Patricia Ganing dan Amee Joan Menuntaskan Dokumentasi Pantun Iban di Kapit, Sarawak
KAPIT, dayaktoday.com— Upaya merawat dan menghidupkan kembali khazanah warisan lisan masyarakat Iban terus diperkuat melalui kerja akademik yang bersentuhan langsung dengan komunitas.
Dua peneliti, Dr. Patricia Ganing dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) dan Dr. Amee Joan dari Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), menuntaskan proyek pendokumentasian pantun Iban di Kapit, Sarawak, sebagai bagian dari ikhtiar pelestarian budaya berbasis riset.
Proyek ini tidak hanya memosisikan pantun sebagai objek kajian, tetapi juga sebagai praktik budaya yang hidup dan diwariskan lintas generasi.
Karena itu, penelitian dilakukan dengan melibatkan pelaku tradisi secara langsung, agar dokumentasi yang dihasilkan tetap setia pada konteks sosial dan kultural masyarakat Iban.
Kolaborasi Akademisi dan Pelaku Tradisi
Pendokumentasian pantun Iban ini melibatkan kerja kolaboratif dengan tokoh pantun berpengalaman, Cikgu Helen Manjan. Ia berperan sebagai narasumber utama sekaligus penjaga ingatan kolektif tradisi berpantun di komunitasnya.
Melalui keterlibatan Cikgu Helen, para peneliti merekam pantun-pantun yang selama ini hidup dalam ruang lisan, baik dalam konteks adat, pendidikan, maupun kehidupan sehari-hari.
Pantun-pantun tersebut kemudian dikumpulkan dan dianalisis secara sistematis dengan pendekatan akademik. Proses ini mencakup pencatatan konteks penggunaan pantun, struktur bahasa, serta makna kultural yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, pantun tidak diperlakukan semata sebagai teks sastra, tetapi sebagai bagian dari sistem nilai dan cara pandang masyarakat Iban.
Buku Ilmiah Berbasis Audio dan Teks
Hasil penelitian tersebut disusun dalam sebuah buku ilmiah yang kini berada pada tahap akhir penerbitan. Buku ini mengusung pendekatan inovatif dengan memadukan bahan tertulis dan elemen audio. Melalui teknologi audio, pembaca dapat mendengarkan langsung pelafalan, ritme, serta intonasi pantun Iban sebagaimana dilantunkan oleh penuturnya.
Menurut Dr. Patricia Ganing, pendekatan ini penting untuk menjaga keaslian gaya penyampaian pantun yang selama ini diwariskan secara lisan.
“Pantun bukan hanya soal kata-kata, tetapi juga bunyi, tekanan suara, dan irama,” ujarnya. Tanpa aspek audio, menurut dia, sebagian makna dan keindahan pantun berpotensi hilang.
Model penerbitan ini menjadikan buku tersebut sebagai salah satu publikasi perintis dalam dokumentasi pantun Iban. Ia sekaligus menunjukkan kemungkinan baru dalam penulisan dan pelestarian sastra lisan di tengah perkembangan teknologi digital.
Dukungan bagi Pendidikan dan Pelestarian Budaya
Selain ditujukan bagi kalangan akademik, buku ini dirancang sebagai bahan pendukung pembelajaran di sekolah.
Dr. Patricia menjelaskan, materi dalam buku dapat digunakan guru untuk memfasilitasi aktivitas “leka main pantun Iban” di bilik darjah. Melalui kombinasi visual dan audio, murid diharapkan lebih mudah memahami pantun, baik dari segi bahasa maupun konteks budayanya.
Dr. Amee Joan menambahkan, penerbitan ini juga memberi manfaat bagi masyarakat umum yang berminat mendalami pantun Iban sebagai bagian dari identitas budaya Sarawak. Ia menilai dokumentasi semacam ini penting untuk memastikan tradisi lisan tidak terputus di tengah perubahan sosial dan gaya hidup generasi muda.
Proyek ini dipandang sebagai inisiatif strategis dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya masyarakat Iban.
Dengan mengintegrasikan riset, teknologi, dan pendidikan, pendokumentasian pantun ini menunjukkan cara merawat tradisi tanpa memutus akarnya dari kehidupan masyarakat.
Pada saat yang sama, upaya tersebut membuat pantun Iban tetap relevan dengan kebutuhan pembelajaran dan dinamika kebudayaan masa kini.
Pewarta: Masri Sareb Putra
0 Comments