Dayak, Mengapa Mesti Melek Literasi? Ini Manfaat dan Akibatnya

Dayak, Mengapa Mesti Melek Literasi?
Dayak wajib melek literasi, jika tidak, ini akibatnya. Sumber ilustrasi: http://www.impact-information.com

Oleh Masri Sareb Putra

Di Borneo, pulau terbesar ketiga di dunia. Dayak hidup seperti akar yang setia pada tanahnya. 

Pun di Borneo, yang pada era pengaruh Hindu-India disebut "Varuna-Dvipa", literasi telah tersejarahkan tonggaknya pada prasasti Yupa. 

Literasi pertama di ranah Dayak

Adalah Kudungga, raja lokal yang menjadi pendiri Kerajaan Kutai, kakeknya Mulawarman. Kudungga, awalnya penguasa setempat, terpengaruh budaya Hindu sehingga mengubah struktur pemerintahan menjadi kerajaan. 

Anak KudunggaAswawarman, disebut seperti Dewa Matahari dan dianggap pendiri wangsa. Mulawarman, cucunya, membawa masa kejayaan dengan sedekah 20.000 ekor sapi kepada Brahmana di Waprakeswara, dicatat dalam tujuh Yupa berhuruf Pallawa dan bahasa Sanskerta dari abad ke-4 M. Peninggalan ini bukti tertua kerajaan Hindu di Nusantara, ditemukan di Muara KamanKalimantan Timur.

Dalam konteks Literasi Batu YupaBorneo adalah rumah literasi, bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang ingatan yang menulis dirinya sendiri sejak berabad-abad silam. Karena itu, mustahil pemilik sejatinya merusak rumahnya sendiri; merusak Borneo sama dengan merobek tubuh sejarahnya, memutus akar yang menancap dalam ingatan kolektif, serta mengingkari tembuni yang sejak awal membimbing arah hidupnya.

Setiap papan, setiap tiang, setiap ruang berbicara pelan namun tegas, sebagaimana Batu Yupa yang berdiri tanpa suara tetapi penuh makna. 

Di sanalah tembuni berdiam. Sebagai jiwa yang diwariskan. Sebagai ingatan yang dititipkan. Sebagai aksara hidup yang menuntut untuk dibaca dengan kesadaran. Dirawat dengan belarasa. Dan dijaga agar rumah ini tetap menjadi tempat manusia mengenali dirinya sendiri.

Dalam kehidupan orang Dayak, rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi rumah adalah hidup itu sendiri. Tradisi rumah panjang menjadi saksi, menjadi pembawa segala yang penting bagi generasi yang datang setelahnya. Sekaligus mengingatkan bahwa menghargai rumah adalah menghargai diri, masa lalu, dan masa depan sekaligus.

Lliterasi dasar bekerja secara sunyi

Di pulau yang oleh anak-anak muda diklai,m "Pulau Dayak",  literasi dasar bekerja secara sunyi, melalui bahasa ibu, cerita lisan, tanda alam, dan ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Membaca bagi orang Dayak sejak awal bukan hanya membaca huruf, melainkan membaca musim, arah angin, alur sungai, dan watak tanah.

Dari literasi dasar itu tumbuh literasi budaya. Adat, hukum kampung, ritus, dan pantang larang adalah teks hidup yang dipahami tanpa buku, tetapi ditaati dengan kesadaran. 

Orang Dayak tahu kapan menanam dan kapan menunggu, kapan berbagi dan kapan menahan diri. Budaya menjadi kurikulum yang membentuk etika hidup bersama, menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Yang Ilahi.

Namun zaman berubah. Akar yang kuat tetap membutuhkan unsur baru agar tidak mengering. Di sinilah literasi finansial dan keuangan menjadi krusial. 

Ketika tanah adat bersentuhan dengan pasar, ketika hasil hutan bernilai uang, ketika tawaran kredit, kontrak, dan investasi datang mengetuk kampung, kemampuan mengelola uang dan memahami risiko menjadi penentu martabat. Tanpa literasi finansial, akar bisa tercabut secara perlahan. Bukan oleh badai, melainkan oleh ketidaktahuan.

Literasi finansial dan keuangan bukan berarti meninggalkan budaya. Justru sebaliknya, ia berfungsi melindungi budaya. Ia membantu orang Dayak tetap menjadi tuan di tanahnya sendiri, mampu mengambil keputusan ekonomi dengan sadar, adil, dan berjangka panjang. 

Dengan literasi ini, uang tidak menjadi berhala, tetapi alat. Pasar tidak menjadi penguasa, tetapi mitra yang dikendalikan.

Maka, literasi dasar, literasi budaya, serta literasi finansial dan keuangan bukanlah dunia yang terpisah. Semua berjalin seperti akar yang saling menguatkan. Jika satu rapuh, yang lain ikut goyah. Jika semuanya dirawat, orang Dayak tidak hanya bertahan. Tetapi Dayak bertumbuh, tegak di tengah perubahan, dengan identitas yang tetap berakar dan masa depan yang lebih berdaulat.

Penduduk asli Kalimantan merawat ingatan

Dayak menjaga hutan dan sungai. Penduduk asli Kalimantan merawat ingatan, serta menenun tradisi, adat, dan cara hidup yang sarat makna. Jumlah mereka lebih dari delapan juta jiwa. 

Angka itu besar, namun sering kali terasa kecil di hadapan zaman yang berlari cepat tanpa sempat menoleh ke belakang. Di titik inilah sebuah persoalan muncul dengan tenang, tetapi mendesak, yakni literasi.

Literasi kerap dipersempit hanya sebagai kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi sejatinya adalah kemampuan memahami dunia. Literasi mencakup literasi media, literasi finansial, dan yang paling menentukan nasib hidup, literasi hukum. Literasi adalah pintu. Tanpa kunci itu, seseorang dapat tersesat di rumahnya sendiri.

Dayak Research Center (DRC) Institut Teknologi Keling Kumang membaca persoalan ini bukan sekadar sebagai angka statistik, melainkan sebagai panggilan etis. 

Penelitian literasi bukan kerja administratif, melainkan ikhtiar menjaga martabat manusia. Ketika literasi rendah, dampaknya tidak berhenti pada individu. Literasi rendah  menjalar ke keluarga, ke kampung, dan akhirnya ke masa depan bersama.

Mari melihatnya satu per satu, dengan pikiran jernih dan kejujuran nurani.

Usia Harapan Hidup yang Lebih Pendek

Mereka yang kesulitan memahami informasi kesehatan menghadapi risiko yang lebih besar. Petunjuk medis, dosis obat, hingga jadwal pemeriksaan dapat berubah menjadi jebakan. Di wilayah pedalaman, tempat fasilitas kesehatan terbatas, kesalahan membaca bisa berujung pada kehilangan nyawa. Literasi kesehatan di sini bukan kemewahan, melainkan soal hidup dan mati.

Waktu Rawat Inap yang Lebih Lama

Sistem kesehatan modern berdiri di atas teks, formulir, dan prosedur. Tanpa literasi yang memadai, semua itu berubah menjadi tembok. Kesalahpahaman melahirkan kunjungan berulang ke rumah sakit, rawat inap yang lebih lama, dan biaya yang terus meningkat. Beban itu tidak hanya dipikul oleh pasien, tetapi juga oleh sistem kesehatan dan ekonomi yang rapuh.

Angka Pemenjaraan yang Lebih Tinggi

Ada hubungan sunyi antara rendahnya literasi dan tingginya tingkat pemenjaraan. Kesempatan kerja menyempit, kebutuhan hidup mendesak. Di ruang hukum, mereka yang tidak memahami bahasa dokumen mudah terperangkap. Hak tidak dipahami, proses tidak dimengerti, dan hukuman kerap diterima tanpa perlawanan yang adil. Pendidikan dan literasi terbukti mampu memutus rantai kemiskinan dan kriminalitas. Tanpanya, lingkaran itu mengeras dan diwariskan.

Daya Hasil Ekonomi yang Rendah

Dalam dunia kerja hari ini, literasi adalah tiket masuk. Tanpanya, banyak orang Dayak bertahan di sektor informal dengan penghasilan tidak menentu. Kesempatan menabung, merencanakan masa depan, dan membiayai pendidikan anak menjadi terbatas. Kemiskinan pun tidak dipatahkan, melainkan diteruskan.

Akses Pendidikan Tinggi yang Menyempit bagi Anak

Inilah luka yang paling dalam. Ketika orang tua memiliki literasi yang rendah, termasuk literasi finansial dan hukum, anak-anak mereka lebih jarang melangkah ke perguruan tinggi. Bukan karena kekurangan kecerdasan, melainkan karena kekurangan informasi dan pendampingan. Siklus ketertinggalan pun berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dampak Berlapis Literasi Rendah

Literasi rendah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga partisipasi sebagai warga negara. Bagi orang Dayak, risikonya berlipat. Tanpa akses pada pengetahuan, tradisi mudah terpinggirkan, suara mudah diabaikan, dan keputusan tentang tanah serta masa depan diambil oleh pihak lain.

Di sinilah penelitian menjadi penting, bukan sebagai laporan kering, tetapi sebagai peta jalan. Riset adalah pilar peradaban dan kebangkitan identitas Dayak. Dayak Research Center (DRC)DRC menempatkan data sebagai dasar analisis. Sekaligus menghormati pengetahuan lokal sebagai kompas nilai. Angka harus bertemu cerita. Metodologi harus bersua makna. Demikian itulah literasi Dayak zaman now seharusnya bekerja.

Jalan ke Depan: Memberdayakan Dayak Melalui Literasi

Langkah pertama adalah memperluas literasi dalam seluruh bentuknya. Program literasi harus relevan, mudah diakses, dan berakar pada kebudayaan Dayak

Membaca dan menulis penting. Tetapi memahami kontrak, mengelola keuangan, memilah informasi media, dan menuntut hak secara hukum sama pentingnya.

Pendekatan berbasis komunitas menawarkan harapan. Pusat-pusat literasi di kampung dapat menjadi ruang belajar yang akrab dan aman. 

Lokakarya membaca, pendidikan finansial, pemahaman hukum, dan literasi digital perlu melibatkan pemimpin adat, tetua, serta penjaga pengetahuan lokal. Ketika pembelajaran selaras dengan bahasa dan pandangan hidup setempat, ia tidak terasa asing. Ia terasa pulang.

Kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas Dayak perlu berjalan bersama. Dari kerja bersama itu dapat lahir model literasi yang berkelanjutan dan dapat diperluas, tidak hanya di Borneo, tetapi juga sebagai contoh bagi wilayah lain.

Masa Depan yang Lebih Terang

Meningkatkan literasi berarti memberi kuasa. Kuasa untuk hidup lebih sehat, lebih sejahtera, dan lebih berdaulat atas keputusan sendiri. Literasi menjaga warisan budaya sekaligus membuka pintu menuju dunia modern.

Orang Dayak bukan sekadar penyintas zaman, melainkan subjek yang memiliki daya dan kehendak untuk membentuk masa depan mereka sendiri. Literasi adalah kunci yang membuka jalan menuju kesadaran, kedaulatan, dan keberlanjutan hidup mereka.

Dengan pendidikan dan riset yang berpihak, suara Dayak tidak akan tenggelam dalam riuh perubahan zaman. Dayak tetap hadir dalam percakapan tentang hari esok. Bukan sebagai gema masa lalu, melainkan sebagai suara yang sadar dan berpengetahuan. 

Hari esok itu diharapkan adil, berakar pada jati diri, dan bermartabat bagi generasi yang akan datang.

Jakarta, 04/02-2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.