Prof. Telhalia Dikukuhkan sebagai Guru Besar Teologi Perjanjian Baru
| Prof. Telhalia, Guru Besar Teologi Perjanjian Baru dari IAKN Palangka Raya. Ist. |
Palangka Raya. dayaktoday.com: Dayak menambah satu profesor baru. Hingga kini, menurut catatan Masri Sareb Putra, tercatat 34 profesor. Dengan pengukuhan Prof. Telhalia, M.Th., D.Th., jumlah profesor Dayak menjadi 35.
Sidang Senat Terbuka diselenggarakan oleh Senat IAKN Palangka Raya pada Kamis, 5 Februari 2026, mulai pukul 08.00 WIB di Aula dan Gedung Serba Guna IAKN Palangka Raya, Jalan Tampung Penyang, Kilometer 6.
Acara pengukuhan tahun ini mencatat momen bersejarah karena IAKN Palangka Raya secara resmi mengukuhkan dua guru besar sekaligus: Prof. Telhalia, M.Th., D.Th., dan Prof. Dr. Maldiantius Tanyid, M.Th. Kehadiran para anggota dewan, rektor dari berbagai provinsi, serta tamu undangan lainnya menegaskan pentingnya sidang ini bagi institusi dan dunia akademik.
Pengukuhan gelar Guru Besar merupakan bentuk pengakuan akademik tertinggi atas dedikasi, kepakaran, dan kontribusi ilmiah para profesor.
Bagi Telhalia, pengukuhan ini menegaskan kiprah panjangnya sebagai akademisi dan teolog kontekstual yang menekankan hubungan antara teks Perjanjian Baru, tradisi gereja, dan realitas sosial budaya masyarakat Dayak.
Kiprah Akademik dan Orasi Ilmiah
Prof. Telhalia dikukuhkan dalam Bidang Ilmu Teologi Perjanjian Baru, salah satu pilar utama kajian teologi Kristen yang menekankan analisis teks, konteks, dan pesan Perjanjian Baru. Bidang ini menjadi jembatan antara studi Kitab Suci dan implementasinya dalam kehidupan gereja serta masyarakat.
Dalam sidang pengukuhan, Telhalia menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Terjalin dengan Makna: Lawung dan Sumping sebagai Ekspresi Iman dalam Teologi Perjanjian Baru”. Orasi ini menekankan keterkaitan antara iman, budaya, dan teks Kitab Suci. Simbol-simbol adat Dayak seperti lawung (hiasan kepala pengantin) dan sumping yakni topi perempuan padanan lawung (topi laki-laki) diinterpretasikan sebagai ekspresi iman yang hidup, bukan sekadar ritual budaya.
Melalui orasi ini, Telhalia menunjukkan bagaimana teologi kontekstual dapat menjembatani pemahaman teks suci dengan praktik sosial dan budaya masyarakat. Ia menegaskan bahwa pengkajian Perjanjian Baru tidak boleh terlepas dari konteks sosial-budaya, karena iman yang hidup menuntut keterlibatan nyata dalam masyarakat.
Bersama Prof. Dr. Maldiantius Tanyid, M.Th., yang menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Transformasi Pendidikan Kristen dalam Konteks Keindonesiaan untuk Mengembangkan Sikap Moderasi Beragama di Indonesia”, pengukuhan dua guru besar ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan akademik IAKN Palangka Raya. Kehadiran kedua profesor memperlihatkan integrasi antara studi teks, pengajaran, dan pengabdian masyarakat, serta menegaskan relevansi pendidikan Kristen bagi pembangunan sosial dan budaya di Indonesia.
Sebagai akademisi, Telhalia dikenal konsisten dalam pengembangan studi teologi berbasis Kitab Suci, tradisi gereja, dan refleksi kontekstual. Publikasi dan penelitian ilmiahnya mencakup kajian perkawinan adat, moderasi beragama, pendidikan agama inklusif, dan integrasi iman-budaya. Indikator dampak ilmiahnya tercermin dari 295 sitasi sejak 2021, h-index 8, dan i10-index 7 yang menunjukkan bahwa karya-karyanya diakui secara nasional maupun internasional.
Latar Belakang, Pendidikan, dan Pelayanan
Telhalia lahir pada 26 Juni 1970 di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh di kota kelahirannya, menyelesaikan SD (1982), SMP (1985), dan SMA (1988). Pendidikan tinggi menandai awal karier akademik dan teologinya:
- Diploma Tiga (D-3) Teologi, Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT GKE) Banjarmasin, tamat 1993, ditahbis Pendeta (Pdt.) 1995.
- Strata Satu (S.Th.) Teologi, Universitas Kristen Palangka Raya (UKPR), tamat 2004.
- Strata Dua (M.Th.) Teologi, STT GKE Banjarmasin, tamat 2007.
- Strata Tiga (D.Th.) Teologi, Sekolah Tinggi Teologi Cipanas (STT Cipanas) Cianjur, tamat 2016.
Pengalaman akademik ini diperkuat oleh kiprah pelayanan sebagai pendeta di berbagai jemaat GKE. Telhalia pernah menjadi Ketua Jemaat Resort GKE Pendahara, Katingan (1995–1996); Ketua Jemaat Resort GKE Riwut Asi Kasongan, Katingan (1997–1999); Ketua Jemaat Resort GKE Langkai, Palangka Raya (2002–2005); dan Pendeta Pelayanan nonorganik di GKE Sinar Kasih Palangka Raya (2006–sekarang).
Karier akademiknya juga menanjak. Telhalia menjadi ASN sejak 2005, menjabat Sekretaris dan Ketua Jurusan Teologi, Anggota Senat STAKN Palangka Raya, Ketua STAKN Palangka Raya 2019, hingga Rektor IAKN Palangka Raya (2020–2024-2026).
Kiprah akademik dan pelayanan ini menunjukkan kemampuan Telhalia memadukan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat secara seimbang.
Karya, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat
Telhalia aktif menulis dan meneliti berbagai topik, terutama teologi kontekstual, perkawinan adat, moderasi beragama, dan pendidikan agama. Penelitiannya mengintegrasikan metode naratif, dialektika teologi-etis, serta analisis sosiologis.
Beberapa karya penting:
- Teologi Kontekstual Pelaksanaan Jalan Hadat Perkawinan Dayak Ngaju di GKE (2016).
- Realitas Sosial Pernikahan Beda Agama pada Masyarakat Dayak Ngaju di Perkotaan (2021).
- Pemenuhan Hukum Adat dalam Perkawinan Dayak Ngaju (2017).
- Riwayat Hidup Paulus: Sosiologi Dialektika Teologi-Etis menurut Surat Roma (2017).
- Merajut Iman dan Budaya: Peran Pemuda Gereja Melestarikan Tradisi Temu Pengantin Jawa (2025).
- Publikasi internasional Woven with Meaning: Lawung and Sumping as Expressions of Faith in New Testament Theology (2025).
- Buku Balancing Biomass Energy Utilization with Sustainability, Christian Education, and Social Justice: Theological and Ecosophical Approach (2025).
Telhalia juga berkontribusi dalam pengabdian masyarakat:
- Partisipasi pemimpin umat dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
- Moderasi beragama dalam pendidikan inklusif gereja di Kabupaten Barito Timur.
- Implementasi profil pelajar Pancasila dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen kelas X SMK Negeri 3 Palangka Raya.
Aktivitas organisasi: Anggota Ikatan Sarjana Biblika Indonesia (ISBI) sejak 2012, PERUATI (Perempuan Berpendidikan Teologi) sejak 2016, assesor BKD Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen sejak 2017, dan anggota Ikatan Dosen Pendidikan Kristen dan Teologi sejak 2017.
Melalui karya dan pengabdian, Telhalia menegaskan bahwa teologi bukan sekadar ilmu akademik, tetapi menjadi instrumen transformasi sosial, pendidikan, dan budaya.
Warisan Ilmiah dan Signifikansi Pengukuhan
Ketua Senat IAKN Palangka Raya, Dr. Wilson, D.Th., menyampaikan sambutan usai membuka sidang:
“Hari ini IAKN Palangka Raya mencatatkan peristiwa bersejarah dengan dikukuhkannya dua orang guru besar. Saya mengucapkan selamat kepada kedua profesor yang dikukuhkan. Semoga keilmuan dan pengabdiannya memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya Kalimantan Tengah, serta bagi Indonesia.”
Pengukuhan Telhalia sebagai Guru Besar menjadi simbol integrasi akademik dan pengabdian masyarakat. Orasi ilmiah dan penelitian menunjukkan bahwa teologi Perjanjian Baru tidak hanya hidup di ruang akademik, tetapi menjadi panduan praktik iman yang relevan dengan budaya dan kehidupan sosial masyarakat.
Momentum untuk memperkuat pendidikan
Telhalia menegaskan bahwa pengukuhan ini adalah momentum untuk memperkuat pendidikan Kristen kontekstual yang mengakar pada budaya lokal dan tradisi masyarakat Dayak. Orasinya yang mengaitkan simbol budaya (lawung dan sumping) dengan iman Kristen menekankan pentingnya teologi yang hidup dan dapat diaplikasikan dalam keseharian masyarakat.
Dengan pengukuhan ini, masyarakat Dayak kini memiliki 36 profesor, menegaskan keberlanjutan tradisi intelektual sekaligus representasi dalam kancah akademik nasional. Telhalia menjadi simbol dedikasi, integritas ilmiah, dan keberanian menempatkan teologi sebagai alat transformasi sosial dan budaya.
Pengukuhan Prof. Telhalia bersama Prof. Dr. Maldiantius Tanyid, M.Th., menegaskan kekayaan kajian teologi di Indonesia. Dari penekanan pada konteks lokal hingga pengembangan moderasi beragama, kedua guru besar ini menunjukkan luasnya spektrum teologi yang relevan bagi masyarakat dan pendidikan.
Penulis Masri Sareb Putra
0 Comments