Pesona Keling Kumang Agro, Bukit Kelam, Sintang
| Apakah Anda sudah berdarmawisata dan menikmati Pesona Keling Kumang Agro, Bukit Kelam, Sintang?Dokpri. |
Pesona Keling Kumang Agro di kaki Bukit Kelam menghadirkan perjumpaan yang hangat antara alam, budaya, dan semangat kemandirian masyarakat Dayak. Di sini, lanskap batu raksasa yang ikonik berpadu dengan kebun produktif dan kearifan lokal, menjadikannya ruang belajar sekaligus destinasi yang menggugah rasa.
Jalan santai. Tarik napas panjang. Biarkan mata bekerja lebih dulu, lalu hati menyusul pelan-pelan.
Di hadapan kita, hamparan Bukit Kelam berdiri seperti saksi tua yang tak banyak bicara, tetapi menyimpan kisah berjuta tahun. Di kakinya, Keling Kumang Agrowisata menggelar ruang hidup yang tidak sekadar indah, melainkan menjanjikan.
Sebuah iklan sederhana berseliweran di beranda Facebook:
buka pukul 09.00 hingga 18.00 WIB.
Singkat. Padat. Namun di balik itu, tersimpan satu pertanyaan besar: apakah kita sedang menyaksikan lahirnya masa depan pariwisata Borneo?
Jawabannya terasa jelas. Di sinilah ladang emas itu. Bukan emas yang digali dari perut bumi, melainkan dari cara pandang. Dari keberanian mengolah alam tanpa merusaknya. Dari kecerdasan memadukan ekonomi kreatif dengan warna lokal yang hidup dan berdenyut.
Monolit, Mitos, dan Daya Tarik Manusia
Lihatlah Bukit Kelam itu. Bayangkan tangan menyentuh permukaannya yang keras dan purba. Monolit. Satu batu raksasa.
Dalam bahasa Yunani: monos lithos. Di Borneo, nyaris tak ada duanya. Orang tua-tua dulu bertutur: itu serpihan langit, meteorit yang jatuh berjuta tahun silam. Entah mitos atau sains, keduanya bertemu dalam rasa takjub.
Manusia pun datang. Dari Pontianak, Sanggau, Landak, Sekadau. Bahkan dari luar pulau. Mereka tidak sekadar berwisata, tetapi berdarma wisata. Sebagian datang untuk ziarek, mencari sunyi di kaki bukit yang menyediakan ruang rohani. Alam dan jiwa bertemu di satu titik yang sama.
Agrowisata dan Ekosistem Keling Kumang
Di sinilah Gerakan Credit Union Keling Kumang membaca tanda zaman. Mereka tidak berhenti sebagai lembaga keuangan. Mereka bergerak, mengembangkan entitas, membangun ekosistem.
Empat hektar tanah di kaki bukit itu bukan sekadar lahan. Ia adalah laboratorium hidup. Agrowisata, dari kata ager, tanah dan kehidupan. Di situ tumbuh bukan hanya tanaman, tetapi juga harapan. Pengunjung menikmati lanskap khas Borneo, mencicip kuliner lokal, dan tanpa sadar belajar membaca relasi manusia dengan alam.
Tak jauh dari situ, berdiri Rumah Panjang Ensaid Panjang. Rumah betang yang makin langka. Di sanalah identitas Dayak Iban tetap bernapas. Agrowisata ini tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan kebudayaan. Pariwisata, pada akhirnya, adalah narasi yang hidup.
Pendidikan, Pariwisata, dan Masa Depan Borneo
Keterhubungan itu makin nyata melalui Institut Teknologi Keling Kumang. Kampus ini menjejak tanah. Program Studi Agroekoteknologi tidak berhenti pada teori, tetapi belajar langsung dari alam.
Di tengah berkembangnya sektor perkebunan, pangan, hortikultura, dan kehutanan, lulusan tidak lagi sekadar pencari kerja. Mereka menjadi pencipta peluang. Mengelola usaha, masuk industri, hingga berkiprah dalam riset dan pemerintahan.
Ke depan, rencana membuka Program Studi Pariwisata bukan semata-mata imbuhan. Ini adalah pembacaan arah zaman. Pariwisata sebagai bagian dari ekonomi kreatif masih belum digarap sepenuhnya di Kalimantan Barat, padahal potensinya luar biasa.
Ketika program itu hadir, ia tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari tanah yang sudah disiapkan: dari agrowisata, dari rumah panjang, dari Bukit Kelam, dari denyut masyarakatnya sendiri.
Datanglah. Lihat. Rasakan.
Seolah di sini, ada sejengkal tanah yang jatuh dari Taman Eden.
Penulis: Apen Panlelugen
0 Comments