Tugu Petani Karet Menjelang Kota Sintang sebagai Penanda Zaman

Tugu Petani Karet Menjelang Kota Sintang sebagai Penanda Zaman
Tugu Petani Karet Menjelang Kota Sintang sebagai penanda zaman. Dokpen.
Oleh Masri Sareb Putra

Pada pertigaan jalan jelang kota Sintang, Kalimantan Barat. Berdiri tugu. Di puncaknya seorang petani tradisional sedang memamerkan selembar karet beku hasil cetakan.

Lalu lintas kota Sintang berputar tanpa banyak peduli pada apa yang berdiri di tengahnya. 

Truk sawit melintas. Sepeda motor berdesakan memintas. Klakson bersahutan. Namun di titik yang menentukan itu, di pusat lingkar aspal yang tak pernah benar-benar sepi. 

Di situ berdiri sosok lelaki bertelanjang dada. Tangan kosong dikepalkan ke udara tanda niat yang teguh. Sementara tangan lain menggenggam karet beku yang dicetak, hasil kerja keras menyadap di tangannya.

Sang petani karet penanda sejarah

Dialah petani karet tradisional. Bukan dalam arti satu orang, melainkan representasi ribuan kepala keluarga di pedalaman. Sosok ini tidak sekadar simbol agraria. 

Sang petani karet penanda sejarah ekonomi masyarakat hulu, terutama orang Dayak, yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup pada getah putih yang menetes pelan dari batang-batang tua.

Patung itu tegak. Tangan kanannya terangkat, seperti isyarat yang tak selesai diucapkan. Bukan kepalan marah, melainkan gestur daya tahan. 

Wajahnya menghadap lurus ke muka. Seolah menatap siapa pun yang melintas. Menatap pembaca. Menatap masa depan yang berubah lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan.

Ia bukan tokoh elite. Namanya tak tercatat dalam buku sejarah resmi. Ia tak memegang jabatan, tak mengenakan jas, tak berdiri di podium. Ia rakyat biasa yang bangun sebelum matahari terbit, menenteng pisau sadap, menyusuri kebun dalam kabut pagi. Dari keringatnya, generasi demi generasi disekolahkan. 

Dari getah yang dikumpulkan dalam kaleng-kaleng kecil, lahir biaya seragam, uang kuliah, dan tiket merantau.

Ada masa ketika harga karet cukup untuk membuat dapur tetap mengepul dan anak-anak tetap belajar. Ada masa ketika kebun karet menjadi tabungan paling rasional bagi keluarga Dayak. Hingga sekitar 2010, ketika harga mulai goyah dan sawit datang membawa janji baru.

Kini, di tengah kota yang terus bergerak, patung itu tetap berdiri. Diam. Tegas. Seolah mengingatkan bahwa sebelum sawit mendominasi lanskap, sebelum grafik harga dunia menjadi penentu nasib, ada era ketika karet menyekolahkan anak-anak pedalaman dan membentuk kelas menengah pertama di kampung-kampung.

Di pertigaan itu, sejarah tidak tertulis dalam prasasti panjang. Ia cukup berdiri dalam sosok lelaki bertelanjang dada, yang tak pernah lelah mengangkat tangannya.

Karet, komoditas yang menghidupi dan mendidik masyarakat Dayak

Sejak dekade 1970-an hingga sekitar tahun 2010, karet menjadi urat nadi ekonomi di pedalaman Sintang dan wilayah sekitarnya. 

Getah yang ditoreh setiap pagi menjadi sumber uang tunai yang relatif stabil. Dari kebun-kebun kecil milik keluarga Dayak, lahir biaya sekolah, ongkos kuliah, pembangunan rumah, bahkan ongkos merantau.

Banyak orang Dayak yang kini menjadi guru, pastor, uskup, pegawai negeri, akademisi, hingga politisi (kepala dinas, bupati, wakil gubernur, anggota DPR-RI), dibesarkan oleh hasil jual karet orang tua mereka. 

Karet bukan sekadar tanaman. Ia adalah “tabungan hidup” yang bisa disadap setiap hari.

Dalam konteks budaya, karet juga menciptakan etos kerja. Bangun subuh, masuk kebun, menoreh batang demi batang. Disiplin ini membentuk karakter generasi.

Tahun 2010, Titik Balik dan Datangnya Sawit

Sekitar tahun 2010, harga karet dunia terus merosot. Petani mulai merasakan ketidakpastian. Sementara itu, kelapa sawit datang dengan janji keuntungan lebih cepat dan skala lebih besar. Banyak lahan karet beralih fungsi.

Sawit unggul dalam hitungan ekonomi jangka pendek. Namun karet memiliki nilai sosial dan historis yang lebih dalam. Ia lebih ramah bagi pola kepemilikan lahan keluarga dan lebih fleksibel dalam pengelolaan tradisional.

Tugu Petani Karet di Sintang berdiri seperti pengingat. Pernah ada masa ketika getah putih itu menjadi penopang utama kehidupan masyarakat Dayak. Ia adalah monumen transisi, dari ekonomi rakyat berbasis kebun kecil menuju ekonomi korporasi berbasis perkebunan besar.

Makna simbolik tugu petani karet

Tangan terangkat, semangat kerja dan daya tahan.

Tubuh terbuka, kejujuran, kerja keras, dan ketergantungan pada alam.

Posisi di tengah kota, pengakuan publik atas jasa petani.

Tugu ini bukan sekadar ornamen kota. Ia adalah arsip visual tentang sejarah ekonomi orang Dayak. Ia berbicara tentang masa ketika karet menyekolahkan anak-anak kampung, membangun gereja, dan menghidupkan pasar tradisional.

Kini, ketika harga komoditas berubah dan lanskap ekonomi bergeser. Tugu itu tetap berdiri. Seolah berkata, "Jangan lupakan akar!"

0 Comments

Type above and press Enter to search.