Prof. Telhalia, Rektor IAKN Palangka Raya dan Tim Menyambangi 5 Calon Doktor GKK di Lupung Cofee, Sekadau
Pendampingan akademik IAKN yang total pada mahasiswa. Dok. Istimewa.
Rektor IAKN Palangka Raya, Prof. Telhalia Ambung dan tim menyempatkan diri singgah di Sekadau dalam suatu rangkaian di locus studiorum wilayah timur Kalimantan Barat. Menyambangi dengan sengaja 5 kandidat doktor dari Gerakan Keling Kumang sebagai ujud totalitas institusi bagi pelayanan akademik dan bimbingan kepada mahasiswa.
Singgah itu tampak sederhana.
Hanya berhenti sejenak. Menyeruput kopi. Berbincang ringan. Namun, di balik gestur yang bersahaja itu, terselip pesan yang lebih dalam: kepedulian Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya terhadap kemajuan dan perkembangan mahasiswa.
Pendampingan akademik IAKN yang total pada mahasiswa
Titik temu mereka bukan ruang rapat berpendingin udara atau aula resmi kampus. Mereka memilih Lupung Coffee, kedai kopi yang belakangan menjelma menjadi simpul percakapan komunitas literasi dan pemberdayaan.
Di public sphere ternama kebangsaan kota Sekadau milik Gerakan Keling Kumang itu, ide-ide berkelindan tanpa sekat protokoler.
Mahasiswa, pegiat literasi, dan akademisi kerap bertukar pikiran, menyulam gagasan tentang pendidikan, budaya, dan masa depan daerah.
Perjalanan darat menuju Sintang pada Rabu, 18 Februari 2026, sejatinya lebih dari sekadar agenda mobilitas pimpinan kampus.
Tim dipimpin Rektor IAKN Palangka Raya, Telhalia Ambung. Ia didampingi Dr. Wilson, Dr. Tirta Susila, Dr. Prasetinawati, dan Dr. Jhon Retei. Mereka tengah menjalankan penelitian di Sintang, sebuah kerja akademik yang menuntut kehadiran langsung di lapangan.
Namun, seperti lazimnya perjalanan intelektual, yang terpenting bukan hanya tujuan, melainkan perjumpaan.
Di Lupung Coffee, Sekadau pertemuan itu menjadi simbol: kampus tidak berdiri jauh dari denyut komunitas. Ia hadir, menyapa, dan mendengar.
Singgah yang sederhana itu pun menjadi penanda. Bahwa pendidikan tinggi bukan semata urusan kurikulum dan akreditasi, melainkan juga soal kepekaan sosial.
Di antara aroma kopi yang mengepul, percakapan tentang masa depan mahasiswa menemukan ruangnya.
Kelimanya sudah boleh disebut "kandidat doktor" sebab telah lulus ujian proposal disertasi dan pada ketika ini sedang dalam persiapan maju Seminar Hasil (Penelitian). Agenda dan jadwal akademik menjadi salah satu topik diskusi.
Pertemuan berlangsung tanpa protokoler berlebihan. Tidak ada panggung atau podium. Hanya meja kopi, percakapan terbuka, dan semangat berbagi pengalaman.
Dalam obrolan yang mengalir, isu metodologi penelitian, tantangan penulisan disertasi, hingga pentingnya publikasi ilmiah menjadi pokok bahasan. Prof. Telhalia dan tim mendengarkan secara langsung pergulatan akademik yang dialami para kandidat doktor.
Diskusi pun berkembang menjadi refleksi tentang peran perguruan tinggi dalam mendampingi mahasiswa, terutama mereka yang berasal dari daerah dan berjuang membagi waktu antara aktivitas sosial, pekerjaan, serta studi doktoral.
Bagi IAKN Palangka Raya, pertemuan seperti ini bukan sekadar kunjungan informal. Ia menjadi bagian dari komitmen membangun relasi yang intens antara dosen dan mahasiswa.
Penguatan dan pendampingan akademik dipandang sebagai fondasi penting agar proses studi tidak berjalan sendiri-sendiri. Kampus hadir bukan hanya saat kuliah berlangsung, tetapi juga dalam perjalanan riset yang panjang dan menuntut ketekunan.
Lima Kandidat Doktor dan Semangat Gerakan
Lima kandidat doktor dari Gerakan Keling Kumang Musa Narang, Masri Sareb, Adil Bertus, Mikael, dan Velentinus Narung adalah mahasiswa Program Doktor IAKN.
Mereka bukan hanya mahasiswa yang mengejar gelar akademik, tetapi juga bagian dari gerakan pemberdayaan masyarakat yang telah lama berakar di Kalimantan Barat. Para kandidat doktor dari GKK didamingi Rektor ITKK waktu itu, Dr. Stefanus Masiun.
Sekadar untuk pengetahuan bahwa Gerakan Keling Kumang dikenal sebagai gerakan ekonomi berbasis komunitas yang menekankan kemandirian dan penguatan sumber daya manusia. Kini, sebagian penggeraknya melangkah lebih jauh dengan menempuh studi doktoral. Langkah ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak berhenti pada praktik lapangan, tetapi juga diperkuat melalui basis teori, riset, dan publikasi ilmiah.
Dalam pertemuan di Sekadau, kelima kandidat doktor tersebut berbagi pengalaman tentang tantangan penelitian di lapangan. Ada yang menyoroti kompleksitas data sosial, ada pula yang mengisahkan perjuangan menjaga konsistensi menulis di tengah kesibukan. Prof. Telhalia dan tim memberikan masukan sekaligus dorongan moral. Dialog itu terasa setara, penuh penghargaan terhadap pengalaman masing-masing.
Dari Kalimantan Barat sendiri, mahasiswa IAKN Palangka Raya tercatat cukup signifikan jumlahnya. Fakta ini memperlihatkan bahwa institusi tersebut menjadi salah satu pilihan penting bagi putra-putri daerah untuk melanjutkan pendidikan tinggi, khususnya di bidang keagamaan dan sosial. Relasi geografis antara Palangka Raya dan berbagai wilayah di Kalimantan Barat membentuk jejaring akademik yang kian erat.
Karena itu, penguatan dan pendampingan bukan sekadar jargon. IAKN Palangka Raya menyadari bahwa banyak mahasiswanya berasal dari latar belakang yang beragam, baik secara budaya maupun sosial ekonomi. Pendekatan yang intens antara dosen dan mahasiswa menjadi kunci agar proses akademik berjalan optimal.
Pertemuan di Lupung Coffee menjadi contoh konkret bagaimana relasi itu dirawat secara personal dan dialogis.
Literasi, Riset, dan Komitmen Institusional
Di sela diskusi hangat tersebut, Masri Sareb Putra menyerahkan buku berjudul Eksploitasi Dayak Masa ke Masa yang ia tulis bersama Cornelis. Buku itu diterima secara simbolis oleh Prof. Telhalia Ambung. Penyerahan tersebut bukan sekadar seremoni kecil, melainkan simbol komitmen terhadap tradisi literasi dan publikasi.
Bagi IAKN Palangka Raya, identitas sebagai kampus literasi, riset, dan publikasi tidak berhenti pada slogan. Sivitas akademika didorong untuk aktif membaca, meneliti, menulis, dan mempublikasikan karya ilmiah. Dalam konteks pendidikan tinggi keagamaan, riset tidak hanya menyentuh aspek teologis, tetapi juga sosial, budaya, dan kemasyarakatan.
Pertemuan di Sekadau memperlihatkan bahwa produksi pengetahuan dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana. Kedai kopi menjadi saksi bahwa dialog ilmiah tidak selalu harus berlangsung di aula kampus. Justru dalam suasana santai, pertukaran gagasan sering kali lebih jujur dan reflektif.
Prof. Telhalia dalam kesempatan itu menekankan pentingnya konsistensi dalam menulis dan mempublikasikan hasil riset. Menurutnya, disertasi bukan akhir perjalanan, melainkan awal kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat. Hasil penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dapat diakses publik dan memberi dampak nyata.
Komitmen penguatan dan pendampingan dosen kepada mahasiswa pun ditegaskan kembali. Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya menempatkan relasi akademik sebagai relasi pembinaan. Dosen bukan hanya pengajar, melainkan mentor yang berjalan bersama mahasiswa dalam proses intelektual yang panjang. Pendekatan ini penting, terutama bagi mahasiswa dari Kalimantan Barat yang jumlahnya signifikan dan memiliki kebutuhan kontekstual yang khas.
Perjalanan rombongan kemudian berlanjut menuju Sintang. Namun singgah singkat di Sekadau meninggalkan kesan mendalam. Ia menunjukkan bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar soal ruang kelas dan kurikulum. Ia tentang perjumpaan, dialog, dan komitmen bersama untuk menumbuhkan tradisi ilmiah.
Di antara secangkir kopi dan lembaran buku, jejaring intelektual dirawat. Dari Kalimantan Barat hingga Palangka Raya, dari gerakan komunitas hingga institusi akademik, semangat literasi dan riset terus bergerak.
Pertemuan itu menjadi penanda bahwa kampus dan masyarakat dapat berjalan seiring, saling menguatkan dalam membangun masa depan berbasis pengetahuan.
Penulis: Rangkaya Bada
0 Comments