Antrean Panjang BBM di Sambas, Cornelis: “Zaman Saya Gubernur, Tidak Ada Masalah Seperti Ini”

 

Panjang sekali antrean panjang BBM di Sambas, Kalbar jelang Lebaran.
Penampakan antrean panjang BBM di Sambas, Kalbar jelang Lebaran. Gambar: Liputan 6

Cornelis, anggota DPR-RI Dapil I Kalbar menyoroti persoalan mendasar yang tampak dalam video terkait antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan BBM di Kabupaten Sambas menjelang hari raya Eid al-Fitri.

Cornelis melontarkan kritik yang cukup tajam atas masalah itu. Video berita dari program Liputan 6 menangkap fenomena terkait antrean panjang kendaraan di SPBU di Sambas, Kalimantan Barat. 

Sepeda motor dan mobil terlihat mengular menunggu giliran mengisi BBM jenis Pertalite

Antrean kendaraan menunggu BBM di Sambas lebih dari 4 jam baru mendapat giliran. Sedemikian rupa, sehingga Cornelis bertanya, 

"Ini masalah benaran, ataukah memang sengaja diciptakan?"

 “Zaman saya Gubernur, tidak ada masalah macam ini.”

Menurut Cornelis, antrean panjang BBM seperti yang terlihat dalam video merupakan tanda adanya masalah dalam manajemen distribusi energi di daerah. Cornelis bahkan menyatakan secara terbuka,
"Kelangkaan BBM ini masalah benaran, ataukah memang sengaja diciptakan?"

Pertanyaan tersebut merujuk pada masa ketika Cornelis menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Barat pada periode 2008–2018. 

Pada masa tersebut, distribusi bahan bakar diupayakan berjalan stabil melalui koordinasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan operator distribusi energi.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa kelangkaan BBM masih terjadi, terutama menjelang momentum besar seperti Lebaran?

Gambaran lapangan: Kendaraan Mengular di SPBU

Video memperlihatkan kondisi nyata di lapangan. Antrean kendaraan terlihat sangat panjang. Puluhan bahkan ratusan sepeda motor berbaris di jalan menuju SPBU. 

Di antara mereka juga terdapat mobil pribadi dan kendaraan niaga.

Situasi lalu lintas tampak padat. Kendaraan bergerak sangat lambat. Beberapa pengendara terlihat menunggu cukup lama untuk mendapatkan bahan bakar.

Sepeda motor mendominasi antrean. Hal ini mencerminkan realitas transportasi di banyak daerah Indonesia, di mana sepeda motor merupakan alat mobilitas utama masyarakat.

Kondisi seperti ini biasanya terjadi ketika pasokan BBM tidak seimbang dengan kebutuhan masyarakat. Ketika stok di SPBU terbatas sementara permintaan meningkat tajam, antrean menjadi tidak terhindarkan.

Menjelang Lebaran, mobilitas masyarakat meningkat drastis. Banyak orang melakukan perjalanan jauh, pulang ke kampung halaman, atau mengunjungi keluarga. 

Aktivitas perdagangan juga meningkat. Distribusi barang kebutuhan pokok menjadi lebih intens.

Semua aktivitas tersebut membutuhkan energi transportasi. Karena itu konsumsi BBM melonjak.

Jika pasokan tidak disiapkan dengan baik, antrean panjang seperti yang terlihat dalam video akan muncul.

Faktor penyebab kelangkaan BBM

Kelangkaan BBM di daerah seperti Sambas biasanya dipengaruhi beberapa faktor sekaligus.

Faktor pertama adalah lonjakan permintaan. Menjelang Lebaran, konsumsi bahan bakar bisa meningkat secara signifikan karena mobilitas masyarakat yang tinggi.

Faktor kedua adalah distribusi logistik. Wilayah perbatasan seperti Sambas berada cukup jauh dari pusat distribusi energi. Jika terjadi keterlambatan pengiriman dari depot atau terminal BBM, stok di SPBU bisa cepat habis.

Faktor ketiga adalah fenomena panic buying. Ketika masyarakat mendengar kabar bahwa BBM mulai langka, sebagian orang cenderung membeli lebih banyak dari kebutuhan normal. Tindakan ini mempercepat habisnya pasokan yang tersedia.

Faktor keempat adalah kemungkinan penyalahgunaan distribusi BBM bersubsidi. Dalam beberapa kasus di Indonesia, bahan bakar bersubsidi dapat disalahgunakan untuk dijual kembali atau ditimbun.

Video berita tidak menjelaskan secara rinci faktor mana yang paling dominan. Namun antrean panjang yang terlihat menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, pengawasan distribusi menjadi sangat penting agar bahan bakar benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dampak sosial dan pentingnya manajemen energi

Antrean panjang BBM tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan. Dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Pertama adalah terganggunya mobilitas warga. Orang yang harus menunggu berjam-jam untuk mengisi bahan bakar dapat terlambat bekerja atau menjalankan aktivitas sehari-hari.

Kedua adalah kerugian ekonomi bagi pekerja transportasi. Pengemudi ojek, sopir angkutan, atau pedagang keliling sangat bergantung pada kendaraan mereka. Waktu yang terbuang di antrean berarti hilangnya potensi pendapatan.

Ketiga adalah gangguan distribusi barang. Kendaraan logistik membutuhkan bahan bakar untuk mengirimkan kebutuhan pokok. Jika pasokan BBM tersendat, distribusi barang bisa ikut terganggu.

Keempat adalah potensi ketegangan sosial di lapangan. Antrean panjang sering memicu emosi pengendara. Perselisihan bisa muncul jika antrean tidak tertib atau ada kendaraan yang mencoba memotong barisan.

Karena itu pengelolaan distribusi energi menjadi hal yang sangat penting. Pemerintah daerah, aparat pengawas, dan operator distribusi energi harus memastikan stok BBM tersedia secara cukup, terutama menjelang momentum besar seperti Lebaran.

Pernyataan dan pertanyaan Cornelis menanggapi masalah BBM di Sambas sebagaimana ditangkap oleh video tersebut pada akhirnya menjadi kritik sekaligus pengingat. Distribusi energi bukan sekadar persoalan logistik. 

Distribusi energi berkaitan langsung dengan stabilitas sosial dan kenyamanan hidup masyarakat.

Jika manajemen distribusi dapat dilakukan dengan baik, maka peristiwa antrean panjang seperti yang terlihat di Sambas tidak perlu lagi terulang di masa depan. (X-5)

0 Comments

Type above and press Enter to search.