisi lain, masyarakat Dayak hidup paling dekat dengan alam. Mereka menjaga hutan. Mengelola tanah. Menghormati sungai. Namun justru mereka yang paling sering kehilangan ruang hidup.

Buku ini menulis relasi timpang itu. Dengan jujur. Tanpa romantisme. Tanpa kemarahan berlebihan. Tetapi dengan ketegasan moral.

Borneo digambarkan sebagai wilayah kaya. Kaya sumber daya. Kaya budaya. Namun kekayaan itu lama mengalir ke luar. Ke pusat-pusat akumulasi. Sementara dampaknya tertinggal di kampung-kampung.

Buku ini mengingatkan. Bahwa pembangunan yang abai pada keadilan akan selalu meninggalkan luka.

Ketidakadilan dan Seruan Pertobatan Ekologis

Bagi Petrus Gunarso, buku ini adalah kesaksian. Sekaligus peringatan. Ia menyebutnya sebagai wujud ketidakadilan. Juga sebagai warning pertobatan ekologi.

Ketidakadilan itu nyata. Ia terlihat dalam ketimpangan penguasaan lahan. Dalam rusaknya ekosistem. Dalam tersingkirnya masyarakat adat dari tanah leluhur mereka.

Namun buku ini tidak berhenti pada gugatan. Ia mengajak pembaca masuk ke wilayah refleksi. Ke wilayah etika. Ke wilayah nurani.

Belarasa menjadi kata kunci. Compassion. Sebuah sikap yang tidak berhenti pada simpati. Tetapi menuntut keterlibatan. Dan keberpihakan.

Pertobatan ekologis juga ditegaskan. Bukan sekadar perubahan perilaku individual. Melainkan perubahan cara pandang. Tentang alam. Tentang pembangunan. Tentang relasi manusia dengan ciptaan.

Seruan ini sejalan dengan pandangan Kardinal Ignasius Suharyo. Bahwa krisis ekologi adalah krisis moral. Alam rusak. Manusia tersingkir. Keduanya tidak bisa dipisahkan.

Ketika hutan dihancurkan, masyarakat adat kehilangan rumah. Ketika sungai tercemar, kehidupan ikut terancam. Ketika tanah diperdagangkan, martabat manusia dipertaruhkan.

Buku ini menempatkan isu ekologi dalam bingkai keadilan. Dan keadilan selalu menuntut sikap.

Gestur sunyi yang sarat makna

Kardinal Ignasius Suharyo menerima buku itu dengan penuh takzim. Ia memperhatikannya sekilas. Tanpa banyak kata. Lalu meminta asistennya membawa buku tersebut.

Gesturnya singkat. Hampir sunyi. Namun bermakna.

Di tengah hiruk-pikuk wacana publik, sikap itu berbicara. Tentang kesediaan mendengar. Tentang penghormatan pada suara dari pinggiran. Tentang kesadaran bahwa persoalan ekologi bukan isu jauh.

Petrus Gunarso salaman dengan kardinal.
Buku yang lurus dan senyum yang tulus: Buku Eksploitasi Dayak Masa ke Masa yang lurus mengungkap fakta ada apanya dan senyum yang tulus menerimanya. Dok. rmsp.

Penyerahan buku ini menjadi perjumpaan simbolik. Antara dunia literasi dan panggilan moral Gereja. Antara catatan sejarah dan tuntutan masa depan.

Ia mengingatkan bahwa pertobatan ekologis tidak lahir dari slogan. Ia lahir dari keberanian membaca kenyataan. Mengakui ketidakadilan. Dan memilih berpihak.

Buku Eksploitasi Dayak Masa ke Masa yang ditulis Dr. H.C. Cornelis dan Masri Sareb Putra hadir sebagai cermin. Ia memantulkan wajah pembangunan yang selama ini jarang ditatap jujur. Ia mengajak berhenti sejenak. Untuk berpikir. Untuk merasa. Untuk bertindak.

Di tangan Kardinal Ignasius Suharyo, buku itu menjadi lebih dari dokumen. Pustaka yang berawal dari paper akademik kedua penulis pada Munas II Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN) di Pontianak 19 Mei 2025 menjadi panggilan nurani. 

Sebuah undangan sunyi untuk merawat belarasa. Dan mengupayakan keadilan ekologis. 

Sebelum luka Borneo kian dalam dan tak tersembuhkan.

Pewarta: Masri Sareb Putra

0 Comments

Type above and press Enter to search.