Studium Generale STT Pontianak Bahas Ketahanan Gereja Lokal dalam Arus Sekularisme
| Studium generale STT Pontianak, dilanjutkan dengan MOU dengan IAKN Palangka Raya. Dokpri. |
Dr. Herwine Sastra, M.Th. membuka studium generale STT Pontianak di kampus Jalan Perintis, Kota Baru, Pontianak.
Dengan topik “Ekklesia Domestica dan Tantangan Sekularisme: Sebuah Panggilan bagi STT Pontianak,” narasumber Dr. Wilson anak Ayub, M.Th., Dr. Urbanus, M.Th., dan dilengkapi Masri Sareb Putra, M.A. yang dikenal sebagai etnolog dan pegiat literasi, kuliah umum itu berlangsung dalam suasana akademik yang hangat.
Herwine, dalam kapasitasnya sebagai Ketua STT Pontianak, menekankan bahwa Alkitab adalah norma tertinggi dalam iman Kristen, namun perlu dibaca dalam konteks kekinian dan selalu baru.
Itulah makna “Ekklesia Domestika”, yakni gereja lokal, gereja tempatan, yang berakar setempat berdasarkan iman Kristen yang bertumpu pada Trinitas.
Kegiatan akademik tersebut diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pontianak dalam rangka membuka Tahun Akademik 2025/ 2026. Spanduk besar yang terpampang di ruang aula menegaskan arah refleksi teologis lembaga di tengah arus sekularisme yang semakin terasa dalam kehidupan sosial.
Gereja Lokal dan Tantangan Sekularisme
Dalam sambutan pembukanya, Dr. Herwine Sastra menjelaskan bahwa sekularisme bukan sekadar wacana teoretis, melainkan kenyataan yang memengaruhi cara berpikir umat Kristen masa kini. Sekularisme hadir dalam bentuk pemisahan iman dari ruang publik, menjadikan agama sebagai urusan pribadi yang tidak lagi memberi dampak sosial.
Menurutnya, gereja tidak boleh bersikap reaktif atau defensif. Gereja justru perlu memperdalam fondasi teologisnya agar mampu berdialog dengan zaman.
"Alkitab tetap menjadi norma tertinggi dalam iman Kristen. Namun, pembacaan terhadap Alkitab harus dilakukan secara kontekstual, dengan kesadaran bahwa Roh Kudus terus bekerja dalam sejarah manusia," terang Herwine.
Konsep Ekklesia Domestica dipaparkan sebagai panggilan untuk memperkuat gereja lokal. Gereja lokal bukan sekadar unit administratif, melainkan komunitas iman yang hidup dalam kebudayaan tertentu. Dalam konteks Pontianak dan Kalimantan Barat yang majemuk, gereja dipanggil menjadi rumah rohani yang menghadirkan kasih, pembinaan, dan kesaksian iman secara nyata.
Integrasi Teologi dan Praksis Pelayanan
Dr. Wilson anak Ayub menekankan pentingnya keseimbangan antara ajaran yang benar dan tindakan yang benar. Ia mengingatkan bahwa pendidikan teologi tidak boleh berhenti pada penguasaan teori. Teologi harus menjelma dalam tindakan konkret yang membangun masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa sekularisme sering kali mereduksi iman menjadi simbol tanpa daya transformasi. Karena itu, mahasiswa teologi harus dibekali kemampuan berpikir kritis agar mampu membaca realitas sosial dengan tajam. Teologi adalah dialog antara teks dan konteks. Jika teks diabaikan, iman kehilangan dasar. Jika konteks diabaikan, iman kehilangan relevansi.
Dr. Urbanus menambahkan bahwa formasi karakter merupakan inti pendidikan teologi. Tantangan gereja masa kini bukan hanya persoalan ajaran, tetapi juga krisis integritas. Ia mengajak mahasiswa untuk melihat panggilan pelayanan sebagai komitmen hidup yang utuh, bukan sekadar profesi.
Ia juga menyinggung derasnya arus informasi digital. Mahasiswa hidup dalam dunia yang dipenuhi opini dan perdebatan cepat. Tanpa fondasi teologi yang kokoh, iman mudah goyah oleh narasi yang belum tentu benar.
Literasi Akademik dan Pentingnya Sumber Primer
Dalam sesi yang memperkaya diskusi, Masri Sareb Putra membawa perspektif etnologis dan literasi. Ia menempatkan gereja lokal dalam konteks kebudayaan Borneo yang plural. Menurutnya, gereja harus mampu berdialog dengan budaya tanpa kehilangan identitas iman.
Masri secara tegas menggarisbawahi pentingnya kebiasaan membaca di kalangan mahasiswa. Ia mendorong mahasiswa untuk rajin membaca dan menemukan sumber primer dalam studi teologi. Ia mengingatkan bahwa tidak semua yang beredar di Internet dapat dipercaya. Informasi digital perlu diverifikasi melalui rujukan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Membaca, menurutnya, adalah olah intelektual yang serius. Proses membaca buku, jurnal ilmiah, dan dokumen asli melatih kedalaman berpikir serta ketekunan akademik. Sebaliknya, narasi dan wacana di media sosial cenderung dangkal, cepat, dan sering kali emosional.
Ia menegaskan bahwa gereja membutuhkan pemimpin yang memiliki daya analisis kuat. Jika mahasiswa hanya mengandalkan potongan informasi dari media sosial, teologi akan kehilangan kedalaman reflektifnya. Karena itu, budaya literasi harus ditanamkan sejak masa studi.
Masri juga menyinggung pentingnya dokumentasi dan produksi karya tulis. Dalam masyarakat yang memiliki tradisi lisan kuat, transformasi menuju budaya tulis merupakan langkah strategis. STT Pontianak, menurutnya, memiliki peran penting sebagai pusat produksi pengetahuan teologi kontekstual di Kalimantan Barat.
Komitmen Akademik Tahun 2025/ 2026
Gesture dan suasana akademis saat pemaparan materi menunjukkan antusiasme mahasiswa.
Studium generale ini menjadi penanda bahwa Tahun Akademik 2025/2026 dibuka dengan visi yang jelas.
Gereja lokal dipanggil menjadi Ekklesia Domestica yang kokoh dalam iman, cerdas secara intelektual, dan relevan secara sosial. Sekularisme tidak dihadapi dengan ketakutan, melainkan dengan kedalaman refleksi dan integritas pelayanan.
Suasana akademik yang hangat sepanjang acara menunjukkan bahwa dialog iman dan ilmu tetap hidup. Perbedaan pandangan dibahas secara terbuka dalam semangat saling menghargai. Pendidikan teologi di Pontianak tidak berhenti pada rutinitas, tetapi terus bergerak menuju pembaruan.
Untuk diketahui bahwa sivitas akademika STT Pontianak adalah 95% Dayak-Kristen.
Pada intinya, pesan utama yang mengemuka adalah pentingnya kesetiaan pada firman Tuhan dan kesungguhan dalam olah intelektual. Membaca, meneliti, dan merefleksikan iman menjadi fondasi untuk menjawab tantangan zaman.
Melalui forum ini, STT Pontianak menegaskan komitmennya membentuk pemimpin gereja yang berakar pada kebenaran, berwawasan luas, dan siap melayani masyarakat di tengah perubahan yang terus berlangsung.
MoU dua institusi perguruan tinggi
Usai penyelenggaraan kuliah umum yang berlangsung hangat dan dialogis, dua institusi pendidikan tinggi keagamaan resmi meneguhkan kerja sama melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Sekolah Tinggi Teologi Pontianak dan IAKN Palangka Raya. Momentum tersebut menjadi penanda babak baru kolaborasi akademik lintas daerah di Kalimantan.
Penandatanganan MoU dilakukan di hadapan sivitas akademika dan para tamu undangan. Kerja sama ini mencakup penguatan tridarma perguruan tinggi, mulai dari pendidikan dan pengajaran, penelitian bersama, hingga pengabdian kepada masyarakat. Kedua belah pihak sepakat bahwa sinergi antarlembaga merupakan kebutuhan mendesak di tengah tuntutan peningkatan mutu dan daya saing perguruan tinggi.
Dr. Wilson menegaskan, MoU tersebut bukan sekadar formalitas administratif. “MoU ini penting bukan saja untuk peningkatan mutu, tetapi juga menaikkan angka akreditasi,” ujarnya. Ia menambahkan, kerja sama strategis antarinstitusi akan memperkuat indikator kinerja utama, termasuk kolaborasi riset, pertukaran dosen, serta publikasi ilmiah bersama yang menjadi komponen penting dalam penilaian akreditasi.
Menurutnya, tantangan pendidikan tinggi saat ini tidak dapat dijawab secara parsial. Perguruan tinggi, terutama yang berada di wilayah Kalimantan, perlu membangun jejaring agar dapat saling melengkapi sumber daya. Dalam konteks itu, STT Pontianak dan IAKN Palangka Raya memiliki potensi besar untuk mengembangkan kajian teologi kontekstual yang berakar pada realitas sosial dan budaya lokal.
Akademisi Dayak Iban-D’sa yang pernah menjabat Direktur Pascasarjana IAKN Palangka Raya mengingatkan agar MoU tidak berhenti sebagai dokumen seremonial. “Bukan hanya di atas kertas, MoU untuk ditindaklanjuti dan dijalankan,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya rencana aksi konkret, seperti penyusunan program kerja tahunan, pembentukan tim pelaksana, dan target capaian yang terukur.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi riset berbasis kearifan lokal. Kalimantan, dengan keragaman etnis dan kekayaan budaya, menyediakan ladang penelitian yang luas bagi pengembangan teologi kontekstual, pendidikan multikultural, dan studi sosial keagamaan.
Kerja sama dua kampus berbasis di Kalimantan ini diharapkan mampu mendorong lahirnya publikasi ilmiah yang tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga memiliki kontribusi bagi wacana akademik global.
Dalam kesempatan itu, sejumlah dosen dan mahasiswa menyambut positif langkah kolaboratif tersebut. Mereka berharap kerja sama ini membuka peluang pertukaran mahasiswa, kuliah tamu lintas kampus, hingga seminar bersama yang memperkaya perspektif akademik. Mobilitas akademik, menurut mereka, akan memperluas cakrawala berpikir sekaligus membangun jejaring profesional sejak dini.
Secara kelembagaan, MoU ini juga dinilai strategis untuk memperkuat posisi kedua perguruan tinggi dalam peta pendidikan tinggi keagamaan di Indonesia. Dengan adanya kerja sama formal, kedua institusi memiliki dasar hukum untuk berbagi sumber daya, mulai dari narasumber, fasilitas penelitian, hingga akses jurnal dan perpustakaan.
Kolaborasi ini diharapkan berdampak pada peningkatan kualitas lulusan. Standar mutu yang diperkuat melalui kerja sama akan mendorong kurikulum yang lebih adaptif, metode pembelajaran yang inovatif, serta riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pada akhirnya, lulusan diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap persoalan sosial di lingkungannya.
Penandatanganan MoU antara STT Pontianak dan IAKN Palangka Raya menjadi simbol komitmen bersama untuk bertumbuh melalui kolaborasi.
Di tengah dinamika regulasi dan tuntutan akreditasi yang semakin ketat, sinergi antarlembaga menjadi strategi rasional sekaligus visioner.
Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap butir kesepahaman diterjemahkan dalam program nyata yang terukur dan berkelanjutan.
Pewarta: Rangkaya Bada
0 Comments