Penerbit dan Percetakan Dayak: Napas Peradaban Borneo Tetap Hidup dan Terindeks Dunia

Penerbit dan Percetakan Dayak
Serba-Dayak. Hari ini, Dayak punya 4 badan penerbit resmi skala nasional. Ist.

Empat pilar penerbit Dayak lahir dari kesadaran yang sama, yaitu menghadirkan ruang bagi yang selama ini kerap terpinggirkan. 

Penerbit itua bukan hanya perusahaan penerbitan, melainkan rumah bagi gagasan, ingatan, dan jati diri orang Dayak. 

Dalam lanskap literasi Indonesia yang cenderung terpusat, kehadiran mereka menjadi penting, bukan hanya untuk Dayak, tetapi juga bagi keberagaman Indonesia.

LLD: Pintu Masuk Penulis Dayak di Perantauan

LLD, yang saya bantu dirikan pada 2015, menjadi pintu masuk bagi penulis Dayak yang hidup di perantauan. Banyak tokoh adat, pastor, dosen, sastrawan, pendeta, hingga akademisi yang kini berada di Jakarta dan kota besar lain menemukan ruang untuk menyuarakan gagasan tanpa harus kembali ke Pontianak atau Palangka Raya.

Pendampingan di LLD dilakukan secara personal. Dari naskah mentah hingga menjadi buku ber-ISBN, seluruh proses dijalankan dengan keberpihakan. Prinsip yang selalu saya tekankan sederhana namun mendasar. Buku bukan sekadar produk, melainkan warisan.

SANDU, Putra Pabayo, dan SBK: Menjaga Jiwa, Generasi, dan Bahasa

Di Pontianak, SANDU hadir dengan kekuatan percetakan yang lengkap. Penerbit ini menjadi rumah bagi dokumentasi spiritualitas Dayak. Buku seperti *Dayak Mencari Sebayan Tujuh Saruga Dalam* menggali filosofi tentang roh dan kehidupan setelah mati, sesuatu yang sebelumnya hidup dalam tradisi lisan.

Dipimpin oleh Edi V. Petebang, SANDU tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga mencatat kearifan lokal, termasuk gerakan credit union dan perjuangan tokoh adat.

Sementara itu, Putra Pabayo Perkasa, di bawah kepemimpinan Pitalis Mawardi Baging, membawa literasi ke sekolah-sekolah. Mereka menyusun modul pendidikan yang mengintegrasikan nilai gotong royong dan tradisi seperti Naik Dango, sehingga generasi muda tidak tercerabut dari akar budaya.

Di Palangka Raya, SBK mengambil peran strategis dalam menjaga bahasa. Melalui kamus Dayak Ngaju dan karya etnografi Damianus Siyok, bahasa dipertahankan sebagai jiwa bangsa. Tanpa bahasa, identitas akan kehilangan pijakan.

Harmoni Empat Pilar dalam Ekosistem Literasi Dayak

Keempat pilar ini bekerja dalam harmoni yang mencerminkan filosofi Dayak, yaitu manusia, alam, dan roh sebagai satu kesatuan. LLD membuka akses keluar, SANDU merekam dimensi spiritual, Putra Pabayo membangun generasi, dan SBK menjaga akar bahasa.

Jika keempatnya hadir dalam satu festival, kita akan melihat kampung literasi Dayak yang hidup. Pantun Iban dilantunkan, kamus Ngaju dibuka, modul pendidikan dibagikan, dan kisah sebayan diceritakan kembali. Inilah ekosistem literasi yang utuh.

Tantangan Penerbit Dayak di Era Digital

Tantangan utama yang dihadapi tidak ringan. Distribusi buku ke luar Borneo masih terbatas akibat tingginya biaya logistik. Biaya cetak terus meningkat, sementara dukungan pemerintah bagi penerbit berbasis etnis masih minim.

Namun, semangat gotong royong menjadi kekuatan utama. Mereka saling mendukung, berbagi pengalaman pengurusan ISBN, merujuk penulis, hingga mengadakan kegiatan literasi bersama. Inilah yang menjadikan mereka bukan sekadar penerbit, melainkan komunitas yang hidup.

Dari Tradisi Lisan ke Buku Ber-ISBN

Saya lahir dalam tradisi ketika cerita lisan menjadi perpustakaan utama. Kisah tentang Kudungga, pantun harmoni alam, hingga cerita tentang roh sebayan dituturkan setiap malam oleh orang tua.

Sejak memasuki dunia tulis-menulis pada 1984, saya menyadari pentingnya menjembatani tradisi lisan dan tulisan. Artikel feature di media nasional, novel sejarah, hingga pendirian LLD adalah bagian dari upaya itu, yaitu mengabadikan warisan dalam bentuk buku ber-ISBN.

Literasi Dayak sebagai Peristiwa Pemahaman

Dalam perspektif hermeneutik, literasi Dayak bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis. Ia adalah peristiwa pemahaman. Buku bukan benda mati, melainkan teks hidup yang berbicara kepada pembacanya.

Ketika seseorang membaca *Pantun Iban: Jejak Warisan dan Nilai Hidup*, ia tidak hanya membaca kata-kata, tetapi juga menghayati nilai yang diwariskan. Demikian pula buku tentang sebayan mengajak pembaca memahami kematian sebagai kelanjutan harmoni, bukan akhir.

Keunikan Dibanding Penerbit Nasional

Berbeda dengan banyak penerbit besar di Jakarta yang fokus pada pasar komersial, empat pilar ini memilih jalan sunyi. Mereka mengkhususkan diri pada budaya Dayak dengan segala kekayaannya. Mereka tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga mendidik, mendokumentasikan, dan melestarikan.

Ini adalah bentuk perlawanan kultural terhadap homogenisasi di era globalisasi.

Peluang Besar di Era Digital

Di balik tantangan, terbuka peluang besar. Generasi muda Dayak kini semakin sadar akan identitas mereka. Dengan dukungan media sosial dan platform digital, jangkauan buku-buku Dayak dapat melampaui batas geografis.

Keempat pilar ini telah mulai memanfaatkan situs web, Facebook, dan WhatsApp untuk memperluas distribusi dan promosi.

Napas Peradaban Tidak Boleh Padam

Literasi Dayak adalah investasi bagi Indonesia yang berbhineka. Negeri ini bukan hanya kumpulan pulau, tetapi juga kumpulan cerita. Jika kisah Dayak hilang, maka hilang pula sebagian jati diri bangsa.

Empat pilar penerbit Dayak adalah penjaga napas itu. Mereka berdiri teguh di tengah arus modernisasi, memastikan napas peradaban Borneo terus mengalir melalui tinta dan kertas.

Setiap buku yang mereka terbitkan adalah undangan. Bacalah, resapi, dan lanjutkan. Kirimkan naskah Anda ke LLD, SANDU, Putra Pabayo Perkasa, atau SBK. Di sana, gagasan Anda akan dirawat dengan profesional dan penuh keberpihakan.
Penulis: Apen Panlelugen

0 Comments

Type above and press Enter to search.