Maidiantinus Tanyid Dikukuhkan sebagai Guru Besar melalui Sidang Senat Terbuka IAKN Palangka Raya
| Maidiantinus Tanyid di podium menyampaikan orasi ilmiah mengiringi pengukuhan guru besarnya. Korelasi Pendidikan teologi-gereja-masyarakat diulik dan dipaparkannya secara terbuka, jujur, dan terang benderang. Dok. IAKN. |
Palangka Raya, dayaktoday.com — Maidiantinus Tanyid dikukuhkan sebagai Guru Besar (profesor) melalui Sidang Senat Terbuka Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Palangka Raya yang dilaksanakan pada 5 Februari tahun 2026.
Pengukuhan Maidiantinus Tanyid menjadi guru-besar dilakukan oleh Senat IAKN Palangka Raya dalam Sidang Senat Terbuka yang diselenggarakan pada tahun 2026.
Kegiatan akademik bergengsi yang langka ini berlangsung bersamaan dengan pengukuhan Rektor IAKN Palangka Raya, Prof. Telhalia, sebagai pimpinan tertinggi institusi tersebut.
Kunjungi Sidang Senat Terbuka | Pengukuhan Guru Besar IAKN Palangka Raya
Orasi Ilmiah tentang Moderasi Beragama
Dalam sidang senat tersebut, Prof. Dr. Maidiantinus Tanyid, M.Th. menyampaikan orasi ilmiah yang dirumuskan dalam general statement yang mudah ditangkap berjudul “Transformasi Pendidikan Kristen Konteks Keindonesiaan dalam Mengembangkan Sikap Moderasi Beragama di Indonesia.”
Orasi ilmiah ini menyoroti peran pendidikan Kristen dalam merespons realitas kemajemukan Indonesia serta tantangan kehidupan beragama di ruang publik.
Maidiantinus Tanyid menekankan bahwa pendidikan Kristen perlu dikembangkan secara kontekstual dan dialogis. Sedemikian rupa, sehingga mampu berkontribusi dalam membangun sikap moderasi beragama, toleransi, serta kohesi sosial di tengah masyarakat yang plural. "Pendidikan Kristen melampaui batas-batas dogma," tegasnya.
Ukurannya adalah kasih, "Ini pemikiran moderasi," paparnya. "Transformasi yang melampaui batas-batas dogma. Kapasitas untuk berempati dan memahami perspektif yang bebeda."
"Dalam hal inilah transformasi pendidikan Kristen penting, kasih Allah, mendesain teks-teks suci kreatif dan kontekstual yang melibatkan semua bentuk sikap kearifan lokal, budaya-budaya di Indonesia yang memiliki tanaman karekater luar biasa, yang membentuk tatanan nilai kemanusiaan yang luar biasa," terang profesor baru dalam rumusan kata yang mudah dicerna.
"Perbedan adalah bagian dari ciptaan Tuhan!" kata guru besar etnis Dayak Kenyah dalam nada suara tinggi.
"Kita mesti berani untuk menolak kebenaran tunggal yang eksklusif," ia menggarisbawahi.
Perjalanan akademik Maidiantinus Tanyid
Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Maidiantinus Tanyid menekuni bidang Pendidikan Agama Kristen dan teologi kontekstual.
Maidiantinus Tanyid juga berperan aktif dalam penguatan sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi, baik di tingkat institusi maupun nasional.
Bagi IAKN Palangka Raya, pengukuhan ini dinilai strategis dalam memperkuat kapasitas akademik kampus.
Peristiwa tersebut sekaligus menegaskan arah pengembangan institusi dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi ke depan yang berakar.
Kiprah Akademik dan Peran Profesional
Prof. Dr. Maidiantinus Tanyid M.Th. merupakan akademisi senior di IAKN Palangka Raya dengan fokus keilmuan pada Pendidikan Agama Kristen, teologi kontekstual, dan penjaminan mutu pendidikan tinggi.
Di samping menjalankan tugas sebagai dosen dan peneliti, ia juga terlibat aktif dalam pengembangan tata kelola akademik dan mutu institusi.
Pada aras tataran nasional, Prof. Dr. Maidiantinus Tanyid, M.Th. tercatat menjalankan peran sebagai asesor lapangan dalam proses asesmen dan akreditasi perguruan tinggi.
Peran tersebut berkaitan dengan evaluasi mutu akademik, sistem penjaminan mutu internal, serta pemenuhan standar pendidikan tinggi.
Latar Belakang dan Konteks Keindonesiaan
Prof. Dr. Maidiantinus Tanyid, M.Th. dilahirkan sebagai bagian dari komunitas Dayak Kenyah di Long Pungu, wilayah pedalaman Kalimantan Utara. Latar belakang tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup dan akademiknya, terutama dalam memahami pendidikan sebagai proses yang berakar pada konteks sosial dan budaya.
Pengukuhan Guru Besar ini mencerminkan semakin terbukanya ruang akademik bagi putra-putri daerah untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi di Indonesia. Pendidikan tinggi tidak hanya dipahami sebagai ruang akademik, tetapi juga sebagai sarana penguatan nilai kebangsaan dalam masyarakat yang majemuk.
Jejak digital karya akademik Google Scholar
Berdasarkan data sitasi akademik di Google Scholar Prof. Dr. Maidiantinus Tanyid, M.Th. mencatat 312 sitasi dengan 255 sitasi sejak tahun-tahun terakhir, yang menunjukkan tingkat keterbacaan dan penggunaan karya ilmiahnya di lingkungan akademik.
Angka sitasi tersebut merefleksikan bahwa gagasan dan temuan akademiknya tidak berhenti pada publikasi, tetapi digunakan dan dirujuk oleh peneliti lain.
Nilai h-index sebesar 6 menunjukkan bahwa sedikitnya enam publikasi Prof. Maidiantinus Tanyid telah masing-masing disitasi minimal enam kali. Indeks ini menggambarkan konsistensi produktivitas ilmiah sekaligus dampak akademik yang berkelanjutan, khususnya dalam bidang Pendidikan Agama Kristen dan kajian teologi kontekstual.
Publikasi dan sitasi karya ilmiah mengukuhkan kepakaran Maidiantinus
Sementara itu, i10-index sebesar 4 menandakan bahwa terdapat empat karya ilmiah yang telah disitasi lebih dari sepuluh kali.
Data ini memperlihatkan adanya karya-karya kunci karya akademik Maidiantinus yang memiliki pengaruh lebih kuat dan menjadi rujukan penting dalam diskursus akademik terkait pendidikan dan keagamaan.
Capaian sitasi, h-index, dan i10-index tersebut menunjukkan posisi Prof. Dr. Maidiantinus Tanyid, M.Th. sebagai akademisi yang produktif dan relevan. Kinerja akademik ini memperkuat legitimasi ilmiah atas pengukuhannya sebagai Guru Besar serta mencerminkan kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan tinggi Kristen di Indonesia.
Sementara itu SINTA juga merekam jejak karya dan publikasi beliau yang tidak kalah "seru".
Data kinerja publikasi menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara basis data Scopus dan Google Scholar. Dalam indeks Scopus, Prof. Dr. Maidiantinus Tanyid, M.Th. tercatat memiliki dua artikel, dengan sembilan sitasi dan satu dokumen yang disitasi. Sementara itu, pada Google Scholar tercatat 28 artikel dengan 287 sitasi, yang menunjukkan jangkauan karya ilmiah yang lebih luas di ekosistem akademik nasional dan regional.
Perbedaan ini mencerminkan karakter publikasi yang kuat di ranah pendidikan dan teologi, bidang yang secara tradisional lebih banyak terindeks di Google Scholar dibandingkan Scopus. Banyak karya ilmiah di bidang Pendidikan Agama Kristen dan teologi kontekstual diterbitkan dalam jurnal nasional, prosiding, dan buku akademik yang belum seluruhnya terindeks Scopus, tetapi memiliki tingkat keterbacaan dan penggunaan yang tinggi.
Dari sisi dampak akademik, h-index Scopus sebesar 1 menunjukkan satu publikasi yang telah disitasi setidaknya satu kali, sedangkan h-index Google Scholar sebesar 6 menandakan konsistensi produktivitas dan pengaruh yang lebih stabil. Hal ini menunjukkan bahwa karya Prof. Dr. Maidiantinus Tanyid tidak bersifat insidental, melainkan berkelanjutan dan dirujuk secara berulang oleh peneliti lain.
Indikator i10-index memperkuat gambaran capaian akademik tersebut. Pada basis data Scopus, i10-index masih bernilai 0, sedangkan pada Google Scholar mencapai angka 4, yang menunjukkan adanya empat karya yang telah disitasi lebih dari sepuluh kali.
Sekadar untuk diketahui bahwa nilai g-index sebesar 1 pada kedua basis data menandakan keberadaan satu karya inti yang menjadi rujukan utama dalam bidang kajian yang digeluti.
Data ini menunjukkan bahwa kekuatan utama kontribusi akademik Prof. Dr. Maidiantinus Tanyid, M.Th. terletak pada pengaruh substantif di komunitas akademik pendidikan dan teologi.
Pengaruh tersebut terutama tampak dalam konteks Indonesia, di mana karya-karyanya banyak dirujuk dan digunakan dalam pengembangan wacana keilmuan.
Impak keilmuan tersebut tidak hanya diukur melalui indeks internasional bereputasi tinggi, tetapi juga melalui keberterimaan, penggunaan, dan relevansi karya di ruang akademik yang lebih luas.
Dengan pengukuhan sebagai profesor, Maidiantinus Tanyid mengimbuhi bilangan profesor Dayak sepanjang sejarah sebanyak: 36 profesor Dayak.
Pewarta : Masri Sareb Putra
0 Comments