Adau, Kayu Keras Berkelas yang Dahulu Tumbuh di Tepian Sungai Sekadau
Adau, jenis kayu keras yang dahulu tumbuh banyak di tepian Sungai Sekadau sehingga wilayah itu disebut: Se (sungai) kadau (adau). Ist.
Oleh Masri Sareb Putra
Pernahkah Anda mendengar nama pohon Adau?
Bagi yang lahir dan besar di tanah Borneo, khususnya di sekitar Sekadau, nama itu bukan sekadar sebutan kayu. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif, sebuah warisan yang kini nyaris menjadi dongeng belaka.
Adau, atau yang dikenal secara ilmiah sebagai Eusideroxylon zwageri, adalah kayu besi sejati dari hutan tropis Kalimantan. Kayunya padat, berat, dan luar biasa tahan lama, tahan rayap, tahan air, serta tahan cuaca.
Dulu, kayu ini menjadi pilihan utama untuk rumah adat, jembatan, tiang pancang, bahkan untuk membentuk badan alat musik tradisional. Di kalangan Dayak Kenyah di Kalimantan Timur, kayu Adau diabadikan dalam Jatung Adau, gendang panjang yang suaranya menggema dalam upacara adat.
Asal usul Batang Adau
Dahulu kala, pohon Adau tumbuh bedakah, banyak, menjulang, dan lebat di sepanjang tepian Sungai Sekadau. Konon, nama Sekadau sendiri lahir dari kata Batang Adau.
Pada zaman sebelum bahasa Melayu dan Indonesia menjadi dominan, kata batang bukan hanya berarti batang pohon, melainkan juga sungai. Sungai Kapuas disebut Batang Lawae dalam Hikayat Banjar.
Begitu pula Sungai Sekadau yang bermuara di hilir Jembatan Penanjung arah Sintang dulu dikenal sebagai Sungai Adau, karena di muaranya pohon-pohon Adau berdiri kokoh, seolah menjaga aliran air dan tanah di sekitarnya.
Kini, apa yang tersisa? Hanya cerita. Hanya kenangan. Pohon-pohon besar dengan batang lurus yang diameter bisa mencapai dua meter, berbanir seperti kaki gajah, dan kulit kasar berwarna cokelat kecokelatan, sudah jarang terlihat. Yang dulu memberi naungan, melindungi tepian sungai, dan menjaga keseimbangan alam, kini lenyap karena ditebang untuk keperluan bangunan tanpa pernah ditanam kembali.
Pohon adau yang mulai punah
Pangkal batang Adau dengan banir yang megah menjadi bukti kekuatan alam yang dulu begitu melimpah di tanah kita. Daunnya yang besar, tebal, mengkilap, dengan urat yang jelas, dan daun muda yang sering berwarna kemerahan, seharusnya menjadi bahan pelajaran Muatan Lokal di sekolah-sekolah Sekadau.
Guru Geografi atau Biologi bisa memperkenalkannya kepada siswa, agar generasi muda tidak lagi menganggap kayu tropis Borneo seperti dinosaurus, ada dalam buku, tapi tak pernah dilihat hidup-hidup.
Lebih dari sekadar tanaman, pohon Adau adalah bagian dari identitas kita. Ia simbol kekuatan alam sekaligus keseimbangan ekosistem yang dulu menyejukkan hati siapa pun yang lewat di tepi sungai. Ketika pohon-pohon itu hilang, kita kehilangan bukan hanya kayu, tapi juga sepotong sejarah dan budaya yang mengikat kita dengan tanah kelahiran.
Saatnya menanam kembali pohon adau di Sekadau
Senyampang masih ada waktu, sudah saatnya kita bangkit. Program Menanam Kembali Seribu Pohon Adau bukan sekadar gagasan romantis, melainkan keharusan. Bibit masih bisa dicari di Kalimantan Utara atau kawasan konservasi lain yang masih menyimpan populasi Adau. Memang tidak mudah, pertumbuhannya lambat, perawatannya butuh kesabaran ekstra. Tapi, bila ada kemauan, di situ ada jalan.
Mari libatkan pemerintah daerah, LSM, komunitas Dayak, sekolah, dan terutama generasi muda. Buat taman komunitas yang hijau dengan pohon Adau, adakan pendidikan konservasi, dan tanamkan rasa memiliki terhadap warisan ini.
Merajut kembali benang sejarah
Dengan menanam kembali Adau, kita tidak sekadar menghijaukan tepian sungai. Kita sedang merajut kembali benang sejarah yang sempat putus. Kita sedang mengembalikan martabat Batang Adau, bukan hanya sebagai nama sungai, tapi sebagai simbol bahwa kita masih peduli pada warisan alam dan budaya yang diberikan leluhur.
Sekadau yang dulu dikenal karena Adau-nya. Kiranya suatu hari nanti kembali dikenal karena di wilayah ini kita temukan kembali pohon-pohon adau yang pernah hilang.
0 Comments