Sekadau, Sejarah yang Menyerahkan Diri dari Kerajaan ke Republik
| Raja dan kerabat keraton Kerajaan Sekadau di masa lampau. Istimewa/NN. |
Oleh Masri Sareb Putra
Segalanya bermula di Kematu. Tempat yang barangkali hari ini tampak biasa, tetapi pada jaman ari' nya' tih Sekadau menyimpan denyut awal sebuah kekuasaan.
Kematu: Tempat Sejarah Sekadau Menanam Akar
Di sanalah Kerajaan Sekadau pertama kali berdiri. Tidak dengan gemuruh, tidak pula dengan terompet kemenangan, melainkan dengan kesadaran bahwa kekuasaan perlu tempat berpijak. Kematu menjadi tanah mula. Tanah yang menerima jejak kaki pertama para bangsawan Sekadau.
Di Kematu itu pula tampil seorang pangeran bernama Engkong. Ia dikenang sebagai pemimpin yang bijaksana. Kebijaksanaan yang tidak selalu berarti tanpa konflik, melainkan kemampuan membaca arah zaman.
Lontaan (1975: 178-181) menukilkan bahwa Engkong bukan raja yang berdiri sendirian. Ia terhubung oleh akar kekerabatan dengan Kerajaan Sanggau.
Hubungan darah itu menjadi jembatan. Sekaligus bayang-bayang. Sebab setiap kekerabatan dalam sejarah kerajaan selalu membawa dua kemungkinan: kekuatan atau keretakan.
Selama Engkong hidup, Sekadau berada dalam satu tarikan napas. Adat dijaga. Relasi dirawat. Tetapi sejarah jarang memberi jaminan kesinambungan.
Ketika Engkong wafat, kerajaan seperti kehilangan pusat gravitasinya. Yang tersisa bukan hanya duka, melainkan juga hasrat. Hasrat untuk berkuasa. Hasrat untuk diakui. Hasrat yang selama ini tertahan oleh wibawa seorang raja.
Maka Kematu, yang semula menjadi pusat, perlahan berubah menjadi saksi. Bahwa dari satu tempat yang sama, arah sejarah bisa bercabang. Bahwa akar yang sama bisa melahirkan batang yang saling menjauh.
Perpecahan: Takhta, Saudara, dan Jalan yang Menyimpang
Kadar, putra Engkong, naik takhta. Secara adat, ia sah. Secara silsilah, ia berhak. Tetapi sejarah tidak pernah sepenuhnya tunduk pada hukum waris.
Di balik pengangkatan itu, tersimpan kekecewaan. Agong, saudara Kadar, memilih menjauh. Ia tidak memberontak dengan pedang. Ia memilih sunyi. Lawang Kuari menjadi tujuannya. Sebuah tempat yang kelak dikenal bukan hanya sebagai ruang geografis, tetapi juga ruang batin.
Lawang Kuari bukan sekadar pelarian. Ia adalah sikap. Di sanalah Agong mengambil jarak dari pusat kekuasaan. Seolah ingin berkata bahwa tak semua perebutan harus dimenangkan dengan naik takhta. Ada yang memilih menyepi, bertapa, dan menunggu waktu bekerja dengan caranya sendiri.
Namun perpecahan tidak berhenti pada Agong. Senarong, saudara lainnya, memilih jalan yang lebih tegas. Ia mendirikan kerajaan sendiri di Belitang.
Sejarah mencatat peristiwa ini dengan tenang, hampir datar (Lontaan, 1975). Tetapi di balik catatan itu, tersimpan getaran besar. Sebuah kerajaan pecah bukan karena serangan luar, melainkan karena ketegangan di dalam.
Kerajaan Sekadau sejak awal memang tidak berjalan lurus. Ia berbelok. Ia terpecah. Ia bernegosiasi dengan luka-lukanya sendiri. Kematian Kadar kemudian membuka babak baru. Suma, putranya, mengambil alih takhta. Ia memindahkan pusat kerajaan ke Sungai Barak. Kini kita mengenalnya sebagai Desa Mungguk.
Perpindahan pusat kekuasaan itu bukan sekadar strategi administratif. Ia adalah simbol. Bahwa kekuasaan tidak pernah menetap terlalu lama di satu tempat. Ia bergerak. Ia mencari ruang yang dirasa lebih aman. Lebih menjanjikan. Lebih sesuai dengan tarikan zaman.
Sekadau, Sejarah yang Menyerahkan Diri: Dari Kerajaan ke Republik
Kemerdekaan Indonesia membawa gelombang besar ke seluruh penjuru. Termasuk ke Sekadau. Dunia lama yang dibangun atas dasar kerajaan, adat, dan kekerabatan, harus berhadapan dengan dunia baru bernama republik. Dunia dengan bahasa hukum. Dengan struktur. Dengan administrasi.
Kerajaan Sekadau memilih jalan yang tidak mudah, tetapi penting. Ia menyerahkan administrasinya kepada pemerintah pusat. Sebuah keputusan yang menuntut kerelaan. Dari kuasa simbolik menuju tata kelola modern. Dari sejarah lisan menuju arsip tertulis. Dari kerajaan menuju negara.
Langkah ini bukan sekadar formalitas. Ia adalah peralihan cara berpikir. Sekadau mulai belajar menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari sinilah Sekadau memasuki fase kewedanaan. Lalu kecamatan. Setiap fase menuntut penyesuaian. Tidak semua berjalan mulus. Tetapi Sekadau bertahan.
Sejarah tidak selalu ramah. Tetapi ia memberi ruang bagi mereka yang mau belajar. Sekadau belajar membaca peta politik nasional. Belajar bernegosiasi dengan kebijakan. Belajar bahwa identitas lokal tidak harus hilang ketika menjadi bagian dari negara.
Ketika semangat otonomi daerah bergema, Sekadau kembali berada di persimpangan. Kali ini bukan antara kerajaan dan republik, melainkan antara menjadi pinggiran atau berdiri sendiri. Dengan dukungan tokoh-tokoh lokal, H. Usman Djafar, Paulus Lion, Ali Daud, Sekadau menapaki jalan panjang menuju kabupaten.
Tahun 2003 menjadi penanda. Sekadau resmi menjadi daerah otonomi baru. Sebuah tonggak. Bukan karena segalanya selesai, tetapi karena babak baru dimulai.
Sekadau hari ini
Hari ini, Sekadau dihuni oleh ratusan ribu jiwa. Dayak, Senganan, Tionghoa, Jawa. Katolik, Protestan, Islam, Kong Hu Cu. Keberagaman itu bukan hiasan. Ia kenyataan sehari-hari. Dengan tujuh kecamatan dan puluhan desa, Sekadau terus belajar mengelola dirinya.
Sebagai kabupaten, Sekadau menyimpan kekayaan yang tidak kecil. Alamnya masih berbicara. Perkebunan kelapa sawit, kakao, karet, kopi, kelapa, dan lada menjadi tulang punggung ekonomi. Pertanian jagung, ubi jalar, dan ubi kayu tetap hidup di tangan masyarakat. Semua ini menunjukkan relasi lama antara manusia dan tanah.
Pariwisata alam mulai menemukan suaranya. Batu Tinggi berdiri sebagai salah satu penanda. Alam tidak berisik. Ia hanya menunggu untuk diperhatikan. Sungai Kapuas mengalir membawa cerita. Menyediakan pemandangan. Sekaligus mengantar orang menuju Lawang Kuari.
Lawang Kuari bukan sekadar objek wisata sejarah. Ia adalah ruang ingatan. Tempat Pangeran Agong pernah bersembunyi dan bertapa. Kini ia menjadi museum hidup. Sebuah cara Sekadau merawat masa lalunya tanpa mengurungnya di balik kaca.
Budaya pun terus bernapas. Tenun Mualang dengan motif Engkerebang dan Pangit. Anyaman Tangoy di Menawai Lingkau. Bakul-bakul dari Nanga Taman dan Nanga Mahap. Semua itu bukan sekadar produk. Ia adalah cara hidup. Cara memahami dunia melalui tangan.
Hari ini, Sekadau dihuni oleh ratusan ribu jiwa. Dayak, Senganan, Tionghoa, Jawa. Katolik, Protestan, Islam, Kong Hu Cu. Keberagaman itu bukan hiasan. Ia kenyataan sehari-hari. Dengan tujuh kecamatan dan puluhan desa, Sekadau terus belajar mengelola dirinya.
Dipimpin oleh Aron dan Subandrio, Sekadau memasuki fase kedewasaan administratif. Tidak tanpa tantangan. Tetapi sejarahnya mengajarkan satu hal: Sekadau tidak pernah tumbuh dari jalan lurus. Ia tumbuh dari belokan. Dari perpecahan. Dari keberanian menyerahkan yang lama, demi merawat yang baru.
Dan seperti foto tua yang tetap dijaga kesan sepinya, sejarah Sekadau tidak perlu diputihkan sepenuhnya. Ia cukup dibersihkan. Diperjelas. Agar generasi hari ini tahu: mereka berdiri di atas jejak yang panjang. Dan jejak itu masih berbicara.
Dan seperti foto tua yang tetap dijaga kesan sepinya. Sejarah Sekadau tidak perlu diputihkan sepenuhnya. Ia cukup dibersihkan. Diperjelas.
Agar generasi hari ini tahu. Mereka berdiri di atas jejak yang panjang.
Dan jejak itu masih berbicara.
0 Comments