Burung Garuda: Mitos ataukah Realita? Jejak dan Rekam Sejarah Lambang kerajaan Sintang (1)

Lambang kerajaan Sintang oleh seniman Dayak sutha Manggala.
Lambang Kerajaan Sintang ini dirancang oleh Sutha Manggala, seniman Dayak asal Sanggau.Dokpen.

Oleh Masri Sareb Putra

Pidato “Jas Merah” (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah) yang disampaikan Bung Karno pada 17 Agustus 1966 punya makna hitoris yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Dalam bingkai dan horison sejarah itu, Redaksi mulai hari ini (11 Februari 2026) menurunkan serial tulisan tentang lambang kerajaan Sintang yang kemudian menjadi model Lambang Negara Kesatuan RI. 

Lambang Kerajaan Sintang karya seniman Dayak Sutha Manggala dari Sanggau menjadi salah satu mata rantai penting dalam proses kelahiran Garuda Pancasila, berawal dari inspirasi ukiran gantungan gong yang menampilkan figur garuda berkepala dua. Melalui penyempurnaan historis–politis oleh Sultan Hamid II pada 1950, simbol lokal itu bertransformasi menjadi lambang negara Indonesia setelah unsur mitologisnya dihilangkan dan ditegaskan sebagai Rajawali Garuda Pancasila.

Selamat mengikuti!

Lambang kerajaan Sintang, yang diciptakan oleh seniman lokal Dayak bernama Sutha Manggala,penting kedudukannya dalam sejarah pembentukan lambang negara Republik Indonesia

Sejarahnya membingkai kisah perjalanan yang memukau. Tentang bagaimana simbol-simbol dan ide-ide dari berbagai budaya dan periode waktu dapat berkumpul serta berkontribusi pada pembentukan simbol nasional yang kuat.

Sutha Manggala, Seniman dan budayawan Dayak asal Sanggau

Awalnya, Sutha Manggala, dengan pandangan cermatnya, menarik inspirasi dari gantungan gong gamelan yang dijadikan sebagai barang antaran lamaran Patih Loh Gender kepada putri kerajaan SintangDarajuanti

Lambang negara Indonesia sebelum penyempurnaan.
Lambang negara Indonesia sebelum penyempurnaan. Arsip Perpustakaan Nasional RI. Dokpen.

Ukiran pada gantungan gong ini menggambarkan burung Garuda dengan dua kepala yang berlawanan pandang: satu kepala burung dan satu kepala manusia. 

Ide itu kemudian menjadi dasar untuk menciptakan lambang kerajaan Sintang yang mencakup patung burung Garuda dengan dua kepala.

Lambang kerajaan Sintang ini menjadi model bagi Sultan Hamid II

Selanjutnya, lambang kerajaan Sintang ini menjadi model bagi Sultan Hamid II dalam proses dinamis menciptakan lambang negara Indonesia yang kita kenal sebagai burung garuda. Sultan Hamid II, yang memimpin Panitia Lencana Negara pada tahun 1950, adalah salah satu tokoh kunci yang terlibat dalam proses ini. 

Lambang kerajaan Sintang menjadi model bagi Sultan Hamid II dalam proses dinamis menciptakan lambang negara Indonesia yang kita kenal sebagai burung garuda.

Sejarah lambang negara Indonesia mencakup tiga tahap penyempurnaan, di mana perbaikan kedua, yaitu menghilangkan unsur tangan dan bahu manusia yang memegang prisai pada gambar burung Garuda, sangat penting. 

Museum Poesaka Ningrat Kesultanan Sintang.
Penulis di latar depan simbol kerajaan Sintang di Museum Poesaka Ningrat Kesultanan Sintang.

Partai Masyumi menganggapnya terlalu berdasarkan mitologi. Sedemikian rupa, sehingga akhirnya gambar lambang Garuda diubah menjadi Rajawali Garuda Pancasila.

Lambang kerajaan Sintang yang mirip dengan lambang negara Indonesia masih ada di istana Al Muqqaromah Sintang dalam bentuk patung burung Garuda, mengingatkan kita akan peran penting Sutha Manggala dan kerajaan Sintang dalam membentuk simbol negara ini.

Dalam konteks sejarah dan budaya, perjalanan yang melibatkan berbagai tokoh dan elemen budaya ini menjadi gambaran yang kuat tentang bagaimana Indonesia merangkai sejarahnya dan menciptakan simbol nasional yang kuat. 

Terlepas dari perdebatan tentang siapa yang patut mendapat pengakuan lebih besar dalam proses pembentukan lambang negara ini, Sintang dan Pontianak (Kalimantan Barat) telah berperan penting dalam menjaga warisan budaya dan sejarah Indonesia.

Lambang kerajaan Sintang ini menjadi model bagi Sultan Hamid II dalam proses dinamis menciptakan lambang negara Indonesia yang kita kenal sebagai burung garuda.

Tentu, pandangan terhadap lambang kerajaan Sintang ini adalah subjektif dan tergantung pada interpretasi masing-masing orang. Namun, lambang ini bukan hanya gambaran visual, tetapi juga sebuah simbol yang memancarkan sejarah, budaya, dan perjuangan yang tak terlupakan dalam perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan.

Dalam novel sejarah NGAYAU: MISTERI MANUSIA IKAT KEPALA MERAH, A NOVEL BASED ON HISTORY (2014), Masri tidak semata mengulang legenda, melainkan menggarap sebab-musabab: alasan mengapa Darajuanti berangkat ke tanah Jawa untuk membebaskan Abang Jubair? Sebab apa Darajuanti  menyamar sebagai laki-laki? Serta bagaimana penyamaran itu justru mempertemukannya dengan Patih Loh Gender?

Pertanyaan tersebut tidak berhenti pada “apa yang terjadi”, melainkan bergerak ke “bagaimana makna dibentuk”. 

Di sana sejarah bukan sekadar arsip, melainkan narasi yang hidup; bukan sekadar fakta, melainkan tafsir. Seperti catatan kaki yang diam-diam menentukan arah teks, detail hantaran, pinangan, dan penyamaran menjadi elemen penting dalam membaca struktur kuasa, gender, dan legitimasi adat.

Pendekatan yang digunakan adalah etnografi, dengan Grounded Theory sebagai kerangka pembacaan yang membiarkan teori tumbuh dari lapangan, bukan dipaksakan dari luar. 

Data dihimpun dari tuturan, simbol, ritus, dan artefak, lalu dikoding secara terbuka, aksial, dan selektif hingga membentuk proposisi substantif. Pisau analisis yang dipilih adalah perspektif Emic, yakni membaca realitas dari dalam horizon makna masyarakat Dayak sendiri, bukan dari kacamata luar yang sering tergesa memberi label. 

Dengan demikian, lambang Kerajaan Sintang dipahami bukan semata simbol heraldik, tetapi sebagai teks budaya; dan teks budaya itu hanya dapat dimengerti bila kita bersedia duduk lebih lama, mendengar lebih dalam, serta memberi ruang pada suara yang selama ini berbisik di pinggir sejarah.

Di titik itulah sejarah bersentuhan dengan batin. Ketika misi pembebasan berubah menjadi keterikatan, ketika strategi menjelma asmara. 

Cinta dan tawanan menjadi metafora: bahwa kadang-kadang, dalam perjalanan membebaskan orang lain, seseorang justru menemukan takdirnya sendiri.

Loh Gender dan Darajuanti dalam latar sejarah

Sejarah yang menelusuri dan menuliskan asal-usul lambang Kerajaan Sintang tidak berdiri di ruang hampa. Potongan sejarah itu bertolak dari sebuah kisah perjumpaan: Loh Gender dan Darajuanti; dua nama yang bukan sekadar tokoh, melainkan simpul peradaban. 

Pertemuan itu, lengkap dengan barang-barang hantaran dan pinangan Loh Gender kepada perempuan Dayak yang kelak menjadi istrinya, dicatat secara rinci oleh Lontaan (1975: 199–202). 

Dalam catatan tersebut, lambang kerajaan bukan hanya simbol politik, melainkan kristalisasi dari dialog Jawa–Dayak. Bermula dari adat yang saling menghormati, dari cinta yang menjelma legitimasi. Di sana, sejarah bukan sekadar kronik; ia adalah tafsir atas perjumpaan budaya.

Sementara itu Masri Sareb Putra menempatkan kisah kasih pasangan Jawa–Dayak itu dalam novel sejarah yang berbeda.  

Dalam catatan tersebut, lambang kerajaan bukan hanya simbol politik, melainkan kristalisasi dari dialog Jawa–Dayak

Bermula dari adat yang saling menghormati, dari cinta yang menjelma legitimasi. Di sana, sejarah bukan sekadar kronik; ia adalah tafsir atas perjumpaan budaya.

Gantungan gong gamelan Patih Loh Gender

Awalnya, Sutha Manggala, dengan pandangan cermatnya, menarik inspirasi dari gantungan gong gamelan yang dijadikan sebagai barang antaran lamaran Patih Loh Gender kepada putri kerajaan Sintang, Darajuanti. 

Ukiran pada gantungan gong ini menggambarkan burung Garuda dengan dua kepala yang berlawanan pandang, satu kepala burung dan satu kepala manusia. Ide ini kemudian menjadi dasar untuk menciptakan lambang kerajaan Sintang yang mencakup patung burung Garuda dengan dua kepala.

Lambang kerajaan Sintang ini kemudian menjadi model bagi Sultan Hamid II dalam proses dinamis menciptakan lambang negara Indonesia yang kita kenal sebagai burung garuda. 

Sultan Hamid II, yang memimpin Panitia Lencana Negara pada tahun 1950, adalah salah satu tokoh kunci yang terlibat dalam proses ini. 

Sejarah lambang negara Indonesia mencakup tiga tahap penyempurnaan, di mana perbaikan kedua, yaitu menghilangkan unsur tangan dan bahu manusia yang memegang prisai pada gambar burung Garuda, sangat penting. 

Partai Masyumi menganggapnya terlalu berdasarkan mitologi, dan akhirnya, gambar lambang Garuda diubah menjadi Garuda Pancasila.

Lambang negara Indonesia yang mirip dengan lambang Kerajaan Sintang ini masih ada di istana Al Muqqaromah Sintang dalam bentuk patung burung Garuda, mengingatkan kita akan peran penting Sutha Manggala dan kerajaan Sintang dalam membentuk simbol negara ini.

Dalam konteks sejarah dan budaya, perjalanan yang melibatkan berbagai tokoh dan elemen budaya ini menjadi gambaran yang kuat tentang bagaimana Indonesia merangkai sejarahnya dan menciptakan simbol nasional yang kuat. 

Peran penting Sintang dan Pontianak untuk Bangsa dan unsur wajib-sejarah

Terlepas dari perdebatan tentang siapa yang patut mendapat pengakuan lebih besar dalam proses pembentukan lambang negara ini, Sintang dan Pontianak (Kalimantan Barat) telah berperan penting dalam menjaga warisan budaya dan sejarah Indonesia.

Tentu saja pandangan terhadap lambang kerajaan Sintang berdasarkan bukti otentik secara historis, bukan dilandasi subjektivitas semata. Ada pelaku, peritiwa, dan setting-nya. Sedemikian rupa, sehingga bisa dibuktikan. 

Ketika semua wajib-sejarah itu dapat dibuktikan, maka bukan mitos lagi. Bukan his story (seseorang yang bernarasi tanpa fakta) melainkan history karena berbasis fakta dan dataIa sejarah!

Tidak syak lagi lambang kerajaan Sintang bukan hanya gambaran visual, tetapi juga sebuah simbol yang memancarkan sejarah dan budaya. Sekaligus menukilkan perjuangan yang tak terlupakan dalam seluruh proses perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan

0 Comments

Type above and press Enter to search.