Ladang Manusia Dayak dan Valuasinya bukan Hanya Padi
| Valuasi ladang orang Dayak keliru direduksi hanya menghasilkan padi. Dokpri. |
Hal yang kerap keliru adalah persepsi bahwa ladang orang Dayak hanya padi. Titik. Seolah-olah seluruh kehidupan berhenti pada bulir yang menguning. Lalu selesai di lesung. Selesai di periuk. Selesai di meja makan.
Ladang: kultivasi padi orang Dayak sejak 10 ribu tahun lalu
Sejak bila orang Dayak mengenal cocok-tanam ladang untuk menghasilkan padi?
Pertanyaan ini bukan sekadar soal kronologi. Ia menyentuh akar peradaban. Ia menyentuh memori kolektif. Ia menyentuh jejak panjang manusia dan tanah yang saling menghidupi.
Menurut Lubis (1981: 9), praktik bercocok tanam dengan sistem peladangan telah dikenal sejak kurang lebih 10.000 tahun yang lalu. Jika rujukan ini kita letakkan dalam konteks masyarakat Dayak di Borneo, maka sistem peladangan yang menghasilkan padi bukanlah produk kemarin sore.
Berladang di kalangan Dayak lahir dari pengalaman panjang. Dari pengamatan musim. Dari pembacaan tanda-tanda alam. Dari relasi sakral antara manusia dan hutan.
Sepuluh ribu tahun. Angka itu bukan angka kecil. Ia melampaui batas imajinasi administratif modern. Ia jauh mendahului lahirnya kerajaan-kerajaan Nusantara. Jauh mendahului kolonialisme. Apalagi sekadar Surat Keputusan. Atau peraturan negara yang baru berusia puluhan tahun.
Ladang Dayak bukan hanya padi
Mengira hasil ladang Dayak hanya padi, persepsi itu keliru!
Cara pandang seperti ini terlalu dangkal. Ia memotong makna. Ia mereduksi kebudayaan. Ia mengabaikan nilai-nilai yang hidup dan bergerak di dalam tradisi berladang Dayak.
Berladang bukan sekadar teknik bercocok tanam. Bukan sekadar soal produksi pangan. Ladang adalah sistem pengetahuan.
Ladang adalah sekolah terbuka. Ladang adalah ruang pembentukan karakter. Di sanalah orang Dayak belajar membaca musim. Mengenali tanah. Menakar hujan. Menghitung hari baik.
Padi inti ladang Dayak tetapi...
Padi memang inti dari ladang orang Dayak. Tetapi inti bukan keseluruhan. Inti adalah pusat. Di sekelilingnya berputar nilai, ritus, seni, dan relasi sosial.
Penelitian oleh Guy Sacerdoti dan David Jenkins pada tahun 1977 mencatat bahwa satu hektar ladang Dayak dapat menghasilkan sekitar 900 kilogram gabah.
Angka ini penting. Tetapi angka tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus dibaca bersama konteks ekologisnya. Tanpa pupuk kimia. Tanpa mesin raksasa. Tanpa ketergantungan total pada pasar.
Ladang adalah sistem. Sistem yang menyatu dengan hutan. Dengan sungai. Dengan langit. Dengan doa.
Maka, menyebut ladang hanya sebagai kebun padi adalah kekeliruan. Titik.
Sayur Alami yang Hanya Tumbuh di Ladang Baru
Ada rahasia tanah yang baru dibuka. Setelah proses adat dijalankan. Setelah pembakaran terkendali dilakukan. Setelah hujan pertama turun. Tanah menghadirkan kejutan.
Rojokng tumbuh. Sogah tidokng muncul. Jamur-jamur hutan bermekaran di antara sisa kayu dan humus.
Tumbuhan ini tidak ditanam. Ia hadir sebagai anugerah. Ia hanya muncul pada fase tertentu. Pada ladang yang baru. Bukan di lahan yang terus-menerus ditanami secara monokultur.
Inilah kekayaan yang sering luput dari perhatian. Ladang bukan hanya menghasilkan padi. Ia juga menghasilkan sayur alami. Vitamin. Mineral. Rasa yang khas.
Anak-anak belajar mengenali mana yang bisa dimakan. Mana yang tidak. Para ibu mengajarkan cara memasaknya. Para ayah menunjukkan tempat tumbuhnya. Pengetahuan ini tidak tertulis. Tetapi ia hidup. Ia diwariskan.
Sistem ladang berpindah memiliki masa bera. Tanah diistirahatkan. Hutan sekunder tumbuh kembali. Kesuburan pulih secara alami. Ketika ladang dibuka lagi bertahun-tahun kemudian. Tanah telah memperbarui dirinya.
Di sinilah kita melihat bahwa ladang adalah sistem regeneratif. Bukan sistem perusakan. Titik.
Ritual. Kayu Baru. Kesenian yang Tumbuh dari Tanah
Setiap tahap berladang memiliki makna. Ada ngabas poya. Permohonan izin. Ada minu. Ada probini. Ada nugal.
Nugal bukan sekadar menugal. Ia adalah kerja bersama. Ada irama. Ada canda. Tetapi tetap ada khidmat. Bahkan membersihkan alat pertanian pun bukan pekerjaan sembarangan. Ada penghormatan. Ada simbol.
Ritual bukan takhayul. Ritual adalah pengingat. Bahwa tanah bukan milik mutlak manusia. Ada batas. Ada tata krama. Ada larangan.
Ladang juga menjadi ruang menanam masa depan. Setelah panen. Sebagian lahan ditanami pohon buah. Kayu keras. Tengkawang. Durian. Langsat. Tanaman yang sebelumnya tidak ada.
Dari ladang lahir kebun campuran. Dari kebun lahir hutan sekunder produktif. Dari sana generasi berikut memetik hasil.
Di tengah kerja kolektif. Kesenian bersemi. Boligo dilantunkan. Bobulet menggema. Balas pantun mempertemukan kecerdasan dan humor. Botakao menghadirkan gerak dan irama.
Seni tidak dipisahkan dari kerja. Seni adalah bagian dari hidup. Anak muda belajar bahasa melalui pantun. Belajar etika melalui syair. Belajar identitas melalui irama.
Hal yang amat sangat keliru adalah persepsi bahwa ladang orang Dayak hanya padi. Ladang adalah peradaban kecil. Ia hidup bersama musim. Tumbuh bersama hutan. Berbuah dalam bentuk pangan. Budaya. Seni. Martabat.
Ladang menjadi panggung. Tanpa gedung. Tanpa tiket. Tetapi penuh makna.
Apakah semua ini hanya padi? Tentu tidak!
Gawai, Tuak, dan Martabat Padi Ladang
Puncak siklus berladang adalah gawai. Atau naik dango. Pesta panen. Ungkapan syukur.
Padi tidak hanya disimpan di lumbung. Ia dirayakan. Ia dihormati. Ia disebut sebagai anugerah.
Dalam konteks ini tuak tidak tergantikan. Seorang pengamat. **Neilson**. Mencatat bahwa tuak adalah minuman adat yang wajib hadir dalam upacara. Ia bukan sekadar minuman. Ia simbol persekutuan.
Tuak dibuat dari padi pulut. Ketan ladang. Ada pulut putih. Ada pulut merah. Rasa tuak dari padi ladang berbeda dengan yang ditanam di sawah. Tanah ladang memberi karakter. Memberi kedalaman rasa.
Pulut merah menghadirkan cita rasa hangat. Lembut. Ada yang menyamakannya dengan anggur Kana. Bukan dalam arti teologis. Tetapi dalam kesan rasa yang berdaya dan bermartabat.
Tuak tidak bisa diganti minuman lain. Karena yang dirayakan bukan alkoholnya. Tetapi maknanya.
Kembali pada padi. Sembilan ratus kilogram gabah per hektar. Itu bukan sekadar angka produksi. Itu jaminan pangan keluarga. Itu dasar kedaulatan. Itu penegasan bahwa masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasar.
Di tengah ekspansi perkebunan besar sawit. Di tengah monokultur yang seragam. Ladang Dayak mengajarkan diversifikasi. Keberlanjutan. Kemandirian.
Maka sekali lagi. Lagi-lagi sekali.
Hal yang amat sangat keliru adalah persepsi bahwa ladang orang Dayak hanya padi.
Ladang adalah peradaban kecil. Ia hidup bersama musim. Tumbuh bersama hutan. Berbuah dalam bentuk pangan. Budaya. Seni. Martabat.
Selama ladang masih dibuka dengan adat. Selama padi masih ditugal dengan doa. Selama gawai masih dirayakan dengan tuak pulut merah. Selama itu pula nilai-nilai Dayak tetap hidup.
Bukan hanya padi. Tetapi jiwa yang menyertainya. Titik.
0 Comments