Kopi Raja Sanggau dan Waktu yang Dibagi
| Kopi Raja Sanggau yang disajikan penuh cinta serta hormat kepada tamunya. Ist. |
Kopi raja Sanggau dengan aroma dan citarasa yang sungguh beda. Bukan saja menghangatkan suasana. Tapi seperti menyibak kembali lembar sejarah lama dan menyatakan waktu yang siap dibagi.
Siang yang sebentar di keraton tepian Sungai Kapuas
Siang itu kota Sanggau. Di tepian Sungai Kapuas, Kalimantan Barat waktu seperti berhenti sejenak. Kota yang kerap tampak sepanjang jalan raya saja itu dimandikan cahaya matahari yang memendar ke segenap penjuru mataangin. Tidak menyengat. Tidak pula redup cahayanya. Cahaya surya menyusup pelan ke segenap penjuru bumi Daranante–Babai Cinga.
Cahaya yang tidak hanya menerangi benda. Tapi juga ingatan.
Namun sejuk tetap tinggal. Bertahan di tepian Sungai Kapuas dengan panjang 1.143 kilometer. Sungai ini mengalir dari hulu di Pegunungan Müller di bagian tengah pulau Borneo hingga ke muaranya di Laut Cina Selatan, melewati sejumlah kabupaten di Kalbar seperti Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, Sanggau, Landak, Kubu Raya, dan Mempawah sebelum akhirnya mencapai Pontianak.
Panjang Sungai Kapuas menunjukkan betapa luas alirannya menembus lanskap Kalimantan Barat. Sekaligus menegaskan perannya sebagai urat nadi kehidupan, transportasi, dan budaya masyarakat di sepanjang bantaran sungai.
Sungai tua itu mengalir tanpa suara. Tanpa keluhan. Ia membawa waktu. Mengangkut sejarah. Dari hulu ke hilir. Dari masa yang jauh. Ke hari ini.
Secangkir kopi raja: kenikmatan sempurna
Ini bukan kiasan. Bukan metafora. Bukan pula tamsil. Maknanya lugas. Raja Sanggau XXV. Gusti Arman. Menyuguhkan secangkir kopi kepada dayaktoday.com yang datang menghadap ke bawah dulinya. Suatu siang. Di Istana Surya Negara, Sanggau nan lengang.
Kopi itu tidak diumumkan. Tidak dipentaskan. Tidak didramatisasi. Ia hadir begitu saja. Seperti kebiasaan rumah. Seperti orang menerima tamu yang sudah lama dikenal. Padahal perjumpaan itu adalah perjumpaan simbolik. Antara istana dan jurnalisme. Antara kuasa dan pencatat zaman.
Dalam secangkir kopi itu. Ada sesuatu yang runtuh. Jarak. Yang selama ini dijaga oleh adat. Oleh struktur. Oleh sejarah panjang kerajaan. Jarak itu tidak dirobohkan dengan pidato. Tapi dilipat pelan-pelan. Dengan tangan. Dengan senyum. Dengan keramahan.
Kopi bekerja sebagai bahasa. Ia tidak bertanya siapa lebih tinggi. Siapa lebih rendah. Ia hanya bertanya satu hal. Apakah kita bersedia duduk. Dan berbagi waktu.
Menghadap raja tanpa Sesembahan
“Maaf Gusti. Kami datang menghadap tidak membawa sesembahan apa pun. Hanya membawa badan.”
Begitu saya membuka kata.
Kalimat itu jujur. Polos. Hampir kikuk. Tapi justru di situlah letak etikanya. Ia tahu tradisi. Ia paham sejarah. Ia sadar bahwa dulu menghadap raja tidak pernah dengan tangan kosong. Selalu ada upeti. Selalu ada persembahan. Selalu ada simbol takzim.
“Terdorong keinginan kuat menjalin kembali tali silaturahmi yang lama terputus.”
Kalimat itu mengandung pengakuan. Bahwa ada jarak sejarah. Bahwa ada hubungan yang sempat renggang. Bahwa perjumpaan ini bukan kebetulan.
“Sekaligus menggali. Wawancara. Mengumpulkan bahan untuk dayaktoday.com. Sekaligus nanti, jika bahan-bahan sudah cukup, akan menjadi buku.”
Ini bukan basa-basi. Ini pernyataan niat. Terang. Tanpa kamuflase.
“Tidak mengapa.”
Sahut baginda raja.
Pelan. Tegas.
“Zaman telah berubah. Dahulu rakyat datang menghadap membawa upeti dan sesembahan. Raja zaman kini berbeda. Melayani.”
Di titik ini. Sejarah berbelok. Bukan karena revolusi. Tapi karena kesadaran. Bahwa kekuasaan yang bertahan bukan yang dijaga jaraknya. Melainkan yang mau mendekat.
Kalimat raja itu singkat. Tapi ia mengandung tafsir panjang tentang perubahan zaman. Tentang pergeseran makna kuasa. Dari menerima. Menjadi memberi.
Ugahari yang Membuat Hormat
Dari dekat. Sosok Gusti Arman tampak ugahari.
Raja Sanggau kelahiran 1965 itu tidak menjaga jarak dengan tamu. Tidak pula sibuk menjaga citra. Tidak jaim. Tidak dibuat-buat. Duduk apa adanya. Berbicara apa adanya.
Justru karena itu. Orang hormat. Sekaligus menghargainya.
Ugahari bukan soal penampilan. Ia soal sikap batin. Tentang merasa cukup. Tentang tidak perlu menegaskan kuasa dengan atribut. Atau dengan gestur berlebihan.
“Ada bantuan rutin setiap bulan dari Pemkab Sanggau.”
Raja Sanggau mengisahkan. Nada suaranya perlahan, seperti sengaja diturunkan.
“Untuk operasional rumah tangga kerajaan. Memang tidak banyak. Tapi sangat berarti.”
Kalimat itu jujur. Tidak mengeluh. Tidak pula membanggakan.
“Termasuk uang kopi. Untuk tamu yang datang berkunjung.”
Kopi kembali muncul. Bukan sebagai simbol besar. Tapi sebagai detail kecil yang justru menentukan. Uang kopi. Kata yang sederhana. Tapi menyimpan etika keramahtamahan.
Dayak-Sinan
Di keraton ini. Yang bekerja bukan hanya dari trah Sinan/ Melayu. Tapi juga Dayak.
“Kami bantu pendidikannya. Semua keperluannya, kami sediakan pula.”
Kalimat itu diucapkan tanpa tekanan. Tanpa retorika inklusivitas. Tapi justru di situlah inklusivitas bekerja. Dalam praktik. Dalam keseharian. Dalam keputusan sunyi.
Keraton tidak diposisikan sebagai monumen masa lalu. Tapi sebagai ruang hidup. Yang merawat keberagaman. Yang menyesuaikan diri dengan realitas sosial Sanggau hari ini.
Kopi Raja dan Waktu yang Dibagi
Siang itu mengalir. Tanpa agenda ketat. Tanpa protokol berlapis. Dalam kisah. Dalam obrolan. Dalam tawa yang tidak dibuat-buat.
dayaktoday.com menikmati secangkir kopi raja.
Bahannya mungkin sama dengan kopi di tempat lain. Biji kopi. Air panas. Cangkir. Semua bisa saja serupa. Tapi kontekslah yang mengubah rasa. Diminum di mana. Dihirup bersama siapa.
Di situlah bedanya.
Kopi itu mengandung sejarah. Mengandung sikap. Mengandung pilihan etis seorang raja di zaman yang berubah cepat. Zaman ketika kerajaan tidak lagi berdaulat secara politik. Tapi masih bisa berdaulat secara moral.
Secangkir kopi itu mengajarkan satu hal sederhana. Bahwa peradaban tidak selalu dibangun oleh keputusan besar. Kadang ia tumbuh dari hal kecil. Dari keramahan. Dari kesediaan meluangkan waktu. Dari sikap melayani.
Anda ingin menikmati kopi raja?
Bertamulah ke Keraton Surya Negara, Sanggau!
Datanglah tidak dengan sesembahan. Cukup dengan niat baik. Dengan kesediaan mendengar. Dan dengan waktu yang tidak tergesa.
Karena di sana. Secangkir kopi bukan sekadar minuman yang menghangatkan badan. Kopi adalah cara kerajaan bertahan. Dengan menjadi manusia.
Jakarta, 06/02-2026
0 Comments