Perempuan Dayak di Kebun Sawit
| Sawit kini berkembang menjadi pekerjaan yang tidak (lagi) mengenal gender. Istimewa. |
Oleh Masri Sareb Putra
Pemandangan yang biasa hari ini menyaksikan perempuan Dayak bekerja di Kebun Sawit. Kekuatan yang tumbuh diam-diam. Pekerjaan yang menuntut jauh dari rasa malu karena pekerjaan masa kini hampir tidak (lagi) mengenal gender.
Pagi di kebun sawit di pedalaman Kalimantan. Senantiasa dimulai dengan gerakan perempuan Dayak.
Matahari baru muncul di ufuk timur, tapi tangan mereka sudah menapaki jalan setapak antara pohon sawit. Dodos di genggaman, egrek di tangan. Mereka bekerja dengan langkah tenang namun pasti. Setiap tandan buah yang jatuh bukan sekadar hasil kebun, melainkan karya nyata dari pengalaman bertahun-tahun, ketekunan, dan kesabaran yang tak pernah dipamerkan.
Di antara daun yang bergoyang diterpa angin, terlihat semangat yang tak terlihat oleh mata dunia. Perempuan-perempuan ini bukan hanya membantu, mereka menjadi penopang utama. Kebun sawit bukan semata-mata ladang. Tetapi ruang hidup, tempat di mana tubuh, karakter, dan ketahanan mereka terbentuk dengan lembut tapi kuat.
Tubuh yang berbicara tanpa kata
Tubuh perempuan Dayak adalah cerita yang berbicara sendiri. Otot terbentuk dari mengangkat, memotong, memindahkan hasil panen, semuanya tanpa hiasan. Perempuan Dayak tetap sederhana. Berpakaian seadanya, seperti perempuan kampung pada umumnya. Tetapi dari kesederhanaan itu muncul keindahan yang tak bisa dipalsukan; ketangguhan yang lembut, nyata, dan meresap ke setiap gerakan.
Setiap langkah mereka di kebun adalah pelajaran kesabaran, setiap tetes keringat adalah kontribusi untuk keluarga dan komunitas. Di situlah terlihat bahwa kerja bukan hanya kewajiban, tetapi ekspresi hidup yang menyatu dengan identitas mereka. Tidak ada sorak sorai, tidak ada tepuk tangan, hanya kekuatan yang lahir dan tumbuh diam-diam.
Rumah dan ladang menjadi satu
Setelah kebun, pekerjaan tidak berhenti. Perempuan Dayak pulang ke rumah untuk memasak, merawat anak, menjaga keluarga. Namun kini mereka juga menopang ekonomi rumah tangga. Suami dan istri bekerja bersama, saling melengkapi, bukan lagi berjalan sendiri-sendiri.
Di sinilah semangat belarasa hadir. Bukan hanya berbagi kerja, tetapi berbagi hidup. Kehadiran perempuan di kebun sawit mengubah dinamika keluarga. Kemandirian ekonomi tumbuh. Martabat mereka terjaga. Suara mereka terdengar melalui setiap panen yang diangkat, setiap makanan yang disiapkan, setiap langkah di rumah dan ladang yang berjalan bersamaan.
Kekuatan yang menggugah kesadaran
Perubahan ini membawa tanggung jawab baru. Beban kerja perempuan meningkat.
Kekuatan yang tumbuh diam-diam menyimpan risiko kelelahan yang tersembunyi. Maka perlu kesadaran bersama, dari suami, keluarga, dan komunitas, agar peran dibagi lebih adil, supaya ketekunan dan tenaga mereka tetap menjadi sumber kekuatan, bukan menjadi beban yang membisu.
Di kebun sawit, perempuan Dayak adalah simbol ketahanan. Mereka menjaga tradisi, menumbuhkan kesejahteraan, merawat rumah, dan memberi makna bagi masa depan komunitas.
Kekuatan perempuan Dayak sederhana. Tenang, tapi nyata. Sebuah keindahan yang lahir dari kerja keras, belarasa, dan kehidupan sehari-hari.
0 Comments