Penerbit dan Percetakan Dayak Masa ke Masa (1) : 4 Besar dengan Puluhan hingga Ratusan ISBN
| Beberapa produk publikasi Penerbit dan Percetakan Dayak. Ist. |
Serial tulisan ini lahir dari sebuah ikhtiar panjang, sebuah perjalanan riset yang tidak hanya menelusuri data, tetapi juga merawat makna. Fokusnya sederhana, namun mendasar: meneliti kiprah penerbit-penerbit Dayak yang telah terdaftar resmi di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, menelusuri jejak publikasi yang mereka hasilkan, serta membaca peran strategis mereka dalam menjaga keberlanjutan literasi Dayak.
Di tengah derasnya perubahan zaman, kehadiran mereka menjadi penanda bahwa ada kerja sunyi yang terus berlangsung, memastikan bahwa pengetahuan lokal tidak hilang ditelan arus globalisasi.
Serial ini berupaya memotret denyut kehidupan di baliknya: semangat, tantangan, dan visi yang menggerakkan para pelaku literasi tersebut. Dari proses penerbitan, distribusi, hingga kontribusi nyata dalam membangun ekosistem pengetahuan, semuanya dirangkai sebagai bagian dari narasi besar tentang perjuangan merawat ingatan kolektif.
Diniatkan tulisan ini tidak hanya menyajikan hasil riset, tetapi juga mengajak pembaca memahami bahwa setiap buku yang terbit adalah jejak peradaban, dan setiap penerbit adalah penjaga sunyi warisan Borneo.
Selamat mengikuti!
Empat penerbit Dayak: dari tacit ke explicit knowledge
Mari kita mulai dari akarnya.
Jauh sebelum dikenal International Standard Book Number (ISBN). Sebelum sistem katalog modern diperkenalkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sastra Dayak telah hidup dalam ruang-ruang komunal. Ruang yang oleh Habermas disebut "public sphere".
Di rumah panjang, suku bangsa Dayak tidak sekadar hidup; mereka menenun makna. Di sanalah pengetahuan tidak ditulis, tetapi dihidupi. Ia mengalir dari percakapan ke percakapan, dari ritus ke ritus, dari kerja ladang ke nyanyian malam.
Pengetahuan itu berdenyut dalam ingatan kolektif, hadir dalam gestur, dalam diam, dalam cara seseorang membaca musim, menakar tanah, atau memahami tanda-tanda alam. Tidak ada buku, tetapi setiap dinding adalah arsip; tidak ada perpustakaan, tetapi setiap orang adalah halaman yang hidup.
Apa yang oleh dunia modern disebut sebagai “tacit knowledge” sesungguhnya bukanlah kekurangan, melainkan bentuk lain dari kepenuhan. Ia tidak membutuhkan aksara untuk sah. Ia tumbuh dari pengalaman yang berulang, dari relasi yang intim dengan alam, dari kesadaran bahwa hidup tidak bisa dipisahkan dari tanah, hutan, dan leluhur. Pengetahuan semacam ini tidak diajarkan secara formal, melainkan diwariskan melalui keterlibatan: ikut menugal, ikut menari, ikut berduka, ikut merayakan. Di situlah epistemologi Dayak berdiri, bukan sebagai teori, tetapi sebagai laku.
Memang benar, dari perspektif modern, ketiadaan tradisi tulis-baca sering dilihat sebagai keterbatasan. Namun, pandangan itu kerap lupa bahwa tidak semua yang penting harus dituliskan. Ada pengetahuan yang justru kehilangan daya hidupnya ketika dipindahkan ke teks. Pada masyarakat Dayak, pengetahuan tetap cair, terbuka, dan kontekstual. Ia tidak membeku menjadi doktrin, tetapi terus beradaptasi dalam dinamika kehidupan. Inilah yang kini oleh banyak kalangan disebut sebagai “community knowledge”, yakni pengetahuan yang tidak dimiliki individu, melainkan dimiliki bersama, dijaga bersama, dan diuji bersama.
Rumah panjang, dalam hal ini, adalah universitas tanpa gelar. Ia adalah ruang pedagogi yang melampaui batas-batas formal. Di sana, anak-anak belajar bukan dengan duduk diam, tetapi dengan menyerap kehidupan. Orang tua bukan sekadar pengajar, melainkan penjaga ingatan. Setiap peristiwa adalah kurikulum, setiap konflik adalah refleksi, setiap ritus adalah metode pembelajaran. Maka, ketika kita berbicara tentang literasi, barangkali kita perlu memperluas maknanya: bahwa membaca tidak selalu berarti mengeja huruf, dan menulis tidak selalu berarti menggoreskan tinta.
Kini ketika dunia mulai menyadari pentingnya mengarsipkan dan mengekspresikan pengetahuan lokal ke dalam bentuk tulisan, tantangan besar muncul: bagaimana mentransformasikan yang tacit menjadi explicit tanpa kehilangan ruhnya? Bagaimana menjadikan pengalaman menjadi teks tanpa mereduksi kedalaman maknanya? Di sinilah pekerjaan intelektual dimulai; bukan sekadar menyalin, tetapi menerjemahkan; bukan sekadar mencatat, tetapi merawat.
Pengetahuan Dayak bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah cara pandang terhadap dunia, sebuah filsafat hidup yang menempatkan manusia sebagai bagian dari keseluruhan, bukan penguasa atasnya. Dan di rumah panjang itu, jauh sebelum buku-buku ditulis, kebijaksanaan telah lebih dahulu menemukan rumahnya.
Pantun Iban dilantunkan dengan irama yang mengikat ingatan. Karungut Ngaju mengalir dengan kebijaksanaan yang lahir dari relasi manusia dengan alam. Beligo Dayak Bidayuh mengalunkan kidung abadi sepanjang waktu.
Kisah tentang Kudungga di Muara Kaman hadir bukan sekadar cerita, melainkan penanda bahwa peradaban Dayak telah mengenal simbol, makna, dan jejak sejarah sejak masa awal Nusantara.
Tradisi lisan ini bukan hiburan semata. Ia adalah arsip hidup. Di dalamnya tersimpan pengetahuan tentang hutan, sungai, roh, dan tata hubungan antarmanusia. Inilah fondasi yang membuat literasi Dayak memiliki akar yang dalam, jauh sebelum tinta menyentuh kertas.
Dayak menulis dari dalam
Kolonialisme datang dengan cara pandangnya sendiri. Orang Dayak dilabeli sebagai “headhunter” atau “pengayau”. Sebuah penyederhanaan yang menyesatkan. Ngayau dipahami secara dangkal sebagai kekerasan, padahal ia memiliki dimensi sosial, simbolik, dan spiritual yang kompleks.
Sejarah mencatat bahwa praktik tersebut tidak dibiarkan berlangsung tanpa kendali. Pengayauan dihentikan melalui kesepakatan bersama dalam Perjanjian Tumbang Anoi 1894. Peristiwa ini menunjukkan bahwa masyarakat Dayak memiliki kesadaran kolektif, kemampuan bermusyawarah, dan etika sosial yang kuat.
Kini stigma lama mulai memudar. Namun tantangan baru muncul. Bahasa daerah mulai ditinggalkan. Folklor kehilangan ruang hidup. Filsafat lokal terdesak oleh arus cepat modernitas dan media sosial. Ancaman hari ini bukan lagi pelabelan, melainkan pelupaan.
Empat Pilar Penerbit sebagai Penjaga Ingatan
Di tengah situasi itu, hadir empat penerbit Dayak yang terdaftar resmi di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Bukan sekadar penerbit. Keempat lemaga adalah penjaga ingatan kolektif komunitas Dayak.
- CV Lembaga Literasi Dayak di Jakarta, didirikan Masri Sareb Putra dan Herkulana Mekaryani. Penerbit yang bermitra dengan Percetakan PT Gramedia ini membuka ruang bagi penulis Dayak di perantauan untuk tetap terhubung dengan akar budaya.
- Penerbit dan Percetakan SANDU di Pontianak di bawah kepemimpinan Edi V. Petebang, yang kuat dalam percetakan serta dokumentasi spiritualitas Dayak.
- Penerbit Putra Pabayo Perkasa di Pontianak yang dipimpin Pitalis Mawardi Baging, berfokus pada pengembangan bahan ajar dan integrasi kearifan lokal dalam pendidikan.
- PT Sinar Bagawan Khatulistiwa di Palangka Raya yang dipimpin Damianus Siyok, berperan penting dalam pelestarian bahasa dan folklor Dayak Ngaju.
Keempatnya telah aktif sejak kurun 2011 hingga 2015 dan tetap konsisten hingga 2026. Mereka membangun ekosistem literasi yang saling melengkapi. Dari pusat hingga daerah, dari penulis perantau hingga komunitas lokal, semuanya terhubung dalam satu napas yang sama.
Literasi sebagai Jalan Melawan Lupa
Bagi saya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Ia adalah proses memahami, menafsirkan, dan membangun makna dari warisan leluhur. Buku menjadi medium yang menjaga gagasan tetap hidup.
Sejak saya mulai menulis pada 1984, dari feature jurnalistik hingga novel sejarah seperti Ngayau, Keling Kumang, Dayak Djongkang, Filsafat Dayak, hingga The History of Dayak saya melihat bahwa tulisan adalah cara untuk melawan hilangnya ingatan. Pendirian Lembaga Literasi Dayak pada 2015 menjadi wujud nyata keyakinan tersebut.
Memang, tantangan tidak kecil. Distribusi buku ke luar Borneo masih terbatas. Biaya produksi meningkat. Dukungan terhadap penerbit etnis belum memadai. Namun keempat penerbit ini tetap berdiri dengan semangat gotong royong.
Buku-buku mereka kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan berbagai perpustakaan daerah. Serah-simpan karya cetak itu menjadi benteng analog di tengah dunia digital yang bergerak cepat. Di Perpustakaan Nasional RI, arsip ingatan kolektif tidak hanya disimpan, tetapi juga diwariskan.
Saya selalu kembali pada kenangan di Jangkang. Di sekitar api unggun, leluhur menyampaikan cerita yang sarat makna. Ketika mulai menulis, saya hanya mengganti medium. Dari suara menjadi teks. Dari ingatan menjadi buku.
Melalui kerja sunyi para penerbit Dayak ini. Denyut nadi Borneo tetap hidup. Bergema dari masa lalu. Hadir di masa kini. Berjalan mantap menatap masa depan.
(Bersambung)
0 Comments