Tengkawang Sedang Berbunga di Hutan Kalimantan Saat Ini
Oleh Masri Sareb PutraPohon tengkawang sering berbunga serempak dalam suatu kawasan hutan, sebuah fenomena yang dikenal sebagai mast flowering.
Di Borneo, musim buah selalu membawa cerita. Orang datang dari kota-kota untuk menikmati durian yang jatuh di kebun rakyat, memetik rambutan yang merah menyala, atau mencicipi langsat yang manis dari tembawang.
Tradisi ini bahkan mulai berkembang menjadi wisata alam berbasis kebun dan hutan rakyat, yang kini dikenal sebagai agro-forest tourism.
Namun di antara banyak buah tropis itu, ada satu yang jarang disorot, padahal bagi masyarakat Dayak ia memiliki makna yang jauh lebih dalam. Buah itu adalah tengkawang.
Tengkawang bukan sekadar buah hutan. Ia adalah pohon ekonomi, pohon budaya, dan pohon sejarah. Dari bijinya dihasilkan lemak nabati berkualitas tinggi yang dalam perdagangan dunia dikenal sebagai illipe butter.
Saat ini, satu kabar baik datang dari hutan-hutan Borneo: pohon-pohon tengkawang sedang berbunga. Di kanopi hutan yang tinggi, bunga-bunga kecil mulai muncul.
Bagi masyarakat yang mengenal ritme hutan, tanda ini jelas artinya. Jika alam berjalan sebagaimana mestinya, sekitar tiga sampai empat bulan lagi buah tengkawang akan matang dan jatuh ke tanah hutan.
Itulah awal dari musim panen yang selalu dinanti.
Tanda alam yang dikenali orang kampung
Bunga tengkawang sebenarnya tidak mencolok. Ia kecil, warnanya lembut, dan sering tersembunyi di antara daun-daun yang rimbun. Tetapi bagi orang yang hidup dekat dengan hutan, tanda itu tidak pernah luput dari perhatian.
Di banyak kampung Dayak di Borneo, orang tua sering menjadi “penjaga kalender alam”. Mereka memperhatikan kapan pohon mulai berbunga, kapan hujan datang lebih sering, dan kapan angin berubah arah.
Ketika bunga tengkawang mulai muncul, mereka tahu bahwa hutan sedang memasuki satu siklus penting.
Dalam ilmu botani, pohon tengkawang termasuk dalam keluarga Dipterocarpaceae, kelompok pohon besar yang mendominasi hutan hujan Asia Tenggara. Pohon-pohon ini memiliki satu kebiasaan unik: pohon trengkawang sering berbunga serempak dalam suatu kawasan hutan.
Fenomena ini dikenal sebagai mast flowering. Tidak setiap tahun terjadi. Kadang tiga tahun sekali, kadang lima tahun sekali. Tetapi ketika musim itu datang, hutan seakan bergerak bersama.
Dari bunga kecil itulah kehidupan baru dimulai.
Dari bunga menjadi buah
Setelah bunga mengalami penyerbukan, bakal buah mulai terbentuk. Perubahan itu perlahan tetapi pasti. Bunga yang kecil berubah menjadi buah muda yang masih hijau.
Salah satu ciri khas buah tengkawang adalah sayapnya. Sayap ini memanjang dari buah dan menjadi tanda khas banyak pohon dipterokarpa.
Fungsi sayap itu sederhana tetapi cerdas. Ketika buah nanti jatuh dari pohon yang tinggi, sayap tersebut akan membuat buah berputar di udara seperti baling-baling kecil. Dengan cara itu, benih dapat tersebar menjauh dari pohon induknya.
Tahap pembentukan buah ini biasanya berlangsung sekitar satu hingga satu setengah bulan setelah bunga muncul. Pada masa ini buah masih muda dan kandungan minyak di dalam bijinya belum terbentuk.
Namun jika diperhatikan dengan saksama, ukuran buah perlahan membesar.
Ketika lemak tengkawang terbentuk
Memasuki bulan kedua dan ketiga, buah tengkawang mulai matang. Kulitnya semakin keras, ukurannya lebih penuh, dan di dalam bijinya terjadi proses yang sangat penting: pembentukan lemak tengkawang.
Lemak inilah yang membuat tengkawang dikenal di dunia. Dalam industri pangan dan kosmetik, lemak tengkawang sering digunakan sebagai bahan alternatif cocoa butter, terutama dalam produksi cokelat dan berbagai produk perawatan kulit.
Namun bagi masyarakat Dayak di Borneo, tengkawang bukan sekadar komoditas industri. Ia adalah bagian dari ekonomi kampung sejak lama.
Dahulu, biji tengkawang dikumpulkan dari hutan, dikeringkan, lalu dibawa melalui sungai menuju kota-kota pesisir. Dari sana, komoditas ini masuk ke jalur perdagangan yang lebih luas.
Seluruh proses dari bunga hingga buah matang biasanya berlangsung sekitar tiga sampai empat bulan.
Musim Buah yang menghidupkan kampung
Puncak dari siklus tengkawang terjadi ketika buah matang dan jatuh dari pohon. Pada saat itu, lantai hutan sering dipenuhi buah yang bersayap.
Bagi masyarakat Dayak, inilah musim panen hutan. Orang-orang masuk ke hutan untuk mengumpulkan buah yang jatuh. Anak-anak ikut membantu, orang tua memisahkan buah yang baik, dan keluarga bersama-sama mengeringkan bijinya.
Suasana seperti ini bukan hanya kegiatan ekonomi. Ia juga menjadi bagian dari kehidupan sosial kampung.
Jika dikembangkan dengan baik, musim tengkawang sebenarnya dapat menjadi destinasi wisata ekologis yang khas. Wisatawan dapat melihat langsung bagaimana buah jatuh dari kanopi hutan yang tinggi, bagaimana masyarakat mengumpulkan hasil hutan, dan bagaimana biji itu diolah menjadi lemak tengkawang.
Namun ada satu hal yang membuat musim ini istimewa: ia tidak datang setiap tahun. Pohon tengkawang biasanya berbuah besar hanya setiap tiga sampai lima tahun sekali.
Karena itu, ketika tengkawang mulai berbunga seperti sekarang ini, orang yang memahami hutan tahu bahwa alam sedang membuka satu siklus baru.
Dari bunga kecil di atas kanopi hingga buah yang jatuh ke tanah, tengkawang mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi dalam: bahwa hutan Borneo memiliki waktunya sendiri untuk memberi kehidupan.
0 Comments