Kalimantan Diproyeksikan Mencatat Rekor Tututan Sawit Terluas di Indonesia

Kalimantan Mencatat Rekor Tututan Sawit Terluas di Indonesia
Kalimantan diproyeksikan menjadi pulau dengan tutupan sawit terluas di Indonesia, dengan luas sekitar 6,2 juta hektar pada 2024. Dok. dayaktoday.com

 Periset dan penulis: Masri Sareb Putra

Kelapa sawit bukan hanya tanaman meski monokultur. Sawit adalah denyut ekonomi yang mengalir dari tanah ke pabrik, dari sawit ke dapur, dari desa ke kota. 

Setiap tetes minyak Sawit menggerakkan devisa negara miliaran dolar, membuka lapangan kerja jutaan orang, bahkan menjadi bahan bakar bagi perjalanan bangsa ini.

Hampir setiap hari, sawit hadir tanpa disadari. Minyak goreng, margarin, sabun, kosmetik, cokelat. Smua menyentuh hidup kita. Kehadirannya begitu akrab, namun jarang kita renungi.

Indonesia masih menyandang mahkota produsen sawit terbesar dunia. Pada 2024-2025, luas lahan sawit mencapai sekitar 16 juta hektare. BPS mencatat 16,01 juta hektare, sementara Kementan sedikit lebih tinggi: 16,83 juta. 

Bedanya metodologi, BPS administrasi, Kementan geospasial. Moratorium lahan baru sejak 2018 menahan pertumbuhan, tapi produktivitas tetap naik berkat teknologi dan peremajaan tanaman.

Yang menarik, pusat kekuatan sawit kini bergeser. Dulu Sumatera memimpin. Sekarang Kalimantan ikut berebut tahta. Lima provinsi raksasa ini menentukan arah:

1. Riau – Juara Tahan Lama, ~3,41 Juta Hektare

Riau tetap tak tergoyahkan. Lahan seluas 3,41 juta hektare, lebih dari 21% nasional. Bayangkan, lima kali luas DKI Jakarta. Sejak 1980-an, sawit tumbuh di sini. Tanahnya cocok, pelabuhan Dumai dan Pekanbaru siap ekspor. Produksi CPO sering menembus 8-9 juta ton per tahun.

Tapi Riau punya sejarah kelam. Deforestasi, konflik lahan adat, kebakaran gambut. Kini, banyak yang beralih ke sawit berkelanjutanISPO dan RSPO menjadi jalan.

2. Kalimantan Tengah – Penantang Kuat, ~2,16 Juta Hektare

Kalteng melonjak cepat 15-20 tahun terakhir. Lahan luas, mineral dan gambut siap ditanami. Kabupaten Seruyan, Kotawaringin Barat, Pulang Pisau jadi pusatnya. Produksi CPO menyaingi Riau. Tantangan: infrastruktur jalan terbatas, banjir musiman, konflik dengan masyarakat Dayak. PSR hadir sebagai jawaban, memperbaiki bibit, pupuk, dan pendampingan.

3. Kalimantan Barat – Saudara Dekat Kalteng, ~2,16 Juta Hektare

Kalbar nyaris menyamai Kalteng. Lahan banyak di perbatasan Sarawak, Malaysia. Pontianak, Ketapang, Sintang jadi andalan. Sawit rakyat kuat, 40-50% dikelola petani kecil. Mereka menjual TBS langsung ke pabrik, membuktikan kemandirian petani Dayak.

4. Kalimantan Timur – Pendatang Baru Ganas, ~1,49 Juta Hektare

Kaltim dulu tambang dan migas. Sekarang sawit jadi andalan kedua. Kabupaten Paser, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara tumbuh pesat. Ekspansi terkait IKN, menimbulkan kekhawatiran benturan dengan kawasan hijau, tapi infrastruktur baru mempermudah distribusi CPO.

5. Sumatera Utara – Legenda Sumatera, ~1,36 Juta Hektare

Sumut masih lima besar. Medan, Labuhanbatu, Serdang Bedagai pusat sawit sejak era Belanda. Luas kalah Kalimantan, tapi produktivitas unggul. Sawit tua banyak diremajakan, pabrik oleochemical dan biodiesel banyak berdiri.

Mengapa akan Kalimantan Naik Tahta?

Lahan baru di Sumatera makin sempit, konflik sosial, hutan lindung. Kalimantan luas, murah, didukung pemerintah daerah. Hasilnya: Kalteng, Kalbar, Kaltim menduduki posisi 2-4 nasional.

Total lahan 16 juta hektare terbagi: swasta besar 50-55%, rakyat 40-45%, negara sisanya. Sawit rakyat tumbuh cepat berkat PSR.

Kalimantan diproyeksikan menjadi pulau dengan tutupan kelapa sawit terluas di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Hingga 2024, luas perkebunan sawit di wilayah Borneo telah mencapai sekitar 6,2 juta hektare, masih di bawah Sumatera yang berkisar 8–9 juta hektare. Namun, pertumbuhan di provinsi seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur menunjukkan laju yang lebih cepat. Pertumbuhan yang didorong oleh ketersediaan lahan, pembangunan infrastruktur, serta dukungan kebijakan dan program peremajaan sawit rakyat (PSR).

Sejumlah analis menilai, perlambatan ekspansi di Sumatera akibat keterbatasan lahan membuka peluang bagi Kalimantan untuk mengambil alih posisi teratas. Meski demikian, pergeseran ini tetap dihadapkan pada tantangan serius seperti deforestasi, konflik lahan, dan tuntutan standar keberlanjutan global. Pemerintah mendorong sertifikasi ISPO dan penguatan hilirisasi agar pertumbuhan industri sawit tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan.

Tantangan dan harapan

Sawit kontroversial. Deforestasi, hilangnya habitat orangutanemisi karbonEropa menuding “minyak sawit buruk.” Tapi produktivitas 3-7 kali lebih tinggi dari kedelai atau rapeseed. ISPO ada, target net sink 2030 ada. B40, B50, B100 menjadikannya energi terbarukan.

2025-2026, produksi CPO naik karena cuaca dan peremajaan. Ekspor kuat ke India, China, Pakistan, Uni Eropa. Kunci petani sukses: koperasi, sertifikasi, PSR. Kunci pemerintah: hilirisasi, olah sawit jadi margarin, sabun, biofuel, jangan hanya jual mentah.

Sawit berkah atau kutukan?

Dari Riau 3,41 juta ha, Kalteng dan Kalbar 2,16 juta, sawit jadi penopang ekonomi, devisa, dan kehidupan jutaan keluarga. Keberlanjutan harga mati: moratorium lahan baru, intensifikasi, peremajaan, hilirisasi. Jika dikelola benar, sawit bisa menjadi miracle crop yang ramah lingkungan sekaligus menguntungkan.

Saat menuang minyak goreng atau sabun mandi, ingat, lima provinsi ini: Riau, Kalteng, Kalbar, Kaltim, Sumut. 

Semuanya menjaga Indonesia tetap raja sawit dunia.

0 Comments

Type above and press Enter to search.