Kongres Literasi Dayak Internasionnal I dan The 1st Dayak Book Fair 2026 adalah public sphere. yang penting: Apa tindakan-aksi dan produk setelah ini? Ist.
Tak ada pesta yang tak usai.
Tetapi ada pesta yang meninggalkan nyala. Dan nyala itu, saya kira, telah kita saksikan bersama dalam Kongres Literasi Dayak dan The 1st Dayak Book Fair 2026 di Sekadau.
Kita telah melewati masa-masa kritis. Hari-hari panjang penuh kecemasan, kerja sunyi, dan pertanyaan: “Mungkinkah ini terjadi?” Namun sejarah selalu lahir dari orang-orang yang berani memulai. Kini, anak itu telah lahir. Namanya: Literasi Dayak Internasional (LDI).
Ia bukan lahir dari kemewahan. Ia lahir dari niat baik, kerja gotong royong, dan keyakinan bahwa orang Dayak harus menjadi tuan atas narasi dan pengetahuan dirinya sendiri.
***
Seorang ibu merasakan sakit ketika melahirkan. Tetapi begitu mendengar tangis pertama bayinya, ia lupa pada rasa sakit itu. Saya merasakan hal yang demikian. Segala lelah, kurang tidur, salah paham kecil, kekurangan teknis, bahkan kegaduhan-kegaduhan kecil, menjadi tidak berarti ketika melihat satu demi satu orang Dayak terbaik hadir dan duduk bersama dalam satu rumah besar bernama literasi.
LDI telah lahir. Ia telah disumpah adat. Dan dalam waktu dekat, kelengkapan organisasinya akan dirumuskan dalam Rapat Pertama Pengurus di Banjarmasin. Anak ini masih kecil. Ia masih belajar berjalan. Tetapi saya percaya, kelak ia akan berjalan jauh, bahkan melampaui batas-batas geografis Borneo.
Jika dalam proses ini ada kekurangan dan ketidaksempurnaan, itulah manusia. Kita akan memperbaikinya bersama-sama. Good, better, best. Tidak ada bangunan besar yang langsung sempurna pada hari pertama.
Dalam setiap pekerjaan besar, selalu ada “ribut.” Tetapi ribut pun ada dua macam. Pertama, ribut tukang. Ribut orang-orang yang sedang bekerja: memahat, mengukur, memasang tiang, merapikan dinding agar rumah berdiri tegak. Ribut jenis ini sehat, karena tujuannya jelas: selesai, rapi, mencapai tujuan.
Kedua, ribut preman. Ribut tanpa arah, tanpa karya, tanpa tujuan selain merusak.
Saya percaya. Kita adalah jenis pertama. Kita adalah tukang-tukang literasi yang sedang membangun rumah bersama. Setuju?
Kongres Literasi Dayak dan The 1st Dayak Book Fair ini pada dasarnya adalah gerakan sosial. Tidak ada donatur besar. Tidak ada sponsor mewah. Ini murni pelayanan murni ministry. Namun justru karena itulah, energi moralnya terasa kuat. Orang datang bukan karena amplop, melainkan karena panggilan jiwa.
Dan lihatlah siapa yang berkumpul di ruang itu.
Penulis dan pengarang Dayak kelas dunia hadir. Sastrawan-sastrawan Dayak datang membawa karya dan pemikiran. Penerbit-penerbit Dayak membuka jalan bagi buku-buku anak kampung agar sampai ke dunia luas. Profesor dan ilmuwan Dayak duduk berdampingan dengan masyarakat adat. Guru dan mentor politik Dayak memberi arah. Sekjen MADN hadir sebagai representasi organisasi Dayak tertinggi. Pengusaha, aktivis Gerakan Keling Kumang, dan banyak unsur lain datang tanpa sekat.
Saya pikir, tidak mudah mempertemukan anasir-anasir hebat Dayak dalam satu forum. Biasanya ada jarak, ego, sekat, bahkan kepentingan-kepentingan kecil yang membuat orang sulit duduk bersama. Tetapi beberapa hari di Sekadau itu, kita membuktikan bahwa persaudaraan intelektual Dayak masih hidup.
Karena itu saya memandang LDI bukan sekadar organisasi. Ia adalah ruang hidup. Tempat orang Dayak berpikir, menulis, berbicara, dan membangun masa depan bersama. Rumah Literasi Dayak mulai berdiri tegak. Mungkin belum sempurna. Tetapi tiangnya sudah tertanam.
Kini tugas kita bukan lagi bertanya apakah rumah ini bisa dibangun. Rumah itu sudah ada. Tugas kita sekarang adalah menjaganya agar tetap menyala, tetap terbuka, dan tetap menjadi tempat pulang bagi siapa saja yang mencintai ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan martabat Dayak.
Atas nama pribadi, saya mengucapkan terima kasih kepada kita semua tanpa kecuali. Semua telah mengambil bagian. Tidak ada yang lebih penting daripada yang lain. Mata tidak bisa berkata lebih penting daripada kaki. Tangan tidak dapat merendahkan telinga. Semua organ bekerja menurut fungsinya masing-masing.
***
Demikian juga perjuangan literasi ini. Ada yang menulis. Ada yang memimpin diskusi. Ada yang menyusun kursi. Ada yang mengangkat sound system. Ada yang menyiapkan kopi. Ada yang berdoa diam-diam agar acara berjalan baik. Semua adalah bagian dari tubuh besar yang sedang bertumbuh.
Dan pagi ini saya percaya: sejarah kecil telah dimulai di Sekadau.
Catatan pagi, 21 Mei 2026
0 Comments