Dayak-Melayu dalam Satu Darah Daging Buku
Buku yang ditulis bersama-sama oleh pakar, peneliti, dan para penulis top Dayak-Senganan (Melayu) Kalimantan Barat ini merekonstruksi sejarah yang ditulis koloniaal. Ist.
Ulasan buku topik menarik dan masih sangat langka di gernrenya, yakni Dayak–Melayu: Satu darah, dua dunia. Pustaka yang menyingkap relasi historis, budaya, dan identitas Dayak–Melayu di Borneo secara mendalam.
Buku yang ditulis bersama-sama oleh pakar, peneliti, dan para penulis top Dayak-Senganan (Melayu) Kalimantan Barat ini merekonstruksi sejarah yang ditulis koloniaal. Menegaskan sejarah dan ikatan persaudaraan kedua penghuni asli Borneo, yang dalam frasa setempat ditambsilkan sebagai "Daratan dan Lautan", menyimbolkan satu-kesatuan tidak terpisahkan.
Menutup tirai lama, membuka cara pandang baru
Buku ini tidak hadir sebagai pelengkap wacana yang sudah ada. Ia datang sebagai koreksi yang serius terhadap cara pandang lama yang selama ini menempatkan Dayak dan Melayu dalam posisi yang terpisah. Bahkan sering kali dipertentangkan. Para penulis menghadirkan argumen yang tidak dibangun di atas asumsi. Melainkan pada jejak sejarah. Pada ingatan kolektif.
Pada pengalaman panjang yang hidup dalam masyarakat. Di sini tampak jelas bahwa pemisahan identitas yang selama ini diyakini ternyata merupakan konstruksi yang dibentuk oleh kolonialisme dan diperkuat oleh politik identitas modern.
Buku ini membuka tirai itu perlahan. Menunjukkan bahwa yang tampak berbeda hari ini sesungguhnya berasal dari sumber yang sama. Dengan pendekatan yang tenang tetapi tajam, buku ini mengajak pembaca untuk meninjau ulang pemahaman yang sudah mapan. Tidak dengan emosi. Tetapi dengan data dan refleksi yang matang. Inilah kekuatan utamanya.
Jejak genealogi, bahasa, dan budaya yang bertaut
Penelusuran dalam buku ini bergerak dari akar. Dari asal-usul yang sering dianggap kabur. Namun justru di situlah fondasi identitas dibangun. Genealogi menjadi pintu masuk penting untuk melihat hubungan darah yang tidak terputus antara Dayak dan Melayu. Perpindahan manusia. Perkawinan. Interaksi sosial. Semua meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Bahasa kemudian menjadi bukti yang hidup. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi. Tetapi juga sebagai arsip sejarah yang menyimpan kedekatan. Struktur bahasa. Kosakata. Cara bertutur. Semua itu menunjukkan adanya hubungan yang erat. Budaya memperkuat semuanya. Dalam ritus. Dalam adat. Dalam praktik kehidupan sehari-hari. Tampak bahwa perjumpaan telah berlangsung lama dan terus berlanjut.
Asimilasi dalam buku ini tidak dipahami sebagai kehilangan identitas. Tetapi sebagai proses transformasi yang memperkaya. Dayak dan Melayu tidak saling meniadakan. Mereka saling membentuk. Dari situlah lahir identitas yang dinamis. Yang hidup. Yang terus berkembang mengikuti zaman.
Ruang perjumpaan, harmoni yang dikelola
Bagian ini membawa pembaca pada realitas sehari-hari. Pada ruang-ruang di mana interaksi terjadi secara nyata. Dayak dan Melayu hidup dalam perjumpaan yang terus-menerus. Di pasar. Di kampung. Di sepanjang sungai. Dalam berbagai aktivitas sosial. Identitas tidak dipertahankan secara kaku. Tetapi dinegosiasikan secara dinamis. Harmoni yang terbangun bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya.
Maka identitas suatu kaum adalah hasil dari proses panjang. Dari kemampuan untuk mengelola perbedaan. Buku ini tidak menutupi adanya gesekan. Namun justru di situlah terlihat kedewasaan budaya. Adat menjadi penyangga utama. Nilai-nilai seperti gotong royong. Belarasa. Dan penghormatan terhadap alam menjadi dasar kehidupan bersama.
Dalam konteks modern, tantangan memang semakin kompleks. Tekanan ekonomi. Politik identitas. Perubahan sosial. Semua memengaruhi relasi yang ada. Namun, buku ini menunjukkan bahwa selama nilai dasar itu tetap dijaga. Harmoni tetap memiliki ruang untuk bertumbuh.
Masa depan bersama, akar yang menjadi kekuatan
Pada bagian akhir. buku ini bergerak ke arah refleksi masa depan. Pertanyaan yang muncul bukan lagi tentang siapa yang berbeda. Tetapi bagaimana membangun kehidupan bersama ke depan.
Jawaban yang ditawarkan sangat jelas. Masa depan harus bertumpu pada akar yang sama. Kesadaran bahwa Dayak dan Melayu berasal dari satu sumber menjadi kunci. Dalam situasi dunia yang semakin terpolarisasi. buku ini memberikan perspektif yang menyejukkan. Ia mengajak pembaca untuk tidak terjebak dalam batas-batas identitas yang sempit.
Di samping itu, perhatian terhadap ekologi menjadi poin penting. Alam bukan hanya menjadi latar kehidupan. Tetapi bagian dari identitas itu sendiri. Kerusakan lingkungan berarti ancaman bagi keberlanjutan budaya. Oleh karena itu, menjaga alam menjadi tanggung jawab bersama. Buku ini pada pada galibnya tidak hanya berbicara tentang relasi etnis. Tetapi tentang peradaban. Tentang bagaimana manusia hidup berdampingan secara bermartabat.
Buku yang menyimpan memori kolektif
Buku yang diterbitkan kerja sama Penerbit Lembaga Literasi Dayak (LLD) dan Pustaka Melayu Gemilang yang dicetak PT Gramedia Jakarta ini merupakan karya kolektif yang memiliki bobot penting dalam kajian sejarah dan budaya di Borneo.
Kehadiran banyak penulis justru memperkaya sudut pandang yang ditawarkan. Buku ini tidak hanya merawat ingatan. Tetapi juga menegaskan persaudaraan yang sering terlupakan.
Di tengah dunia yang cenderung terfragmentasi. buku ini menjadi pengingat bahwa ada akar yang menyatukan. Dan akar itu perlu dijaga. Dirawat. Diteruskan kepada generasi berikutnya. Dengan pendekatan yang reflektif dan argumentatif.
Pustaka ini layak menjadi rujukan penting bagi siapa saja yang ingin memahami relasi Dayak dan Melayu secara lebih utuh.
Harga buku: rp 150.000. Order dapat ke WA +62 851-7304-5320
Penulis: Apen Panlelugen
0 Comments