Bappenas Dorong Hilirisasi Aren, Belajar dari Sawit dan Sagu

 

Bappenas Dorong Hilirisasi Aren, Belajar dari Sawit dan Sagu
Dari kiri ke kanan; Willie Smiths Ketua Satgas Aren Kementerian Kehutanan, Petrus Gunarso, Penulis Buku Palma Tropika Indonesia untuk Dunia, dan Ishak Yasir, Kapus Data dan Informasi Kementerian Kehutanan. Ist.

Belajar dari sawit dan sagu serta palma lainnya; pengembangan dan hilirisasi aren menjadi topik bahasan Bappenas. 

Rapat koordinasi di Jakarta menegaskan pentingnya bioetanol berbasis aren, penguatan perhutanan sosial, serta konsolidasi lintas sektor untuk ketahanan pangan dan energi nasional.

Bappenas mengonsolidasikan pengembangan komoditas aren

Pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mulai mengonsolidasikan pengembangan komoditas aren sebagai bagian dari strategi besar menuju ketahanan pangan dan energi nasional. 

Dalam rapat koordinasi yang berlangsung di Jakarta, Kamis (2/4/2026), isu hilirisasi, bioekonomi kehutanan, hingga pembelajaran dari pengelolaan sawit dan sagu menjadi fokus utama pembahasan lintas sektor.

Namun, di balik bahasa resmi yang terdengar sistematis dan optimistis, tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa komoditas seperti aren, yang sejak lama dikenal memiliki potensi besar, baru kini masuk dalam agenda serius perencanaan nasional?

Rapat yang berlangsung di Menara Bappenas itu dipimpin oleh Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas, Dadang Jainal Mutaqin, yang hadir bersama pimpinan Satuan Tugas (Satgas) Pengembangan Aren Kehutanan. 

Forum ini juga mempertemukan sejumlah tokoh kunci seperti Willie Smits sebagai Ketua Satgas, Ishak Yasir sebagai Sekretaris Satgas, serta Petrus Gunarso.

Diskusi berlangsung intens. Namun, yang mengemuka bukan hanya optimisme, melainkan juga pengakuan tersirat bahwa selama ini pengembangan aren berjalan tanpa arah yang jelas.

Konsolidasi nasional yang terlambat

Selama bertahun-tahun, aren hidup di pinggir kebijakan. Ia tumbuh di desa-desa, di kawasan hutan, di lahan-lahan yang sering kali tidak menjadi prioritas pembangunan. Tidak ada peta jalan nasional yang kuat. Tidak ada intervensi besar yang sistematis.

Sementara itu, negara menunjukkan wajah yang berbeda terhadap komoditas lain. Sawit berkembang dengan dukungan kebijakan yang konsisten, insentif investasi, dan penguatan industri dari hulu hingga hilir.

Perbandingan ini tidak bisa dihindari. Ketika para peserta menyebut bahwa aren harus belajar dari sawit dan sagu, yang sesungguhnya muncul adalah kesadaran bahwa negara pernah berhasil, tetapi juga pernah abai.

Pertanyaannya menjadi tajam: apakah keterlambatan ini sekadar soal waktu, atau mencerminkan prioritas pembangunan yang selama ini tidak berpihak pada komoditas berbasis masyarakat?

Belajar dari Sawit menghindari pengulangan

Sawit diakui sebagai model keberhasilan pembangunan komoditas. Sawit menciptakan skala ekonomi, memperkuat ekspor, dan menggerakkan industri nasional. Namun, keberhasilan itu tidak datang tanpa konsekuensi.

Konflik lahan, tekanan terhadap lingkungan, serta ketimpangan penguasaan sumber daya menjadi bagian dari persoalan yang menyertainya.

Di sisi lain, sagu menghadirkan pendekatan berbeda. Ia berkembang lebih dekat dengan masyarakat, lebih selaras dengan ekosistem lokal, tetapi tidak pernah benar-benar didorong ke skala industri yang besar.

Dalam konteks ini, aren berada di antara dua model: efisiensi ekonomi dan keberlanjutan sosial.

Namun, posisi di tengah juga berarti risiko. Tanpa arah yang jelas, aren bisa kehilangan keduanya.

Hilirisasi yang masih tertunda

Hilirisasi menjadi kata kunci dalam rapat tersebut. Selama ini, produk aren masih didominasi dalam bentuk mentah atau setengah jadi. Nilai tambah belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri.

Aren yang potensi dan nilai ekonominya belum dimanfaatkan optimal
Aren yang potensi dan nilai ekonominya belum dikembangkan optimal. Dok, dayaktoday.com

Potensi bioetanol berbasis aren kembali ditegaskan sebagai bagian dari solusi energi masa depan. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang konkret, potensi tersebut akan sulit berkembang.

Keterbatasan infrastruktur, minimnya investasi, serta belum terbentuknya pasar menjadi tantangan nyata. Dalam kondisi ini, petani tetap berada di posisi paling lemah dalam rantai nilai.

Hilirisasi, yang selama ini sering disebut, kembali diuji: apakah ia akan benar-benar dijalankan, atau tetap berhenti sebagai wacana?

Perhutanan sosial dan ujian implementasi

Penguatan perhutanan sosial disebut sebagai salah satu strategi utama. Pendekatan ini diharapkan mampu melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengembangan aren.

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa implementasi tidak selalu berjalan sesuai rencana. Akses terhadap lahan, kapasitas kelembagaan, dan keterbatasan pendanaan masih menjadi kendala.

Tanpa penguatan yang nyata, perhutanan sosial berisiko menjadi konsep yang baik di atas kertas, tetapi lemah dalam praktik.

Koordinasi yang selalu menjadi tantangan

Bappenas menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor. Aren berada di persimpangan antara kehutanan, energi, dan industri. Tanpa sinergi, kebijakan akan berjalan sendiri-sendiri.

Namun, koordinasi lintas sektor bukan persoalan baru. Perbedaan kepentingan antar lembaga sering kali menghambat implementasi di lapangan.

Keberadaan Satgas Aren diharapkan mampu menjembatani persoalan ini. Meski demikian, efektivitasnya masih akan diuji oleh realitas birokrasi dan dinamika kepentingan.

Dari rencana menuju kenyataan

Rapat koordinasi itu berakhir dengan kesimpulan dan komitmen. Namun, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah forum selesai.

Aren kini mulai masuk dalam agenda nasional. Ia dilihat sebagai bagian dari masa depan bioekonomi Indonesia. Namun, jalan menuju ke sana masih panjang.

Apakah negara mampu menjaga konsistensi kebijakan? Apakah masyarakat akan benar-benar dilibatkan? Apakah hilirisasi akan berjalan?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab.

Hal yang jelas bahwa masa depan aren tidak akan ditentukan oleh apa yang dibicarakan di ruang rapat, melainkan oleh apa yang benar-benar dikerjakan setelahnya.

Penulis: Rangkaya Bada

0 Comments

Type above and press Enter to search.