Cornelis Dengar-serap Keluhan Warga di Pasar Ngabang: “BPJS Dicabut, Rakyat Kecil Jadi Sulit Berobat”

Cornelis Dengar-serap Keluhan Warga di Pasar Ngabang:
Cornelis dengar-serap keluhan warga di pasar Ngabang. Ist.

Percakapan spontan di pasar pagi membuka cerita getir masyarakat akar rumput tentang akses kesehatan.

Pagi di Pasar NgabangKalimantan Barat. Keluhan mengalir dari rakyat kecil, akar rumput. Tentang masalah kesehatan.

Cornelis Dengar-serap Keluhan Warga di Pasar Ngabang

Suasana pagi di Ngabang, ibu kota Kabupaten Landak, tampak seperti hari-hari biasa. Pedagang sayur menata dagangan, pembeli menawar harga cabai dan ikan, sementara aroma kopi dari warung kecil menyatu dengan hiruk-pikuk pasar.

Namun di tengah keramaian Pasar Ngabang pada Jumat pagi (6/3/2026), percakapan yang terjadi antara masyarakat dan politisi senior Cornelis menghadirkan cerita lain. Kisah cerita tentang kesulitan hidup rakyat kecil ketika sakit.

Cornelis yang datang ke pasar pagi itu disapa oleh beberapa warga. Pertemuan itu tidak direncanakan. Tetapi seperti sering terjadi di ruang publik yang paling jujur yakni pasar, keluhan masyarakat pun mengalir tanpa sekat.

Anggota DPR-RI dari Dapil I Kalbar itu lahir dari akar rumput. Maka pria yang disapa "Pak Uda'" biasa merakyat. Sembari nyeruput kopi, ia menyerap aspirasi warga. Ia bukan hanya mendengar suara, juga turut berbelarasa.

“Pak, sekarang kami susah berobat,” kata seorang warga kepada Cornelis.

Keluhan itu bukan soal harga sayur atau kebutuhan pokok, melainkan tentang kesehatan. Beberapa warga mengaku mengalami kesulitan setelah kepesertaan mereka dalam program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan atau BPJS Kesehatan dicabut.

“Intinya karena BPJS dicabut, rakyat kecil jadi sulit,” ujar Cornelis ketika dimintai tanggapan atas pertemuan tersebut.

Cerita dan keluhan dari lorong pasar Ngabang

Di pasar tradisional, percakapan berlangsung tanpa protokol. Tidak ada podium, tidak ada mikrofon, hanya dialog sederhana antara masyarakat dan seorang tokoh yang kebetulan mereka temui.

Seorang ibu yang sedang membawa tas belanja menghampiri Cornelis . Ia bercerita bahwa keluarganya kini harus berpikir dua kali sebelum pergi ke puskesmas atau rumah sakit.

Sebelumnya, dengan BPJS, mereka masih memiliki harapan untuk mendapatkan perawatan tanpa harus memikirkan biaya besar. Kini, menurutnya, situasi berubah.

“Kalau sakit sekarang kami bingung, Pak,” ujarnya.

Cerita serupa juga datang dari warga lain yang ikut bergabung dalam percakapan di pasar pagi itu. Ada yang menyebutkan bahwa kartu BPJS mereka tidak lagi aktif. Ada pula yang mengatakan bahwa bantuan yang sebelumnya mereka terima tidak lagi berjalan.

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kesehatan sering kali menjadi dilema paling berat. Saat sakit datang, biaya pengobatan bisa menjadi beban yang melampaui kemampuan ekonomi keluarga.

Cornelis  mengatakan bahwa pertemuan di pasar itu membuka kembali realitas yang sering kali tidak terlihat dari meja kebijakan.

“Di pasar seperti ini kita mendengar langsung suara rakyat,” katanya.

Akses Kesehatan Jadi Keresahan

Program jaminan kesehatan nasional selama ini menjadi salah satu penopang penting bagi masyarakat miskin. Melalui BPJS Kesehatan, banyak warga dapat mengakses layanan medis yang sebelumnya sulit dijangkau.

Karena itu, ketika status kepesertaan mereka berubah atau dicabut, dampaknya langsung terasa di tingkat paling bawah.

Beberapa warga di Pasar Ngabang mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui secara pasti alasan pencabutan tersebut. Mereka hanya mengetahui bahwa kartu yang sebelumnya bisa digunakan kini tidak lagi berlaku.

Situasi ini menimbulkan rasa khawatir di kalangan masyarakat kecil.

“Kalau sakit berat bagaimana?” kata seorang pedagang yang ikut berbincang.

Pertanyaan itu menggambarkan kegelisahan yang sederhana namun mendasar: bagaimana rakyat kecil menghadapi penyakit tanpa jaminan kesehatan.

Menurut Cornelis, persoalan seperti ini tidak boleh dipandang sekadar angka dalam laporan administrasi.

“Ini soal kehidupan rakyat,” ujarnya.

Suara Pasar, Suara Kehidupan

Pasar tradisional sering disebut sebagai cermin kehidupan masyarakat. Di tempat inilah berbagai lapisan sosial bertemu: petani, pedagang, buruh, hingga ibu rumah tangga.

Percakapan di Pasar Ngabang pagi itu memperlihatkan bagaimana isu kebijakan publik bisa terasa sangat personal bagi masyarakat.

Bagi warga kelas menengah ke atas, kehilangan BPJS mungkin hanya berarti berpindah ke layanan kesehatan lain. Namun bagi masyarakat akar rumput, hal itu bisa berarti kehilangan akses pengobatan.

Di tengah perbincangan tersebut, beberapa warga juga menyampaikan harapan agar persoalan ini dapat diperhatikan oleh pemerintah.

Mereka tidak berbicara tentang politik atau kebijakan besar. Yang mereka inginkan sederhana: ketika sakit, mereka tetap bisa berobat tanpa takut memikirkan biaya.

Pesan dari Pertemuan Pagi

Pertemuan singkat di Pasar Ngabang itu mungkin berlangsung hanya beberapa menit. Tetapi percakapan tersebut menyisakan pesan yang lebih luas tentang kondisi masyarakat.

Cornelis mengatakan bahwa pengalaman bertemu warga secara langsung selalu memberi gambaran nyata tentang situasi di lapangan.

“Rakyat kecil yang paling merasakan dampaknya,” katanya.

Ia menilai bahwa akses terhadap layanan kesehatan harus tetap menjadi perhatian utama dalam kebijakan publik, terutama bagi masyarakat yang ekonominya rentan.

Di pasar yang ramai itu, setelah percakapan selesai, aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Pedagang melayani pembeli, suara tawar-menawar kembali terdengar, dan kehidupan terus bergerak.

Namun keluhan yang disampaikan warga pagi itu tetap menggema: ketika jaminan kesehatan hilang, rasa aman masyarakat kecil ikut menghilang.

Dan di lorong-lorong pasar tradisional seperti di Ngabang, suara-suara seperti itu selalu menemukan jalannya untuk didengar.

Penulis: Rangkaya Bada

0 Comments

Type above and press Enter to search.