Ketungau Tesaek Komunitas Merajut Sejarah dan Membangun Jatidirinya

Ketungau Tesaek Komunitas Merajut Sejarah dan Membangun Jatidirinya

Oleh Masri Sareb Putra

Ketungau Tesaek menjadi salah satu yang menonjol di antara sukubangsa lain di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Mereka punya Buku Sejarah migrasi. Menulis proses pembentukan identitas sebagai salah satu klan yang literat.

Kabupaten Sekadau di Kalimantan Barat bukan aebatas wilayah administratif. Kabupaten hasil pemekaran induknya, Sanggau, ini adalah ruang hidup, ruang ingatan, sekaligus ruang perjumpaan berbagai sub-suku Dayak yang telah lama berakar di sana. 

Di antara sekian banyak komunitas yang membentuk wajah sosial-budaya Sekadau, terdapat satu kelompok yang menempati posisi penting. Baik dari segi jumlah, sejarah, maupun pengaruh sosialnya, yakni Ketungau Tesaek.

Pertanyaan sederhana: etnis apa yang dominan di Kabupaten Sekadau? 

Jawabannya tidak tunggal. Namun, jika ditarik ke dalam konteks distribusi populasi dan konsentrasi wilayah, maka Ketungau Tesaek menjadi salah satu yang menonjol. Mereka bukan hanya hadir sebagai angka statistik, tetapi sebagai entitas budaya yang hidup: dengan bahasa, adat, sejarah migrasi, serta sistem pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Tulisan ini mencoba menelusuri jejak Ketungau Tesaek. Dari asal-usulnya, dinamika migrasi, variasi penyebutan nama, hingga persebarannya hari ini. Sebuah upaya untuk memindahkan pengetahuan yang selama ini bersifat tacit yang hidup dalam cerita, ingatan, dan praktik sehari-hari menjadi explicit knowledge yang terdokumentasi.

Ketungau Tesaek dalam konfigurasi etnis Sekadau

Sekadau adalah mosaik. Ia tersusun dari kepingan-kepingan sub-suku Dayak yang beragam. Dalam peta besar itu, Ketungau Tesaek menempati salah satu ruang yang cukup luas dan signifikan.

Berdasarkan data yang dirujuk dari penelitian Sujarni Alloy, Albertus, dan Chatarina Pancer Istiany (Institut Dayakologi, 2008), komunitas ini disebut sebagai “Ke-tungau Sesae’” dengan kode peta 59. 

Penamaan ini penting. Sebaba bukan hanya label, melainkan penanda identitas yang membedakan antara Ketungau sebagai wilayah geografis dan Ketungau sebagai sub-suku.

Ketungau sebagai sub-suku sendiri tidak tunggal. Ia terbagi dalam sejumlah anak sub-suku, seperti Ketungau Air Tabun, Banjur, Bagelang, Demam, Embarak, Kumpang, Mandau, Merakai, Sebaru, Sekalau, Sekapat, hingga Senangan. 

Di antara semua itu, Ketungau Tesaek hadir sebagai salah satu klan atau komunitas yang memiliki ciri khas tersendiri.

Komunitas ini terkonsentrasi di Kecamatan Sekadau Hulu, Sekadau Hilir, serta sebagian wilayah Belitang Hilir. Mereka tersebar di lebih dari 70 kampung, dengan populasi sekitar 30.000 jiwa. Jika dibandingkan dengan total penduduk Kabupaten Sekadau yang berjumlah sekitar 215.316 jiwa, maka Ketungau Tesaek mencakup sekitar 7,1 persen.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah indikator kehadiran yang signifikan. Dalam politik lokal, dalam dinamika ekonomi, dalam praktik sosial-budaya, bahkan dalam pendidikan. Ketungau Tesaek menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan.

Namun, yang lebih penting dari angka adalah makna. Bahwa di balik angka itu, ada sejarah panjang. Ada perjalanan. Ada “tesaek jalae ne”: tersesat dalam perjalanan yang justru melahirkan identitas baru.

Tesaek Jalae Ne: Asal-Usul dan Narasi Migrasi

Setiap komunitas memiliki cerita asal-usul. Bagi Ketungau Tesaek, cerita itu berangkat dari sebuah peristiwa yang tampak sederhana, tetapi sarat makna: tersesat dalam perjalanan.

Dalam tuturan lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, dikenal istilah “tesaek jalae ne”. Secara harfiah, ia berarti tersesat jalan. Namun dalam konteks sejarah komunitas, ia bukan sekadar kesalahan arah. Ia adalah titik balik.

Dikisahkan, sebuah rombongan yang dipimpin oleh tokoh yang dalam beberapa versi disebut sebagai Ndai Abang melakukan perjalanan menyusuri Sungai Kapuas. Mereka menggunakan sampan dan rakit, mengikuti alur sungai yang mula-mula lebar, lalu semakin menyempit ke arah hulu.

Perjalanan itu tidak singkat. Berminggu-minggu mereka berdayung. Menyusuri arus. Menghadapi ketidakpastian. Hingga pada suatu titik, mereka mengalami “tesaek”: kehilangan arah.

Sebagian rombongan memilih kembali. Mereka turun lagi ke muara Sungai Sekadau. Namun, sebagian lainnya mengambil keputusan berbeda. Mereka tidak kembali. Mereka melanjutkan perjalanan ke hulu, memasuki Sungai Ketungau.

Di sinilah sejarah menemukan momentumnya.

Kelompok yang memilih melanjutkan perjalanan itu kemudian menetap. Mereka membuka pemukiman baru. Membangun rumah panjang. Mengembangkan sistem sosial. Dari sanalah lahir komunitas yang kemudian dikenal sebagai Ketungau Tesaek.

Menariknya, “tesaek” di sini bukan akhir, melainkan awal. Ia bukan kegagalan, melainkan fondasi identitas. Sebuah kesalahan arah yang justru melahirkan arah baru.

Dalam catatan lain, seperti yang dihimpun oleh Kunjan dan Pinson (2004–2005), migrasi ini terbagi dalam dua jalur utama. Kelompok pertama dipimpin oleh Punuk, menyusuri Sungai Merbang. Kelompok kedua dipimpin oleh Amuk, melalui Sungai Ayak.

Kelompok Sungai Ayak bahkan sempat menetap cukup lama di wilayah muara sebelum akhirnya mencari lokasi baru untuk pemukiman permanen. Ini menunjukkan bahwa migrasi bukan peristiwa sekali jadi, melainkan proses panjang yang melibatkan adaptasi, negosiasi dengan alam, serta interaksi dengan kelompok lain.

Dari sinilah terlihat bahwa Ketungau Tesaek adalah bagian dari sub-rumpun Iban. Mereka membawa warisan budaya Iban: termasuk sistem rumah panjang, tradisi lisan, serta praktik-praktik adat tertentu, namun sekaligus mengembangkan kekhasannya sendiri.

Variasi Penyebutan dan Peneguhan Identitas

Salah satu hal menarik dari Ketungau Tesaek adalah variasi penyebutan namanya. Dalam praktik sehari-hari, kita menemukan berbagai bentuk: Ketungau Sesae’, Ketungau Sesat, Ketungau Tesat, bahkan Ketungau Tesaek.

Mengapa demikian?

Jawabannya terletak pada dialek. Setiap komunitas penutur memiliki cara pengucapan yang berbeda. Perbedaan ini bukan kesalahan, melainkan kekayaan. Ia mencerminkan dinamika bahasa yang hidup.

Namun, di tengah variasi itu, muncul kebutuhan akan peneguhan. Sebuah nama yang disepakati bersama. Sebuah identitas yang tidak hanya diucapkan, tetapi juga diakui.

Di sinilah “ Ketungau Tesaek” menjadi pilihan yang dianggap paling representatif.

Istilah ini tidak hanya merujuk pada peristiwa “tesaek jalae ne”, tetapi juga mengandung makna perjalanan. Ia bukan sekadar label linguistik, melainkan simbol sejarah.

Dalam konteks ini, penting untuk membedakan antara “Tesaek jalae ne” dan “Tesaek hidup”. Yang pertama merujuk pada peristiwa perjalanan: tersesat dalam konteks migrasi. Yang kedua bisa disalahartikan sebagai kondisi hidup.

Padahal, identitas  Ketungau Tesaek tidak lahir dari “tersesat hidup”, melainkan dari “tersesat dalam perjalanan”. Sebuah perbedaan makna yang sangat penting.

Peneguhan nama ini juga penting dalam konteks akademik. Seperti yang ditunjukkan dalam karya Alloy dkk. (2008), pengkodean dalam peta persebaran membantu menghindari kekeliruan identifikasi. Ia memastikan bahwa Ketungau Tesaek dipahami sebagai entitas yang spesifik, bukan sekadar bagian dari kategori yang lebih umum.

Peneguhan identitas ini juga berkaitan dengan upaya dokumentasi. Dalam dunia yang bergerak cepat, di mana perubahan sosial sering kali lebih cepat dari pencatatan, maka penamaan menjadi alat penting untuk menjaga ingatan kolektif.

Sejarah, dalam hal ini, menjalankan fungsinya: sebagai saksi zaman (historia vero testis temporum) dan sebagai cahaya kebenaran (lux veritatis).

Persebaran, Dialek, dan Dinamika Sosial  Ketungau Tesaek

Hari ini,  Ketungau Tesaek tidak lagi terbatas pada satu wilayah. Mereka telah tersebar di berbagai kecamatan, bahkan melintasi batas administratif.

Persebaran mereka dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, kampung-kampung yang murni dibangun oleh komunitas Ketungau Tesaek, yang jumlahnya sekitar 64 kampung. Kedua, kampung-kampung yang dibangun bersama dengan sub-suku Dayak lain, seperti Mualang, Jangkang, Kerabat, Benawas, Sekujam, Seberuang, dan Ot Danum.

Jika Sungai Kapuas dijadikan sebagai garis pembagi, maka wilayah persebaran mereka terbagi menjadi dua: bagian barat (matahari padam) dengan sekitar 39 kampung, dan bagian timur (matahari tumueh) dengan sekitar 31 kampung.

Dari sisi bahasa, Ketungau Tesaek memiliki dua dialek utama. Pertama, dialek dengan bunyi “O”, yang dominan digunakan. Kedua, dialek dengan bunyi “A”, yang lebih terbatas penggunaannya.

Dialek “O” digunakan di sekitar 54 pemukiman, tersebar di Sekadau Hulu, Sekadau Hilir, Kapuas (Sanggau), dan Belitang Hilir. Sementara dialek “A” digunakan di sekitar 16 kampung, terutama oleh kelompok yang leluhurnya berasal dari Sungai Kedah.

Kelompok Sungai Kedah ini memiliki kekhasan tersendiri. Meskipun mereka bagian dari Ketungau Tesaek, mereka sering mengidentifikasikan diri sebagai orang Kedah. Mereka juga memiliki praktik budaya yang tidak ditemukan pada kelompok lain, seperti ngumpatn pala kabak: memberi makan kepala kayau pada hari pertama gawai.

Tradisi ini menunjukkan keterkaitan mereka dengan praktik kayau yang juga dikenal dalam budaya Iban. Bahkan, hingga kini, mereka masih menyimpan tengkorak hasil kayau di Lebak Kapae.

Penting untuk melihat ini dalam konteks sejarah, bukan sebagai praktik yang berlanjut dalam bentuk kekerasan. Ia adalah bagian dari warisan budaya yang kini lebih dimaknai secara simbolik.

Interaksi dengan sub-suku lain juga membentuk dinamika sosial  Ketungau Tesaek. Mereka berbatasan dengan berbagai kelompok: Benawas, Senganan, Jangkang, Mualang, Kerabat, hingga Pompakng.

Pergaulan ini melahirkan pertukaran budaya. Bahasa saling memengaruhi. Adat bernegosiasi. Identitas berkembang.

Dalam konteks kekinian, komunitas ini juga memiliki organisasi yang berperan dalam memperkuat kohesi sosial. Salah satunya adalah Perkumpulan Ayoung Tao, yang dipimpin oleh Paulus Subarno.

Peran tokoh seperti Paulus Subarno penting. Ia bukan hanya memimpin secara organisatoris, tetapi juga menjadi pengikat: merekatkan kembali ingatan kolektif, membangun kesadaran bersama, serta mendorong partisipasi dalam pembangunan yang lebih luas.

Ketungau Tesaek hari ini bukan lagi komunitas yang hidup dalam isolasi. Mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia. Mereka terlibat dalam berbagai sektor: pendidikan, ekonomi, politik, dan budaya.

Di tengah semua itu, mereka tetap membawa identitasnya. Identitas yang lahir dari perjalanan. Dari “tesaek jalae ne”.

Ketungau Tesaek contoh komunitas membangun dirinya

Ketungau Tesaek adalah contoh bagaimana sebuah komunitas membangun dirinya dari perjalanan, dari peristiwa, dari pengalaman kolektif yang diwariskan.

Mereka menunjukkan bahwa identitas bukan sesuatu yang statis. Ia bergerak. Ia dibentuk oleh migrasi, oleh interaksi, oleh pilihan-pilihan yang diambil dalam situasi tertentu.

Di Kabupaten Sekadau, mereka menjadi salah satu etnis yang dominan. Bukan hanya karena jumlah, tetapi karena kontribusinya dalam membentuk wajah sosial-budaya daerah tersebut.

Menulis tentang  Ketungau Tesaek berarti menulis tentang manusia: tentang keberanian untuk melanjutkan perjalanan ketika arah tidak lagi jelas. Tentang kemampuan untuk membangun rumah di tempat yang sebelumnya asing. Tentang kesediaan untuk menjadi bagian dari yang lebih besar, tanpa kehilangan jati diri.

Menulis tentang  Ketungau Tesaek adalah menulis tentang manusia yang terus berjalan. Tentang keberanian tinggal di yang asing. Tentang kesediaan menjadi bagian dari yang lebih besar tanpa lenyap.

0 Comments

Type above and press Enter to search.