Buku dan Pengaruhnya
Oleh R. Masri Sareb PutraBuku-buku yang mempengaruhi (pemikiran dan peradaban) manusia sepanjang zaman. Ist.
SEJAUHMANA buku mempengaruhi manusia dan peradabannya?
Hingga hari ini, buku masih menjadi barang mewah di negeri kita. Tiap bulan, diperkirakan terbit sekitar 3.000 judul buku baru.
Jumlah yang masih njomplang dibanding dengan populasi penduduk. Yang membuat masygul, sudah terbitan buku minim, minat baca rendah pula.
Buku dan orang yang kita jumpai
Menurut hasil survei, tingkat membaca anak Indonesia berada di urutan ke-26 dari 27 negara yang disurvei. Seperti dicatat Bank Dunia dalam Indonesia: Book and Development, "The reading habit does not appear to be established among primary school pupils."
Minimnya apresiasi buku, dan rendahnya tingkat dan kemampuan membaca orang Indonesia, patut diprihatinkan. Hal ini mengingat betapa besar peran dan pengaruh buku pada perkembangan dan peradaban umat manusia.
Seperti dicatat Harvey Mackay, motivational speaker terkenal, hidup manusia diubah melalui dua cara yakni lewat orang yang kita jumpai dan bahan bacaan yang kita baca (Our lives change in two ways: through the people we meet and the book we read). Ini dicatat Mackay dalam buku Swim with Sharks without Getting Eaten Alive.
Benar, pada intinya, hidup kita memang diubah oleh dua hal saja. Pertama, dari pertemuan dengan orang lain. Pertemuan ini bisa formal (proses belajar-mengajar), bisa juga informal (di sembarang tempat dan kesempatan). Siapa saja yang kita temui, dialah guru. Bertemu orang baik dan cerdas, kita potensial menjadi orang baik dan cerdas. Sebaliknya, bertemu dengan orang jahat dan dungu, kita pun potensial seperti mereka juga.
Kedua, hidup kita diubah melalui buku yang kita baca. Buku memiliki daya luar biasa. Seperti manusia, jika kita membaca buku bermutu, kita potensial menjadi pandai. Jika membaca buku yang baik, kita berpotensi jadi orang baik pula. Sebaliknya, jika membaca buku yang tidak bermutu dan tidak baik, kita pun berpotensi demikian.
Beberapa Bukti
Buku yang khusus membahas bagaimana buku mempengaruhi orang, Read and Grow Rich mengupas bagaimana buku mempengaruhi kehidupan dan pribadi orang. Dengan membaca, seseorang terbuka wawasannya. Dari membaca, seseorang mendapat ide-ide baru yang, jika dilaksanakan, akan mendatangkan keuntungan.Sejauh mana buku mempengaruhi kehidupan, tentu setiap orang punya pengalaman sendiri-sendiri. Ada orang yang sekali baca, langsung buku mempengaruhinya. Buku dapat mempengaruhi mind set dan perilaku seseorang.
Namun, ada pula orang yang telah melahap sekian banyak buku, perilakunya tetap sama seperti sebelumnya. Buku bisa jadi guru. Namun, bisa juga menjadi tidak apa-apa. Sebagaimana guru-manusia, guru-buku pun tak akan memberi makna apa-apa, kalau tak hendak dimaknai.
Faktanya, banyak buku mempengaruhi kehidupan umat manusia. Sebagai contoh, pertama kitab suci agama-agama. Terlepas dari anggapan kitab suci agama adalah wahyu, ataukah ditulis manusia biasa, fakta menunjukkan banyak penganut agama sangat terpengaruh oleh kitab sucinya. Sedemikian rupa, sehingga apa pun yang dicatat dalam Alkitab, diyakini dan dituruti.
Pemikiran para filsuf Yunani kuno (350-450 SM) yang diabadikan dalam bentuk tulisan, masih berpengaruh kuat. Bahkan belum ada tandingannya hingga hari ini. Para filsuf ini pula penggali dan peletak dasar bagi ilmu pengetahuan dan teknologi. Magna Charta (1215), traktat yang menyadarkan banyak orang mengenai hak-hak asasi manusia. Kitab Gutenberg, atau "Injil 42 Baris" (1440). Inilah buku pertama yang dicetak menggunakan mesin cetak. Kitab ini menjadi lompatan raksasa karena sejak itu berkembang pesat teknologi percetakan dan penerbitan yang mempengaruhi kehidupan umat manusia. Injil Gutenberg rampung pengerjaannya pada 15 Agustus 1456, dengan jumlah cetakan 200 eksemplar. Sebagian dicetak di atas kertas, dan sebagian lagi dicetak dalam vellum. Ukuran (format) buku 12 x 16, 5 inchi. Konon, hingga sekarang buku itu hanya tersisa 40, dan berada di Amerika Serikat.
Karya sastra dan soneta William Shakespeare (1564-16-16). Karya ini menjadi inspirasi dan mencerahkan umat manusia sejagad. Shakespeare menghidupkan kembali tradisi sastra dan filsafat yang ribuan tahun sebelumnya hidup di tanah Yunani. Sastra dapat menjadi media, atau sarana pendidikan dan sekaligus hiburan. "Declaration of Independence" (1776). Pada 4 Juli 1776, di Philadelphia diratifikasi dokumen penting mengenai kemerdekaan. Thomas Jefferson adalah aktor intelektual deklarasi ini, yang dengan semangat dan sarat muatan filosofis mendeklarasikan bahwa setiap warga Amerika:
"We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalineable rights, that among these are Life, Liberty and the pursuit of Happiness."
Jika Das Kapital (diterbitkan pertama kali pada 1867) menjadi salah satu fondasi pemikiran ekonomi-politik modern, maka abad ke-20 melahirkan deretan buku yang tidak kalah mengguncang cara manusia memahami dunia, dari kekuasaan, kebebasan, hingga makna kemanusiaan itu sendiri.
Buku berpengaruh abad ke-20
Abad ke-20 adalah abad ideologi. Buku bukan sekadar bacaan, tetapi senjata gagasan. Dalam lanskap itu, beberapa karya berdiri sebagai penanda zaman.
- Pertama, The Communist Manifesto (1848) memang lahir sebelum abad ke-20, tetapi justru menemukan “hidup keduanya” di abad ini. Ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, buku ini menjadi bahan bakar revolusi di berbagai belahan dunia, dari Rusia hingga Tiongkok.
- Kedua, Mein Kampf (1925) karya Adolf Hitler. Sebuah buku yang memperlihatkan bagaimana ide bisa berubah menjadi mesin destruksi. Ia bukan sekadar teks, tetapi peta jalan ideologi yang kemudian meledak dalam tragedi global.
- Ketiga, The General Theory of Employment, Interest and Money (1936) oleh John Maynard Keynes. Buku ini mengubah wajah ekonomi dunia, menantang kapitalisme laissez-faire dan memberi dasar bagi intervensi negara dalam ekonomi modern.
- Keempat, 1984 (1949) karya George Orwell. Sebuah novel, tetapi dampaknya melampaui fiksi. Ia memperingatkan tentang totalitarianisme, pengawasan, dan manipulasi bahasa, sesuatu yang terasa makin relevan di era digital.
- Kelima, The Road to Serfdom (1944) oleh Friedrich Hayek. Buku ini menjadi kritik tajam terhadap sosialisme dan memperkuat argumen tentang pentingnya kebebasan individu dalam ekonomi pasar.
- Keenam, Silent Spring (1962) karya Rachel Carson. Inilah buku yang membangunkan kesadaran ekologis dunia. Dari sini, gerakan lingkungan hidup modern menemukan pijakannya.
- Ketujuh, The Structure of Scientific Revolutions (1962) oleh Thomas Kuhn. Kuhn memperkenalkan konsep “paradigma,” mengubah cara kita memahami perkembangan ilmu pengetahuan, bahwa ilmu tidak selalu maju secara linier, tetapi melalui lompatan revolusioner.
- Kedelapan, The Second Sex (1949) karya Simone de Beauvoir. Buku ini menjadi tonggak penting dalam feminisme modern, menggugat konstruksi sosial tentang perempuan.
- Kesembilan, Man's Search for Meaning (1946) oleh Viktor Frankl. Dari pengalaman kamp konsentrasi, Frankl menunjukkan bahwa bahkan dalam penderitaan paling gelap, manusia tetap bisa menemukan makna.
- Kesepuluh, The Wealth of Nations (1776) memang jauh lebih tua, tetapi tetap hidup sebagai fondasi kapitalisme yang terus diperdebatkan sepanjang abad ke-20, terutama ketika berhadapan dengan bayang-bayang Marx.
Jika ditarik benang merahnya, maka Das Kapital bukan berdiri sendiri. Ia seperti batu pertama dalam bangunan panjang perdebatan antara negara dan pasar, individu dan kolektif, kebebasan dan kontrol.
Abad ke-20 menunjukkan satu hal penting: buku bisa mengubah dunia, tetapi juga bisa menghancurkannya. Karena pada akhirnya, yang menentukan bukanlah bukunya, melainkan bagaimana manusia mempercayai, menafsirkan, dan menjalankannya.
0 Comments