Dr. Yansen TP : Gerakan Literasi sebagai Jalan Memajukan Dayak
Dr. Yansen TP serukan Gerakan Literasi sebagai jalan memajukan Dayak di Kongres Internasional Literasi Dayak Sekadau, 16 Mei 2026. Dari menjaga hutan hingga membangun generasi berjati diri kuat. Momentum bersejarah kebangkitan Dayak!
Sebagai keynote speaker pada Kongres Internasional Literasi Dayak, Dr. Yansen TP., M.Si menyampaikan sambutan yang penuh semangat, gairah elan vital yang visioner.
Dengan tema “Memajukan Dayak Melalui Gerakan Literasi”, ia mengajak seluruh peserta untuk bangkit, merajut ingatan kolektif, dan memperkuat jati diri melalui kekuatan literasi. Pidato ini menjadi pembuka kongres yang bersejarah di Sekadau, Kalimantan Barat.
1. Warisan Budaya dan Peradaban Dayak yang Mengalir dari Hutan Kalimantan
Dr. Yansen TP memulai sambutannya dengan mengajak hadirin memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia menegaskan bahwa berbicara tentang Dayak tidak bisa dilepaskan dari budaya. Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan napas kehidupan yang mengalir dari hutan, air, tanah, dan langit Kalimantan.
“Adat adalah hukum penuntun kehidupan. Budaya adalah penguat peradaban. Kearifan lokal adalah kekayaan penjaga keseimbangan. Hutan adalah harapan masa depan,” ujarnya. Bagi masyarakat Dayak, hutan bukan hanya ruang geografis, tetapi ruang filosofis tempat manusia belajar keseimbangan, kelestarian, dan batas rasa cukup.
Ia mengingatkan bahwa manusia Dayak memiliki kearifan untuk menjaga dan merawat hutan, bukan hanya memanfaatkannya. Warisan ini telah ada selama puluhan ribu tahun, sebagaimana dibuktikan oleh situs Gua Niah (Niah Caves) di Serawak, Malaysia, yang menjadi bukti aktivitas manusia Dayak sejak 40.000 tahun lalu.
2. Ancaman Deforestasi dan Marginalisasi Masyarakat Dayak
Dalam bagian yang paling menyentuh, Dr. Yansen TP menyajikan fakta sejarah dan lingkungan. Selama ribuan tahun hingga sekitar tahun 1950-an, hutan Kalimantan masih virgin dan lestari. Namun, dalam 75 tahun terakhir, industri kehutanan menyebabkan kerusakan ekosistem yang masif, sehingga budaya dan peradaban Dayak ikut memudar.
Ia menyoroti bukti satelit yang menunjukkan titik-titik hijau sporadis di Kalimantan. Titik-titik itu adalah hamparan hutan yang masih lestari di kawasan komunitas Dayak, yang dengan setia dijaga oleh masyarakat adat. “Manusia Dayak menjadikan hutan sebagai rumah, laboratorium, apotik hidup, kebun, dan lumbung kehidupan,” katanya.
Menurutnya, masyarakat lokal sering merasa tak berdaya menghadapi kebijakan penguasa dan oligarki yang tidak bijak. Pendatang yang tidak memahami esensi budaya Dayak hanya menikmati kenyamanan tanpa peduli derita penduduk asli. Fakta ini, tegas Yansen, tidak boleh dibiarkan terus-menerus.
3. Gerakan Literasi sebagai Jembatan Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan
Dr. Yansen TP menjadikan literasi sebagai solusi utama. Literasi bukan sekadar membaca dan menulis, melainkan kemampuan memahami, menghayati, dan memformulasikan nilai-nilai luhur menjadi model, gaya, dan warisan hidup.
Ia menekankan pentingnya transformasi nilai. Generasi Dayak harus mampu mengadopsi nilai modern tanpa kehilangan jati diri. “Think Globally, Act Locally” — berpikir secara global, tetapi bertindak secara lokal dengan mengelola potensi budaya dan kearifan lokal sendiri.
“Jika dulu nenek moyang kita membaca alam, maka kini kita membaca dunia tanpa kehilangan jati diri. Jika dahulu hutan menjadi buku, kini dunia menjadi buku dan panggung kita,” ungkapnya. Ia mendorong komitmen “Dayak menulis dari dalam” — menjadi penulis, penutur, dan penjaga peradaban melalui karya literasi.
4. Panggilan Bangkit dan Membangun Generasi Dayak yang Berdaya Saing
Yansen TP menyerukan kesadaran kolektif untuk bangkit. Gerakan Literasi harus menjadi gerakan bersama dari kampung ke kampung, rumah ke rumah, hati ke hati, melalui berbagai profesi. Ia mengajak membangun pusat-pusat literasi di komunitas Dayak dan mendorong generasi muda aktif berdiskusi, membaca, dan menulis dengan gaya dan cerita mereka sendiri.
“Kita tidak perlu pengakuan dari siapapun. Kita juga tidak perlu menunggu pertolongan. Bangkitlah dengan kesadaran, keberanian, kejujuran, dan keyakinan bahwa Dayak adalah Dayak,” tegasnya. Dayak merupakan bagian integral dari Bhinneka Tunggal Ika. Jika budaya Dayak hilang, maka ke-Indonesia-an pun akan pudar.
Ia mengingatkan generasi Baby Boomers, X, dan Milenial untuk membersihkan diri dari pengaruh negatif budaya luar, kekuasaan, dan materialisme, serta bertanggung jawab membangun masa depan.
5. Tekad Bersama: “Saya Ada untuk Dayak” Menuju Peradaban yang Abadi
Di penghujung sambutan, Dr. Yansen TP menyampaikan tujuh poin penting dan seruan moral. Peradaban Dayak harus dihidupkan, bukan hanya diingat. Ia mengajak peserta membudayakan nilai “Menerima dan Memberi” serta meneriakkan yel-yel:
Dayak … Bangkit!
Dayak … Cerdas!
Dayak … Maju!
Dayak … Hebat, Jaya, Luar Biasa!
Slogan-slogan yang dikumandangkan antara lain: “Saya ada untuk Dayak”, “Bersama kita pasti bisa”, “Kalau tidak sekarang, kapan lagi?”, dan “Kalau tidak saya, siapa lagi?”.
Yansen menutup dengan pesan filosofis: “Adat mengajar Kejujuran, Budaya menanam Kemuliaan, Kearifan Lokal menjaga Keseimbangan, Gerakan Literasi menciptakan keabadian Budaya dan Peradaban.” Salam penutup yang khas: “Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata” disambut sorak “Arus… Arus… Arus!”
Kongres Internasional Literasi Dayak ini diharapkan menjadi momentum historis kebangkitan Dayak. Melalui gerakan literasi yang kuat, masyarakat Dayak bukan lagi sekadar bertahan, melainkan maju, setara, dan berkontribusi pada peradaban global sambil tetap berakar pada nilai luhur leluhur.
Dr. Yansen TP menyimpulkan bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang menunggu, melainkan harus dijemput dengan semangat, hikmat, dan keyakinan.
“Jaga warisan. Jaga masa depan. Demi kokoh dan jayanya Budaya dan Peradaban Dayak di Bumi Kalimantan dan Dunia, melalui Gerakan Literasi.” (X-5)
0 Comments