Jonan dan Gunarso: Belajar Melayani dari Sebuah Buku

Jonan dan Gunarso:  Belajar Melayani dari Sebuah Buku
Ignasius Jonan (kiri) menerima buku dari Petrus Gunarso. Saling belajar dan bertukar buku. Ist.

Oleh Masri Sareb Putra

Siang itu (11/02-2026). Pertemuan berlangsung tanpa gegap gempita. Tak ada spanduk besar. Tak ada pidato panjang. Hanya dua lelaki bertegur sapa. Lalu serah-menyerahkan buku di sebuah ruang yang lebih akrab dengan percakapan ketimbang seremoni. 

Di tangan Petrus Gunarso, sebuah buku berwarna tegas: Eksploitasi Dayak Masa ke Masa. Di hadapannya, Ignasius Jonan, tokoh awam Katolik yang namanya lama beredar dalam lanskap kepemimpinan nasional.

Gunarso menyerahkan buku itu dengan kedua tangan. Gestur yang lebih menyerupai amanah ketimbang sekadar pemberian.

Jonan menerimanya. Lalu membuka beberapa halaman. Berhenti sejenak pada bagian pengantar. Di sana tertulis nama: Petrus Gunarso. Ia menulis sebagai “outsider”. Orang luar yang mencoba melihat persoalan dengan pikiran bening dan hati bersih.

“Ini bukan sekadar buku sejarah,” ujar Gunarso pelan. “Ini tentang cara kita melihat yang sering tak terlihat.”

Jonan mengangguk. Ia tak banyak bicara. Diamnya berisi.

Tokoh di Balik Layar

Nama Ignasius Jonan tak asing bagi publik. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh awam Katolik terpandang di Indonesia hari ini. Tak perlu mengurai panjang daftar jabatan dan kiprahnya. Pembaca bisa menelusurinya sendiri di berbagai media. Namun satu hal tetap dikenang sebagian kalangan Gereja: perannya sebagai figur penting di balik kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia pada 2025.

Bagi komunitas Katolik, momen itu bukan sekadar kunjungan kenegaraan. Ia adalah peristiwa iman. Peristiwa simbolik. Juga peristiwa diplomasi moral. Jonan berada di antara mereka yang bekerja di belakang layar. Mengatur. Menata. Memastikan segala sesuatu berjalan tanpa riuh berlebihan.

Dari sanalah istilah “kepemimpinan yang melayani” menemukan konteksnya.

Dalam pertemuan bersama Gunarso, topik itu kembali mengemuka. Kepemimpinan, bagi Jonan, bukan soal sorot lampu. Ia soal tanggung jawab yang dikerjakan dengan kesadaran sunyi.

Media dan Literasi: Menerima Narasi Dayak

Pertemuan itu menjadi momen penting bagi Gerakan Literasi Dayak. Jonan berkenan menerima Gunarso, pegiat literasi sekaligus pimpinan Badan Penerbitan dan Percetakan Lembaga Literasi Dayak, untuk berdiskusi tentang buku yang terbit pada 2026 tersebut.

Buku Eksploitasi Dayak Masa ke Masa ditulis oleh Dr. HC. Cornelis dan Masri Sareb Putra, M.A. Pustaka yang sangat layak jadi referensi sekaligus bahan pertimbangan ini memaparkan fakta sejarah serta kritik sosial mengenai ketidakadilan yang dialami masyarakat Dayak dalam berbagai periode. Dari eksploitasi sumber daya alam hingga marjinalisasi kebijakan. Dari ketimpangan ekonomi hingga akses pendidikan yang tak merata.

Buku itu tidak meledak-ledak. Ia menyusun argumen dengan data. Mengurai sejarah dengan kesabaran. Di sela-sela babnya terasa kegelisahan yang jernih.

Gunarso, yang menulis pengantar sebagai orang luar, justru berbicara dengan empati. Pengalamannya hampir sepuluh tahun bekerja di Malinau, Balikpapan, dan kini di Melapi, Kalimantan Barat, membuatnya merasa menjadi bagian dari komunitas Dayak. Ia menyaksikan langsung bahwa hutan bukan sekadar lanskap. Ia ruang hidup.

Sebagai rimbawan dan konservasionis, ia mendorong penerbitan Panca Palma dan kemudian Panca Dipterocarpaceae. Fokusnya konsisten. Kelestarian. Dari hutan alam, hutan gambut, hutan tanaman hingga mangrove. Sustainability bukan jargon. Ia arah.

Pendekatan bentang alam yang ia jalankan bergerak dari hulu ke hilir. Dari gunung, lembah, sawah hingga laut. Inspirasi itu ia temukan dalam konsep Tri Hita Karana ketika meneliti di Padang Galak, Bali, pada 1981 hingga 1982. Harmoni antara manusia, alam, dan Yang Ilahi.

Buku Eksploitasi Dayak Masa ke Masa ini, dalam konteks itu, bukan sekadar kritik. Ia ajakan menata ulang relasi.

Kolaborasi dan Harapan

Percakapan siang itu bergerak pelan namun dalam. Gunarso menyampaikan harapannya agar nilai kepemimpinan yang melayani menjadi fondasi gerakan literasi yang berkelanjutan. Tanpa karakter pelayanan, literasi mudah tergelincir menjadi alat kepentingan sempit.

“Literasi bukan hanya soal menulis,” katanya. “Ia soal keberanian merawat kebenaran.”

Gerakan Literasi Dayak berupaya mendokumentasikan sejarah, budaya, dan dinamika sosial yang kerap tercecer. Para awaknya bekerja dengan langkah kecil namun konsisten. Menerbitkan buku. Menggelar diskusi. Membangun jejaring.

Di tengah arus informasi cepat dan polarisasi opini yang mengeras, kepemimpinan yang memberi teladan semakin relevan. Bukan kepemimpinan yang bertumpu pada retorika, melainkan pada praktik sehari-hari.

Pertemuan Jonan dan Gunarso tak masuk agenda besar nasional. Namun ia menyimpan simbol. Dialog lintas sektor masih mungkin terjadi tanpa prasangka. Dunia kebijakan, iman, lingkungan, dan literasi dapat duduk satu meja.

Di ujung pertemuan, buku itu telah berpindah tangan. Tetapi gagasan di dalamnya mulai bergerak.

Literasi Dayak berharap narasi yang mereka bangun tidak hanya memperkaya khazanah pengetahuan. Ia juga diharapkan berkontribusi pada Indonesia yang lebih inklusif dan berkeadilan. Sebab di balik setiap halaman tentang eksploitasi, selalu terselip harapan tentang pemulihan.

Dan seperti kepemimpinan yang melayani, kerja sunyi itu menemukan maknanya justru ketika ia tidak banyak dipertontonkan.

0 Comments

Type above and press Enter to search.