Masri Lengkapi Narasumber Studium Generale STT Pontianak, Tegaskan Pentingnya Kembali ke Teks Primer sebagai Penguatan "Ekklesia Domestika"

Masri Sareb Putra Lengkapi Narasumber Studium Generale STT Pontianak
Masri Sareb Putra Lengkapi Narasumber Studium Generale STT Pontianak: Dr. Wilson anak Ayub dan Dr. Urbanus, ketiganya sivitas akademika IAKN Palangka Raya. Ist.

Studium generale di Sekolah Tinggi Teologi Pontianak berlangsung hangat dan reflektif ketika mengangkat tema “Penelitian Bidang Teologi dan Pendidikan Berbasis Budaya Dayak”. 

Kuliah umum ini diselenggarakan di kampus, Jalan Perintis, Kotabaru, Pontianak pada 23 Februari 2026.

Kuliah umum di Sekolah Tinggi Teologi Pontianak berlangsung dinamis ketika mengangkat tema “Penelitian Bidang Teologi dan Pendidikan Berbasis Budaya Dayak”. 

Forum akademik ini menghadirkan sejumlah narasumber kunci, di antaranya Dr. Wilson, M.Th. dan Dr. Urbanus, M.Th. Pada sesi penutup, Masri Sareb Putra tampil sebagai juru kunci yang merangkum sekaligus menajamkan arah refleksi.

Meski hanya diberi waktu sekitar tujuh menit, Masri  tidak sekadar melengkapi. Ia mengikat gagasan yang telah dipaparkan sebelumnya dan menggeser fokus diskusi ke soal metodologi dan integritas akademik. Baginya, penelitian teologi yang berbasis budaya Dayak bukan sekadar wacana identitas, tetapi kerja ilmiah yang menuntut kedalaman, ketekunan, dan keberanian kembali ke sumber.

Kuliah umum ini menjadi ruang penting untuk menegaskan bahwa teologi tidak lahir di ruang hampa. Ia selalu berdialog dengan konteks. Dalam hal ini, konteks itu adalah budaya Dayak yang kaya nilai, simbol, praktik adat, dan sejarah panjang di Borneo.


Teologi dan Budaya Dayak sebagai Ladang Riset

Dalam pemaparan awal, para narasumber menekankan bahwa budaya Dayak menyimpan kekayaan nilai yang relevan bagi pengembangan teologi dan pendidikan Kristen. 

Tradisi lisan, simbol adat, ritus, hingga struktur sosial mengandung kearifan lokal yang dapat menjadi pintu masuk refleksi teologis.

Masri mempertegas bahwa penelitian berbasis budaya Dayak harus dilakukan secara serius, bukan sekadar romantisasi budaya. Ia mengingatkan bahwa budaya bukan ornamen tambahan dalam teologi, melainkan medan dialog yang hidup.

Menurutnya, mahasiswa teologi di Kalimantan Barat memiliki tanggung jawab historis. Mereka berada di tengah masyarakat Dayak dengan segala dinamika perubahan sosial, ekonomi, dan pendidikan. Karena itu, riset teologi dan pendidikan harus berpijak pada realitas konkret, bukan hanya mengutip teori dari luar konteks.

Ia mendorong mahasiswa untuk menggali praktik adat, cerita rakyat, nilai gotong royong, dan sistem kekerabatan sebagai bahan refleksi teologis yang kontekstual. Namun, semua itu harus dilakukan dengan pendekatan ilmiah yang disiplin.

Mahasiswa STT Pontianak pada Studium Generale STT Pontianak
Mahasiswa STT Pontianak pada Studium Generale STT Pontianak. Ist.

Kembali ke Sumber dan Teks Primer

Dalam bagian yang paling ditekankan, Masri mengajak mahasiswa untuk rajin membaca dan berjumpa langsung dengan teks primer. Baik dalam penelitian teologi maupun pendidikan, ia menegaskan pentingnya merujuk pada sumber asli.

Kitab Suci, dokumen gereja, karya teolog klasik, hasil penelitian etnografi, hingga catatan sejarah lokal harus dibaca secara langsung. “Jangan puas pada kulit arinya saja,” pesannya kepada mahasiswa.

Ia menyoroti kecenderungan generasi muda yang sering mengandalkan ringkasan, kutipan viral, atau potongan video di media sosial. 

Dalam konteks penelitian berbasis budaya Dayak, pendekatan semacam itu berbahaya. Kesalahan membaca satu istilah adat atau satu simbol budaya dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Penelitian yang serius menuntut ketekunan membaca, mencatat, membandingkan sumber, dan melakukan verifikasi lapangan. Tanpa itu, riset akan rapuh dan mudah dipatahkan.

Masri menegaskan bahwa integritas akademik adalah bagian dari spiritualitas. Seorang peneliti teologi tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi juga menunjukkan iman itu melalui kejujuran ilmiah.

Tidak Semua di Internet Itu Benar

Dalam suasana yang penuh perhatian, Masri menyampaikan peringatan yang sederhana namun tegas: tidak semua di internet itu benar.

Ia mengakui bahwa internet membuka akses luas terhadap informasi. Namun, akses yang luas tidak selalu berarti kebenaran. Banyak tulisan tentang budaya Dayak beredar tanpa sumber jelas, bahkan mengandung generalisasi dan stereotip.

Bagi mahasiswa yang sedang meneliti teologi dan pendidikan berbasis budaya Dayak, sikap kritis menjadi keharusan. Setiap data harus diverifikasi. Setiap kutipan harus dicek asal-usulnya. Setiap klaim harus diuji dengan pendekatan ilmiah.

Masri menekankan bahwa peneliti tidak boleh menjadi korban arus informasi. Mereka harus menjadi penyaring, bukan sekadar penyebar ulang. Kesalahan dalam memahami budaya lokal dapat berdampak panjang, apalagi jika sudah terpublikasi dalam karya ilmiah.

Literasi digital, menurutnya, harus berjalan seiring dengan literasi akademik. Internet boleh digunakan sebagai pintu awal, tetapi bukan satu-satunya rujukan.


Dua Butir Motivasi bagi Mahasiswa

Di penghujung kuliah umum, Masri merumuskan dua butir motivasi yang ditujukan langsung kepada para mahasiswa.

Pertama, rajin membaca dan bertemu dengan teks primer. Penelitian teologi dan pendidikan berbasis budaya Dayak menuntut kedalaman. Kedalaman hanya lahir dari kesetiaan pada sumber.

Kedua, jangan mudah percaya pada informasi yang belum teruji. Dalam dunia yang serba cepat, godaan untuk mengambil jalan pintas sangat besar. Namun, jalan pintas sering kali mengorbankan kualitas dan kebenaran.

Kuliah umum hari itu bukan sekadar forum akademik, melainkan momentum pembentukan karakter ilmiah. Tema penelitian teologi dan pendidikan berbasis budaya Dayak menemukan maknanya ketika mahasiswa didorong untuk berpikir kritis, membaca tekun, dan meneliti dengan integritas.

Masri Sareb Putra mungkin berbicara singkat, tetapi sebagai juru kunci ia menutup forum dengan pesan yang kuat. Riset yang kontekstual membutuhkan kesetiaan pada budaya lokal dan kesetiaan pada metode ilmiah. 

Di tengah banjir informasi, keberanian kembali ke sumber menjadi sikap yang menentukan masa depan teologi dan pendidikan di tanah Dayak. (X-5)

0 Comments

Type above and press Enter to search.