IAKN Palangka Raya Gelar Seminar Nasional Teologi Lingkungan bersama Prof. Izak Y. M. Lattu

IAKN Palangka Raya Gelar Seminar Nasional Teologi Lingkungan Bersama Izak Y. M. Lattu
Prof. Izak Y. M. Lattu sebagai pembicara utama yang dimoderatori oleh akademisi IAKN Palangka Raya, Dr. Sarmauli, M.Th. Dokpen.

Palangka Rayadayaktoday.com — Krisis deforestasi di Kalimantan tidak hanya menuntut jawaban kebijakan dan ekonomi, tetapi juga refleksi iman. 

Perspektif tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk Anti-Deforestation Theology: Ecotheology, Decoloniality, and Intersectionality yang digelar di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Palangka Raya, Rabu (5/2/2026).

Seminar sesi III yang berlangsung sejak kemarin ini menghadirkan teolog Pof. Izak Y. M. Lattu sebagai pembicara utama dan dimoderatori oleh akademisi IAKN Palangka Raya, Dr. Sarmauli, M.Th. 

Diskusi berlangsung interaktif baik luring maupun daring yang dimulai pukul 14.00 dengan keterlibatan aktif peserta dari kalangan dosen, mahasiswa, dan pemerhati isu lingkungan.

Krisis Ekologi sebagai Krisis Iman

Dalam pemaparannya, Lattu menegaskan bahwa krisis ekologis tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan lingkungan. 

Deforestasi, menurut dia, juga merupakan krisis iman yang mencerminkan cara manusia memahami relasinya dengan Tuhan dan ciptaan.

“Ciptaan adalah sidik jari Allah. Tuhan hadir dalam hutan, sungai, tanah, dan seluruh makhluk,” ujar Lattu. Karena itu, relasi manusia dengan alam tidak boleh berhenti pada logika penaklukan dan eksploitasi, melainkan harus dibangun atas kesadaran iman.

Mandat Manusia sebagai Penjaga Ciptaan

Lattu menjelaskan, Kitab Kejadian memberikan mandat kepada manusia melalui kata shamar, yang berarti memelihara dan menjaga. 

Manusia diciptakan terakhir bukan untuk menghabisi alam, melainkan untuk merawatnya sebagai penatalayan.

Tafsir ini, kata Lattu dengan nada suara lantang, "Menantang cara berpikir modern yang selama ini memisahkan iman dari tanggung jawab ekologis." 

Deforestasi yang masif bukan sekadar kegagalan kebijakan pembangunan. Kerusakan alam dan lingkungan juga mencerminkan kegagalan manusia membaca dan menjalankan mandat teologisnya atas bumi.

Kearifan Lokal dan Dekolonialitas

Pendekatan ekoteologi yang ditawarkan juga berjumpa dengan kearifan lokal yang selama ini kerap disingkirkan. 

Mitos, pantangan, dan kosmologi nenek moyang yang dahulu dicap bertentangan dengan iman kini dibaca ulang sebagai sumber refleksi teologis yang kontekstual.

“Apa yang dulu dianggap kafir, hari ini justru menjadi pintu masuk berteologi,” kata Lattu. Di titik ini, ekoteologi beririsan dengan semangat dekolonialitas, yakni membongkar cara berpikir modern-kolonial yang memisahkan iman dari alam dan kehidupan sehari-hari.

Kalimantan dan Etika Ekologis Dayak

Dalam konteks Kalimantan, refleksi tersebut menemukan pijakan konkret pada pengalaman masyarakat Dayak. Lattu menegaskan bahwa orang Dayak bisa hidup tanpa sawit, tetapi tidak bisa hidup tanpa hutan dan sungai.

Dalam seminar tersebut juga ditegaskan bahwa deforestasi dan kerusakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari dimensi moral dan spiritual. 

Kerusakan ekologis dipahami sebagai dosa kolektif, yakni akibat dari keputusan, sistem, dan cara hidup bersama yang merusak relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan ciptaan. Karena itu, persoalan lingkungan tidak cukup direspons secara individual, melainkan menuntut pertobatan sosial dan struktural.

Lattu menekankan bahwa teologi Kristen tidak boleh diam terhadap kenyataan ini. Para teolog dan institusi keagamaan dipanggil untuk merespons krisis ekologis secara serius melalui pembaruan cara berteologi, pendidikan iman, dan keberpihakan nyata pada upaya menjaga kehidupan. 

Dalam perspektif ekoteologi, merawat alam adalah bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab iman kepada Allah Pencipta.

Post-teologi 

Prof. Izak Y. M. Lattu juga membahas sekilas Post-teologi. Ia menegaskan bahwa teologi tidak bisa hidup sendiri dalam ruang abstrak. Ia harus membuka diri. Berteologi bersama ilmu-ilmu lain.

Di era kompleksitas dan pluralitas ini. Persoalan manusia tidak hanya spiritual. Tetapi juga sosial. Psikologis. Ekologis. Dan digital.

Dialog antara teologi dan disiplin ilmu lain menjadi penting. Teologi dan sosiologi membantu memahami dinamika keagamaan dalam masyarakat modern. Teologi dan ekologi memberi ruang bagi refleksi iman atas krisis lingkungan. 

Teologi dan ilmu pendidikan membuka jalan bagi pengajaran nilai etis secara kontekstual. Teologi dan ilmu digital menawarkan perspektif baru tentang komunikasi dan pembelajaran iman.

Dengan demikian. Post-teologi bukan sekadar reinterpretasi doktrin. Ia adalah praktik teologis yang relevan. Kontekstual. Responsif terhadap kebutuhan manusia kontemporer.

Pendekatan lintas-disiplin ini memperkaya pemahaman teologi, menjadikannya lebih hidup, dan memungkinkan teologi memberi kontribusi nyata bagi pembangunan manusia seutuhnya.

Prinsip hidup adil ka talino, bacuramin ka saruga, basengat ka Jubata dipandang sebagai etika ekologis yang menautkan keadilan sosial, kesadaran ilahi, dan keberlanjutan lingkungan. 

Menurut Lattu, modernitas Kalimantan tidak harus berarti menjauh dari alam. Justru sebaliknya, menjaga air dan hutan adalah cara paling rasional untuk tetap hidup baik.

“Apa yang dulu dianggap kuno kini menjadi modernitas baru. Dunia berbicara tentang lingkungan dan back to nature, sementara masyarakat adat telah lama menjalaninya,” ujarnya.

Menjaga alam, merawat kehadiran Tuhan

Seminar ini dimoderatori oleh Dr. Sarmauli, M.Th. Seminar menegaskan kembali bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan. Selain itu, menjaga alam juga sama artinya dengan merawat kehadiran Tuhan bersama seluruh ciptaan-Nya.

Seminar Nasional IAKN 2026 yang berlangsung selama dua hari resmi ditutup oleh Wakil Direktur Pascasarjana IAKN, Dr. Yamowa'a Bate’e, M.Th., pada hari terakhir kegiatan. Seminar ini menghadirkan berbagai pemikiran dan diskusi dari akademisi, praktisi, serta masyarakat, bertujuan meneguhkan peran perguruan tinggi dalam merespons persoalan sosial dan lingkungan di tengah masyarakat.

Dalam sambutan penutup itu, Dr. Yamowa'a Bate’e menekankan bahwa seminar ini bukan sekadar ajang akademik, tetapi juga wujud nyata olah intelektual kampus untuk turut serta menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat. 

“Perguruan tinggi bukan menara gading yang jauh dari persoalan-persoalan masyarakat. Kita hadir untuk berdialog, mengkaji, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan sosial,” ujarnya.

Pewarta: Rangkaya Bada

0 Comments

Type above and press Enter to search.