Transmigran Kuasai Pasar Sayur Keliling di Kalimantan Barat
| Transmigran asal Jawa di Kalimantan banyak yang sukses. Selain memang ulet juga rajin jualan keliling seperti tampak dalam tangkapan layar ponsel di ruas jalan Majel-Kembayan. Dokpri. |
Oleh Masri Sareb Putra
Di ruas-ruas Trans Kalimantan Barat, terutama Jalan Majel–Kembayan, pasar sayur tidak berada di bangunan permanen. Ia bergerak. Beroda dua. Bermesin kecil. Digendong keranjang plastik biru di kiri dan kanan.
Pedagang sayur keliling melaju perlahan. Berhenti di halaman rumah. Menyapa dan disapa ibu-ibu. Ditunggu pelanggan tetap.
Hal yang menarik, bahkan menggelitik: sebagian besar pelaku pasar bergerak ini adalah warga transmigran. Pastilah dari Jawa.
Dari tanah yang jauh itu mereka datang, Membawa serta kebiasaan bangun pagi, Memeluk kerja dengan sabar. Dan berjalan tanpa banyak bicara.
Warga transmigran tidak menunggu tanah memberi dengan sendirinya, mereka mengolahnya. Tidak mengeluh ketika panen kecil. Tidak jumawa ketika hasil berlimpah. Pelan-pelan. Dengan cara yang nyaris tak terdengar, hidup mereka menanjak.
Maka tak mengherankan, setelah sekian tahun ber-transmigrasi di Kalimantan. Banyak di antara mereka menjadi sugih. Bukan semata karena harta, melainkan karena ketekunan dan kerja keras yang tak putus apalagi menyerah.
Menjadi orang Kalimantan
Mereka pun tak lagi memandang Jawa sebagai tempat untuk pulang. Tanah di seberang ini telah menjadi halaman rumah. Tempat anak-anak mereka belajar menyebut dunia dengan lidah baru.
Warga trans kawin-mawin dengan penduduk setempat, menyemai keluarga, Menyatukan kebiasaan, meleburkan doa-doa lama dengan adat yang baru. Budaya setempat mereka pakai seperti pakaian harian, tanpa perlu dipamerkan.
Lama-kelamaan, mereka menjadi orang Kalimantan dengan cara yang halus. Jawa tinggal sebagai ingatan samar, seperti bau tanah setelah hujan yang sulit disebutkan asalnya. Wong Jowo sing wis lali Jawine. Bukan karena mengkhianati asal-usul, melainkan karena hidup telah mengajari mereka untuk berakar di tempat mereka menumbuhkan hari esok.
Sementara itu, rumah-rumah yang menjadi pelanggan berdiri di atas tanah Dayak. Tanah yang luas. Tanah yang subur. Tanah yang, dalam ingatan kolektif, pernah menjadi ladang, kebun, dan sumber pangan keluarga.
Ironi itu berjalan setiap pagi.
Pasar yang Direbut Tanpa Ribut
Tidak ada konflik. Tidak ada perebutan terbuka. Pasar sayur keliling dikuasai secara senyap. Orang Transmigran datang lebih awal, Menanam lebih tekun. Menjual lebih konsisten. Mereka membaca kebutuhan harian, bukan wacana besar. Mereka menguasai dapur, bukan mimbar.
Orang Dayak, yang secara historis hidup dari ladang dan kebun, kini berdiri sebagai pembeli. Sayur datang dalam plastik, bukan dari halaman. Cabai dibeli, bukan dipetik. Daun singkong diambil dari keranjang motor, bukan dari pagar belakang rumah.
Tak ada yang salah secara hukum. Semua sah. Justru karena itu satirnya bekerja sempurna.
Lahan Ada, Kebun Tiada
Secara ekologis, masyarakat Dayak tidak kekurangan ruang. Tembawang, tanah warisan, kebun adat, masih membentang di banyak kampung. Namun ruang itu tidak selalu diisi. Sebagian berubah fungsi. Sebagian dibiarkan. Sebagian dijaga sebagai simbol, bukan sebagai sumber pangan.
Berkebun sayur dianggap kerja kecil. Tidak strategis. Tidak menjanjikan. Tidak prestisius. Lebih menarik menunggu hasil besar, atau mengandalkan pasar. Maka pasar pun diisi orang lain.
Transmigran tidak datang membawa ideologi. Mereka membawa bibit, cangkul, dan jadwal rutin. Setiap hari tanam. Setiap hari panen. Setiap hari jual. Pasar tidak direbut dengan pidato, melainkan dengan kehadiran.
Satir Sunyi di Dapur Dayak
Ada satir sunyi yang berulang di dapur-dapur keluarga Dayak. Tanah luas di belakang rumah, tetapi sayur datang dari luar. Identitas dijaga, tetapi kebutuhan harian diserahkan. Kedaulatan dibicarakan, namun cabai tetap dibeli.
Lebih ironis lagi, sebagian sayur itu ditanam oleh transmigran di lahan sempit, bahkan lahan sewa. Sementara tanah adat yang luas menjadi latar belakang foto, bukan ruang produksi.
Di sini, pasar berbicara lebih jujur daripada slogan. Siapa yang rajin, ia hadir. Siapa yang hadir, ia dipercaya. Siapa yang dipercaya, ia menguasai.
Bercermin, Bukan Menyalahkan
Tulisan ini bukan tuduhan pada orang Transmigran. Mereka bekerja dengan cara yang sah, tekun, dan efisien. Justru dari merekalah pelajaran itu datang, tanpa perlu diucapkan.
Bagi masyarakat Dayak, ini soal bercermin. Kedaulatan bukan hanya soal tanah yang tidak dijual. Ia juga soal tanah yang ditanami. Dapur yang hidup. Kebun yang bekerja.
Jika orang Dayak ingin benar-benar menjadi tuan di tanah sendiri, maka pasar paling dasar harus direbut kembali. Pasar sayur. Pasar pagi. Pasar dapur.
Karena sejarah jarang dimulai dari pidato besar. Ia sering bermula dari siapa yang menguasai kebutuhan paling sederhana: makanan harian.
Dan di jalan-jalan Trans Kalimantan Barat hari ini. Sejarah kecil itu sedang dicatat berjalan di atas dua roda.
0 Comments