Cornelis dan Masri Diskusi Topik Dayak Di Meja Makan
Cornelis (kiri pembaca) dan Masri diskusi topik Dayak di meja sembari makan kuliner khas Dayak. Ist.
Di kediaman Cornelis, Bukit Cornelis, Jalan Serimbu, Armed, Ngabang, pada 22 Februari 2026, diskusi itu kembali mengalir.
Di Meja Makan, Masa Depan Dayak Dirumuskan
Di sebuah ruang makan yang terang, dengan tirai putih yang menyaring cahaya siang, dua pria duduk berhadapan.
Di atas meja tersaji nasi putih, sayur hijau, lauk berkuah, dan hidangan sederhana khas rumahan. Tidak ada protokol, tidak ada mimbar, tidak ada kamera resmi. Hanya percakapan, makanan hangat, dan pikiran yang bekerja.
Dr. H.C. Cornelis dan Masri Sareb Putra, M.A. bukan sekadar makan bersama. Mereka merawat percakapan panjang tentang SDM, pemberdayaan Dayak, tanah pusaka, kesehatan, dan pendidikan. Lima isu yang jika ditarik benang merahnya, bermuara pada satu hal: martabat.
Meja Makan sebagai Ruang Strategi
Dalam tradisi kita, meja makan bukan hanya tempat menyantap hidangan. Ia adalah ruang musyawarah paling jujur. Di sana orang berbicara tanpa teks, tanpa naskah pidato, tanpa kepura-puraan formal. Di meja makan itulah gagasan besar sering lahir.
Gambar yang mengabadikan momen tersebut memperlihatkan keakraban. Satu tersenyum sambil mengacungkan jempol, satu lagi menatap tenang, tangan bertumpu di meja. Bahasa tubuh itu berbicara: ada kesepahaman, ada optimisme, ada pekerjaan besar yang sedang dan akan terus digarap.
Topik SDM menjadi pintu masuk. Bagi Cornelis, pembangunan tidak mungkin berdiri tanpa kualitas manusia. Infrastruktur bisa dibangun dalam hitungan tahun, tetapi membentuk karakter dan kompetensi generasi Dayak memerlukan visi lintas generasi. Pendidikan bukan sekadar angka partisipasi sekolah, melainkan bagaimana anak-anak Dayak percaya diri berdiri sejajar dalam kompetisi nasional dan global.
Masri Sareb Putra, dengan latar antropologis dan kesejarahan lokal, tentu menekankan bahwa SDM Dayak tidak boleh tercerabut dari akar budayanya. Modernitas tanpa identitas hanya akan melahirkan generasi yang pandai, tetapi rapuh. Pendidikan harus berakar pada kearifan lokal, pada sejarah panjang perjuangan, pada kesadaran bahwa menjadi Dayak bukan beban, melainkan kekuatan.
Tanah Pusaka dan Pemberdayaan: Soal Menjadi Tuan di Tanah Sendiri
Percakapan kemudian mengerucut pada tanah pusaka. Inilah isu paling sensitif sekaligus paling mendasar. Tanah bagi orang Dayak bukan sekadar aset ekonomi. Ia adalah identitas, memori kolektif, ruang spiritual, dan jaminan masa depan.
Dalam buku Eksploitasi Dayak Masa ke Masa yang baru saja mereka luncurkan melalui Lembaga Literasi Dayak, Jakarta, anggota Perpusnas, tema ini dibedah secara historis. Eksploitasi bukan cerita baru. Dari masa kolonial hingga era korporasi modern, sumber daya alam di Borneo sering kali diambil tanpa memberikan kesejahteraan sepadan kepada pemilik adatnya.
Karena itu, pemberdayaan tidak cukup dimaknai sebagai program bantuan atau pelatihan sesaat. Pemberdayaan berarti mengubah posisi tawar. Orang Dayak harus memahami hukum, ekonomi, manajemen, dan politik. Mereka harus hadir dalam ruang-ruang pengambilan keputusan. Mereka harus menjadi subjek, bukan objek.
Diskusi di meja makan itu bukan nostalgia keluhan. Ia lebih menyerupai perumusan strategi. Bagaimana generasi muda Dayak tidak mudah menjual atau menggadaikan tanah? Bagaimana literasi keuangan diperkuat? Bagaimana koperasi dan usaha kolektif dikembangkan agar kekayaan tidak bocor keluar kampung?
Bagi Masri, sejarah memberikan pelajaran penting: setiap kali orang Dayak kehilangan kendali atas tanahnya, mereka kehilangan lebih dari sekadar lahan. Mereka kehilangan pijakan identitas. Maka, membangun kesadaran sejarah menjadi bagian dari strategi pemberdayaan itu sendiri.
Kesehatan, Pendidikan, dan Politik Gagasan
Isu kesehatan pun tak luput dari pembahasan. Di banyak wilayah pedalaman, akses kesehatan masih menjadi tantangan. Padahal, tanpa tubuh yang sehat, mustahil berbicara tentang produktivitas dan daya saing. Investasi terbesar bukan pada beton, melainkan pada manusia yang sehat secara fisik dan mental.
Pendidikan dan kesehatan adalah dua kaki yang harus berjalan beriringan. Jika satu pincang, pembangunan pun tertatih. Cornelis, dengan pengalaman panjangnya dalam birokrasi dan politik, memahami bahwa kebijakan publik harus berpihak secara nyata, bukan sekadar slogan.
Namun, ada satu elemen yang memperkuat semuanya: politik gagasan. Peluncuran buku Eksploitasi Dayak Masa ke Masa bukan seremoni literasi biasa. Ia adalah pernyataan intelektual. Sebuah upaya mendokumentasikan luka sejarah sekaligus menyalakan kesadaran kolektif.
Buku itu dapat dibaca sebagai cermin. Ia memaksa pembaca bertanya: sampai kapan eksploitasi dibiarkan menjadi pola berulang? Dan lebih jauh lagi, apa yang harus diubah agar sejarah tidak terus mengulang dirinya?
Di sinilah peran intelektual dan politisi bertemu. Intelektual merumuskan analisis dan gagasan. Politisi menerjemahkannya menjadi kebijakan. Jika keduanya berjalan sendiri-sendiri, perubahan menjadi lambat. Tetapi ketika mereka duduk semeja, makan bersama, dan berbicara jujur, kemungkinan transformasi menjadi lebih nyata.
Momen di Bukit Cornelis itu sederhana. Tidak ada panggung besar, tidak ada baliho, tidak ada tepuk tangan massa. Namun justru dalam kesederhanaan itulah kekuatan tersembunyi. Perubahan besar sering tidak lahir dari sorotan lampu, melainkan dari percakapan yang tekun dan konsisten.
Meja makan itu menjadi simbol. Simbol bahwa perjuangan tidak selalu keras dan lantang. Kadang ia hadir dalam bentuk diskusi tenang, tawa kecil, dan kesepakatan diam-diam untuk terus bekerja.
Dan di atas semua itu, tersimpan satu keyakinan: masa depan Dayak tidak ditentukan oleh nasib, melainkan oleh kesadaran, strategi, dan keberanian untuk berpikir jauh ke depan.
Penulis: Rangkaya Bada
0 Comments