Sawit untuk Negeri dan Dunia sebagai Diplomasi Ekonomi dan Jalan Peradaban

Gambar: Zoom meeting saat Kick off Meeting
Zoom meeting saat Kick off Meeting. Istimewa.

Pohon sawit hari ini tidak berhenti sebagai tanaman biasa. Di hamparan tropika yang luas, dari Sumatra hingga Borneo, berdiri tegak barisan pohon sawit. 

Pohon sawit menjelma menjadi narasi. Pohon sawit hadir sebagai politik. Pohon sawit menandai arah masa depan. 

Dari sanalah Indonesia berbicara kepada dunia, bukan dengan senjata, melainkan melalui komoditas yang berubah menjadi kekuatan diplomasi.

Dalam buku Diplomasi Ekonomi karya A.B. Susanto membuka satu ruang penting bahwa ekonomi tidak lagi berdiri sendiri. Ekonomi berkelindan dengan pertahanan, ketahanan sumber daya alam, bahkan kedaulatan bangsa.

Pada salah satu bagian buku tersebut, diplomasi sawit tampil sebagai arena kontestasi global. Arena tersebut menuntut Indonesia tidak lagi sekadar menjawab tuduhan, tetapi tampil sebagai penulis utama atas ceritanya sendiri.

Diplomasi Ekonomi dari Meja Perundingan ke Akar Sawit

Diplomasi ekonomi hari ini tidak lagi berada di ruang perundingan semata. Diplomasi ekonomi telah turun ke tanah, ke kebun, ke tangan petani. 

Dalam konteks sawit, diplomasi menjadi sangat konkret, yaitu bagaimana Indonesia mempertahankan posisi sebagai produsen utama dunia sekaligus menjawab berbagai tekanan global.

Sawit telah menjelma menjadi instrumen geopolitik. Sawit menjadi pilar strategis diplomasi ekonomi Indonesia. Dalam praktiknya, diplomasi sawit berlangsung melalui berbagai jalur seperti bilateral, multilateral, dan diplomasi publik. Semua jalur tersebut diarahkan pada satu tujuan, yaitu menjaga kepentingan nasional.

Toh demikian, tantangan terbesar bukan pada produksi, melainkan pada persepsi. Dunia sering melihat sawit dengan satu sudut pandang saja, yaitu deforestasi. Padahal, realitas sawit jauh lebih kompleks. Pada titik inilah diplomasi bekerja, yaitu membangun narasi berbasis data, pengalaman, dan kenyataan di lapangan.

Sawit untuk Negeri: Elaborasi Gagasan Petrus Gunarso dan A.B. Susanto

Dalam buku Sawit untuk Negeri, gagasan tersebut diperdalam. Petrus Gunarso dan A.B. Susanto menegaskan satu hal penting bahwa sawit merupakan fondasi pembangunan nasional.

Tutupan luasan sawit di Kalimantan Barat
Pemandangan tutupan sawit di Kalbar, salah satu provinsi dengan luasan tutupan sawit terluas negeri ini. Dokpri.

Sawit menyentuh desa, membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, dan menghadirkan devisa. Sawit menjadi denyut kehidupan jutaan rakyat. Dari petani kecil hingga pelaku industri, sawit tampil sebagai penggerak yang nyata.

Sawit  berfungsi sebagai jembatan antara pusat dan pinggiran. Sawit menghubungkan Jakarta dengan daerah seperti Sintang, Sekadau, dan wilayah lain di BorneoSawit  menjembatani kebijakan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam perspektif tersebut, sawit untuk negeri bukan sekadar slogan. 

Sawit untuk negeri merupakan strategi. Strategi tersebut menjadi cara bangsa Indonesia berdiri di atas kaki sendiri, yaitu berdaulat secara ekonomi, mandiri dalam energi, dan kuat dalam pangan.

Sawit untuk Dunia dan Lingkungan

Narasi sawit tidak berhenti di dalam negeri. SawitIndonesia juga berbicara kepada dunia.

Dalam berbagai forum internasional, sawit diposisikan sebagai bagian dari solusi global, bukan semata-mata masalah. Sawit menjadi sumber energi terbarukan, bahan pangan, sekaligus komoditas strategis.

Namun, dunia menuntut lebih, yaitu keberlanjutan.

Pada titik ini, literasi menjadi kunci. Literasi sawit  harus melampaui angka produksi dan ekspor. Literasi sawit  harus masuk ke isu lingkungan, keberlanjutan, dan tanggung jawab ekologis. Indonesia tidak cukup menyatakan kebenaran, tetapi Indonesia harus membuktikan melalui praktik nyata seperti sertifikasi, transparansi, dan tata kelola yang baik.

Diplomasi sawit modern tidak hanya berkaitan dengan penjualan produk, tetapi juga berkaitan dengan penyampaian nilai. Nilai yang dimaksud adalah bahwa sawit Indonesia dikelola dengan tanggung jawab terhadap manusia dan alam.

Tanpa narasi yang kuat, fakta sering kalah oleh persepsi. Oleh sebab itu, memperluas literasi sawit menjadi tugas bersama yang melibatkan negara, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat.

Diplomasi yang Melek Sawit 

Pada bagian ini, peran atase menjadi sangat strategis.

Atase perdagangan, atase pertanian, dan para diplomat tidak berhenti sebagai representasi formal negara. Para atase tersebut menjadi penyampai narasi. Para atase tersebut menjadi juru bicara sawit Indonesia di panggung global.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah para atase telah memiliki literasi yang memadai tentang sawit .

Pelatihan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Pelatihan tidak hanya berkaitan dengan data, tetapi juga berkaitan dengan konteks. Konteks tersebut meliputi sejarah sawit, kontribusi sawit bagi masyarakat, tantangan global, hingga isu lingkungan.

Tanpa pemahaman tersebut, diplomasi akan menjadi kering. Diplomasi hanya berisi angka tanpa makna.

Padahal, dunia tidak hanya mendengar data. Dunia mendengar cerita.

Cerita tentang sawit Indonesia adalah cerita tentang petani kecil, tentang desa yang bangkit, dan tentang bangsa yang berjuang menjaga martabat di tengah tekanan global.

Dari Sawit ke Peradaban

Pada waktunya nanti akan muncul satu kesadaran bahwa sawit  bukan hanya komoditas. Sawit merupakan jalan menuju peradaban. Sawit mengajarkan bahwa kekuatan bangsa tidak selalu datang dari teknologi tinggi atau kekuatan militer. Kekuatan bangsa dapat tumbuh dari tanah, dari akar yang sederhana, tetapi menjangkau dunia.

Diplomasi ekonomi dalam konteks ini tidak hanya strategi. Diplomasi ekonomi merupakan cara berpikir. Cara berpikir tersebut melihat bahwa setiap sumber daya yang dimiliki bangsa merupakan alat untuk membangun masa depan.

Sawit dalam konteks Indonesia menjadi salah satu alat paling kuat yang dimiliki bangsa ini.

Ketika membicarakan sawit untuk negeri, pembahasan tersebut menyentuh identitas, keberanian, dan posisi Indonesia di hadapan dunia sebagai subjek.

Ketika melangkah menuju sawit untuk dunia, langkah tersebut menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya hadir untuk kepentingan dalam negeri, tetapi juga hadir untuk memberi kontribusi global.

  1. Sawit menemukan makna terdalam sebagai sesuatu yang melampaui komoditas, yaitu sebagai peradaban.
  2. Indonesia mewakili 59% produksi global sektor kelapa  sawit, yang menopang mata pencaharian hingga 8 juta orang. Khususnya, petani kecil mengelola lebih dari 40% total lahan perkebunan nasional.
  3. Terasa adanya kemendesakan kebutuhan yang semakin mendesak untuk menyelaraskan tujuan ekonomi dengan tuntutan komitmen iklim, yang selanjutnya menekankan perlunya kepiawaian dalam negosiasi internasional.

Peralihan ini menuntut pengembangan kapasitas yang kuat bagi para negosiator perdagangan, atase, dan praktisi terkait agar dapat memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai dinamika komoditas global.

Berperan sebagai pelaksana, CWTS UGM menyediakan desain strategis danpen gelolaan operasional untuk seluruh kegiatan pengembangan kapasitas, termasuk penyusunan modul pelatihan.

Penulis: Rangkaya Bada

0 Comments

Type above and press Enter to search.