Losmen yang Menyimpan Sisa | Cerpen Rangkaya Bada

Ilustrasi cerita semata.
Ilustrasi cerita semata. Ist.

Ia tiba ketika senja berhenti memilih warna. 

Cahaya tidak jatuh. Tidak pula menghilang. Ia menggantung, seperti niat yang terlalu lama disimpan. Udara di halaman penginapan itu terasa lebih berat dari biasanya, seolah setiap napas harus membayar ongkos.

Di buku tamu, ia menulis satu huruf saja. R. Tidak ada nama belakang. Tidak ada alamat. Tintanya sedikit meleber, bukan karena pena buruk, melainkan karena tangan yang menulis gemetar menahan sesuatu. 

Penjaga meja depan menatap sekilas. Lalu menunduk. Di tempat seperti ini, orang belajar bahwa membaca terlalu jauh bisa berbahaya.

Penginapan itu dikenal sebagai Losmen Senyap. Nama yang tidak pernah resmi, tapi diwariskan dari mulut ke mulut. Bangunannya tua, lebih tua dari cerita-cerita kecil yang berusaha menempel padanya. Dindingnya menyerap suara. Tangga kayunya berderit seperti orang tua yang bermimpi berjalan. Banyak tamu menginap. Tidak semua pulang dengan utuh.

R berjalan pelan, mantel tipis membungkus tubuhnya yang rapuh tapi keras kepala. Rambutnya putih, bukan putih yang lembut, melainkan putih yang kering, seperti abu sisa sesuatu yang lama terbakar. Matanya jernih, terlalu jernih. Seperti orang yang sudah memutuskan satu hal, lalu menutup pintu pada semua kemungkinan lain.

Di luar, seorang perempuan muda masih duduk di dalam mobil. Namanya Rara. Usianya belum genap seperempat abad, tapi matanya sudah sering melihat akhir. Ia menatap kaca spion. 

Di sana, untuk sesaat, ia melihat lebih dari satu bayangan. Wajahnya sendiri, dan sesuatu yang berdiri terlalu dekat di belakang. Ketika ia menoleh, halaman kosong. Namun rasa dingin tertinggal di tengkuknya.

***

R membuka pintu kamar. 

Tidak ada nomor. Angka di pintu telah lama terkelupas, menyisakan bekas paku yang tersusun ganjil, seperti hitungan yang tidak pernah selesai. 

Begitu pintu dibuka, bau kayu basah dan sesuatu yang pahit menyambut. Rara menahan napas. Kamar itu sempit, tapi terasa dalam, seperti lubang yang terus memanjang ke bawah.

Jam dinding berdetak tidak teratur. Kadang cepat, kadang berhenti. Seolah waktu sendiri sedang ragu apakah ia perlu hadir.

Rara masuk dengan langkah tertahan. Lantainya dingin, terlalu dingin untuk sore hari. Ia duduk di tepi ranjang, sementara R berdiri di tengah kamar, memejamkan mata, menghirup udara seperti orang yang akhirnya pulang setelah lama tersesat.

“Masih ada,” gumamnya.

Rara tidak bertanya. Ada kalimat yang lebih baik dibiarkan menggantung, karena jika jatuh, ia akan pecah.

Dari saku mantel, R mengeluarkan benda kecil. Bentuknya tak jelas. Bukan sepenuhnya obat, bukan pula sekadar benda. Ia menatapnya lama, lalu tersenyum. Senyum yang bukan bahagia, melainkan lega, seperti orang yang akhirnya berhenti melawan.

Jam berhenti berdetak.

Rara merasa ruangan menyempit. Sudut kamar tampak lebih gelap dari seharusnya. Bayangan di dinding bergerak tanpa sebab, mendahului tubuh yang seharusnya menciptakannya. Ia berdiri, ingin melangkah pergi, tapi kakinya terasa berat, seolah lantai menahannya dengan ingatan.

“Jangan lihat ke sudut,” kata R pelan. “Di sana yang belum selesai.”

Kalimat itu membuat udara bergetar.

R duduk di ranjang. 

Napasnya berat. Setiap tarikan seperti menarik sesuatu dari dalam dada yang tak ingin keluar. Rara menutup mata. Ia merasa ada sesuatu melintas di belakangnya, bukan suara, bukan sentuhan, melainkan kehadiran.

Ketika ia membuka mata kembali, R telah terbaring. Tubuhnya diam, terlalu diam. Mulutnya sedikit terbuka, seolah hendak mengucap satu kata terakhir yang tak sempat menemukan suara.

Rara menjerit.

Ia berlari keluar kamar. Lorong terasa memanjang, lampu berkedip seperti mata yang lelah. Di setiap pintu, ia merasa ada yang mengintip. Tangisnya pecah di halaman, menarik perhatian warga sekitar yang masih sempat percaya bahwa malam ini akan biasa saja.

“Ada yang ikut masuk,” kata Rara terbata. “Kami bertiga.”

Mereka mengira itu kepanikan. Sampai seorang lelaki tua bernama Karsa membuka kamar tanpa nomor itu.

***

R masih di sana. Tubuhnya rapi, terlalu rapi untuk kematian yang mendadak. Tangannya terlipat di dada, tapi bukan oleh kehendaknya sendiri. Di dadanya tampak bekas tekanan, seperti genggaman yang terlalu yakin.

Namun bukan itu yang membuat Karsa mundur.

Di dinding kamar, garis-garis basah muncul perlahan. Bukan air. Bukan darah. Seperti embun yang belajar menulis. Garis-garis itu membentuk kalimat tanpa huruf, terbaca bukan oleh mata, melainkan oleh dada.

“Aku hanya menagih sisa.”

Tulisan itu tidak mengering.

Losmen Senyap ditutup malam itu. Dipaku. Ditutup papan. Tapi warga tahu, setiap senja kehilangan warnanya, kamar tanpa nomor itu selalu menyala sendiri. Jamnya berdetak lagi. Tidak ke depan. Tidak ke belakang. Hanya mengulang.

Dan kadang, di antara dua tarikan angin, terdengar napas tua yang panjang.

Seperti seseorang yang akhirnya sadar bahwa tidak semua yang ditunda bisa diselamatkan.

Dan tidak semua sisa mau dilupakan.

Jakarta, 08 Februari 2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.