Cornelis Kawal PLTS untuk Digitalisasi Pendidikan Kalbar
Dr. (H.C.) Cornelis menjadi salah satu tokoh yang aktif mengawal realisasi program PLTS SuperSUN di Kalimantan Barat. Dokpri.
Program listrik tenaga surya di 62 sekolah Kabupaten Landak dinilai membuka jalan bagi digitalisasi pendidikan.
Energi bersih menjadi solusi bagi sekolah-sekolah yang lama bergulat dengan keterbatasan listrik.
Cornelis Kawal PLTS untuk Digitalisasi Pendidikan Kalbar
Di sejumlah sekolah dasar dan menengah pertama di pedalaman Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, perubahan mulai terasa.
Komputer yang sebelumnya jarang digunakan kini dapat dinyalakan lebih lama. Perangkat pembelajaran digital yang dulu hanya menjadi rencana, perlahan mulai menjadi bagian dari aktivitas belajar.
Perubahan ini berkaitan dengan pemasangan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS SuperSUN di puluhan sekolah di daerah tersebut. Program ini digagas melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, parlemen, dan perusahaan listrik negara.
Anggota Komisi XII DPR RI, Dr. (H.C.) Cornelis, menjadi salah satu tokoh yang aktif mengawal realisasi program ini di Kalimantan Barat. Ia mendorong pemanfaatan energi terbarukan untuk memperkuat infrastruktur pendidikan, terutama di wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses listrik.
Sebanyak 62 sekolah di Kabupaten Landak kini telah menikmati pasokan listrik dari PLTS SuperSUN. Program ini dijalankan bersama PT PLN (Persero) melalui unit distribusi di Kalimantan Barat.
Menurut Cornelis, penyediaan listrik yang stabil merupakan fondasi penting bagi peningkatan kualitas pendidikan, terutama dalam era digital.
“Sekolah adalah jantung generasi kita. Karena itu, generasi kita harus memiliki fasilitas belajar yang memadai,” ujar Cornelis ketika ditemui dalam rangkaian kegiatan pemantauan program elektrifikasi sekolah di Landak.
Ia menambahkan bahwa penggunaan energi bersih sekaligus sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam mendorong transisi energi serta digitalisasi pendidikan.
Energi Bersih untuk Pendidikan
Program pemasangan PLTS SuperSUN di sekolah-sekolah Landak merupakan bagian dari agenda pemerintah untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan di sektor publik. Selain menekan ketergantungan pada energi fosil, solusi ini dinilai efektif untuk daerah yang jauh dari jaringan listrik utama.
Berdasarkan data dari PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Barat, seluruh 62 sekolah penerima program telah mencapai status “nyala”. Artinya, instalasi pembangkit tenaga surya sudah selesai dipasang dan berfungsi secara operasional.
Proses instalasi dilakukan secara bertahap. Tahap pertama atau Batch I berlangsung antara Agustus hingga September 2025. Pada tahap ini, sejumlah sekolah di wilayah pedalaman menjadi prioritas.
Tahap kedua atau Batch II kemudian diselesaikan pada Januari 2026, menuntaskan seluruh target pemasangan di Kabupaten Landak.
Dengan selesainya tahap kedua tersebut, seluruh sekolah yang terdaftar dalam program telah dapat memanfaatkan listrik untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
“Sekarang semuanya sudah berstatus nyala. Kita bersyukur anak-anak di sana bisa belajar dengan metode yang lebih modern,” kata Cornelis.
Ia menyebutkan bahwa keberadaan listrik memungkinkan sekolah memanfaatkan perangkat digital seperti komputer, proyektor, hingga akses internet. Hal ini penting untuk mengejar ketertinggalan pendidikan di daerah terpencil.
Menjangkau Sekolah Pelosok
Sebagian sekolah yang menerima program ini berada di wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur energi. Beberapa di antaranya bahkan sebelumnya hanya mengandalkan genset atau listrik dengan durasi terbatas.
Sekolah yang mendapatkan fasilitas PLTS SuperSUN antara lain SD Negeri 11 Sejowet Rantau, SMP Negeri 2 Meranti, dan SD Negeri 65 Sebua Bongo Nahaya. Lokasi sekolah-sekolah tersebut tersebar di berbagai kecamatan yang relatif jauh dari pusat kota.
Di sejumlah tempat, akses jalan masih terbatas dan jaringan listrik belum sepenuhnya menjangkau wilayah permukiman.
Karena itu, teknologi PLTS dipilih sebagai solusi yang lebih fleksibel. Panel surya dapat dipasang di lingkungan sekolah dan menghasilkan listrik secara mandiri melalui energi matahari.
Bagi para guru, kehadiran listrik yang stabil membuka peluang baru dalam proses pembelajaran.
Perangkat elektronik yang sebelumnya jarang digunakan kini dapat dioperasikan lebih rutin. Materi pembelajaran digital juga mulai diperkenalkan kepada para siswa.
Cornelis mengatakan bahwa pengawasan dari parlemen penting agar program pemerintah benar-benar sampai ke masyarakat yang membutuhkan.
“Pelosok-pelosok sekolah menikmati program ini. Inilah pentingnya kita mengawasi dan menyuarakan agar semuanya benar-benar terwujud,” ujarnya.
Ia menilai bahwa pendidikan di daerah terpencil tidak boleh tertinggal hanya karena keterbatasan fasilitas dasar seperti listrik.
Optimisme Menuju Target Elektrifikasi
Keberhasilan penyelesaian program di Kabupaten Landak menjadi salah satu indikator positif bagi upaya peningkatan rasio elektrifikasi fasilitas umum di Kalimantan Barat.
Cornelis menyebutkan bahwa tingkat penyelesaian yang mencapai 100 persen menunjukkan bahwa program energi terbarukan untuk sektor pendidikan dapat dijalankan secara efektif.
Menurut dia, pendekatan berbasis energi surya sangat relevan dengan kondisi geografis Kalimantan Barat yang memiliki wilayah luas dan banyak daerah terpencil.
“Energi modern dan ramah lingkungan seperti PLTS sangat cocok dengan kondisi geografis Kalimantan Barat,” kata Cornelis.
Ia juga menyinggung target pemerintah untuk memperluas akses energi hingga ke wilayah terpencil sebelum 2029.
Dengan ritme pelaksanaan program yang dinilai cukup cepat, ia optimistis target tersebut dapat tercapai lebih awal.
Jika program serupa diperluas ke daerah lain, kata Cornelis, maka semakin banyak sekolah yang dapat menikmati fasilitas pembelajaran digital.
“Kalau ritme eksekusinya seperti ini, saya optimis rasio elektrifikasi fasilitas umum di pelosok bisa tuntas sebelum 2029,” ujarnya.
Ia berharap program elektrifikasi berbasis energi terbarukan tidak berhenti pada tahap ini. Masih banyak sekolah di wilayah pedalaman Kalimantan Barat yang membutuhkan dukungan serupa.
Menurut Cornelis, investasi pada infrastruktur pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan daerah.
Dengan listrik yang stabil, sekolah dapat mengakses teknologi pendidikan modern, memperluas metode pembelajaran, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Semoga ke depan akan lebih banyak sekolah yang terjangkau,” kata Cornelis.
Program pemasangan PLTS di Landak menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah, parlemen, dan perusahaan negara dapat menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Bagi para siswa di sekolah-sekolah pelosok, energi matahari kini bukan sekadar sumber cahaya alam. Ia telah berubah menjadi sumber listrik yang membuka akses baru menuju dunia pendidikan digital.
Penulis: Rangkaya Bada
0 Comments