Tim Perumus Kongres Internasional I Literasi Dayak di Sekadau, Kalbar, 16 Mei 2026

Tim Perumus Kongres Internasional I Literasi Dayak di Sekadau, Kalbar, 16 Mei 2026
Albertus Imas, Dr. Tirta Susila, dan Alkap Pasti, trio Tim Perumus KLD yang bekerja dalam diam. Ist.

Tiga tokoh perumus Kongres Internasional I Literasi Dayak di Sekadau, Kalimantan Barat, 16 Mei 2026: Albertus Imas, Dr. Tirta Susila, dan Alkap Pasti. Mereka bekerja dalam diam merumuskan arah, visi, dan masa depan gerakan literasi Dayak di tengah arus dan tantangan zaman modern.

Dalam setiap kongres besar, orang biasanya hanya melihat panggung. Lampu menyala. Tepuk tangan bergemuruh. Narasumber berbicara. Peserta datang dari pelbagai daerah dan negara. Kamera memotret. Media menulis berita. 

Nama-nama besar disebut. Namun, jarang orang melihat siapa yang bekerja di balik layar. Siapa yang merumuskan kalimat demi kalimat. Siapa yang menimbang kata agar tidak melukai, tetapi juga tidak kehilangan ketegasan. Siapa yang memastikan bahwa sebuah kongres tidak hanya selesai sebagai acara, melainkan meninggalkan arah sejarah.

Di Kongres Internasional I Literasi Dayak dan The 1st Dayak Book Fair di Sekadau, Kalimantan Barat, 16 Mei 2026. Tertera ada tiga orang yang bekerja dalam diam. Mereka bukan pemburu mikrofon. Mereka tidak sibuk tampil di depan kamera. Tetapi justru dari tangan merekalah lahir rumusan-rumusan penting kongres. Mereka adalah 

  1. Albertus Imas, 
  2. Dr. Tirta Susila, dan 
  3. Alkap Pasti.

Mereka bekerja seperti akar pohon di rimba Borneo. Tidak terlihat. Tetapi justru akarlah yang menjaga pohon tetap tegak menghadapi badai.

Tugas tim perumus bukan pekerjaan ringan. Banyak orang mengira tugas mereka sekadar mengetik hasil sidang atau menyusun notulen. Padahal, pekerjaan perumus jauh lebih berat dari itu. Mereka harus mendengar seluruh dinamika forum. Mereka harus memahami semangat peserta. Mereka harus mampu menangkap ide-ide yang tercecer menjadi satu arah pemikiran yang utuh. Mereka bukan sekadar penulis. Mereka adalah penyaring gagasan, penjaga ruh kongres, sekaligus penenun masa depan.

Dalam kongres literasi Dayak ini, tantangannya bahkan lebih kompleks. Sebab yang dibicarakan bukan hanya soal membaca dan menulis. Kongres ini menyangkut identitas, sejarah, kebudayaan, masa depan generasi Dayak, hingga posisi orang Dayak dalam arus besar dunia digital dan ekonomi kreatif. Karena itu, setiap rumusan harus memiliki pijakan budaya sekaligus relevansi global.

Di sinilah pentingnya kehadiran Albertus Imas, Dr. Tirta Susila, dan Alkap Pasti.

Albertus Imas bekerja dengan ketelitian seorang akademisi yang memahami denyut masyarakat akar rumput. Ia menyadari bahwa literasi Dayak bukan sekadar kemampuan baca-tulis, melainkan kemampuan menjaga ingatan kolektif. Sebab banyak peradaban besar runtuh bukan karena kalah perang, melainkan karena kehilangan ingatan. Orang Dayak selama ratusan tahun menyimpan pengetahuan dalam tradisi lisan: kana, pantun, mantra, hukum adat, tenun, tato, hingga pengetahuan berladang. Semua itu adalah literasi. Maka ketika kongres berbicara tentang literasi Dayak internasional, yang dibangun sesungguhnya adalah jembatan antara pengetahuan tradisional dan dunia modern.

Dr. Tirta Susila menghadirkan kedalaman analisis dan ketegasan akademik. Dalam sebuah kongres, rumusan tidak boleh hanya terdengar indah. Ia harus memiliki kekuatan konseptual. Harus ada visi. Harus ada arah. Rumusan kongres adalah dokumen sejarah. Kelak, bertahun-tahun kemudian, orang akan membuka kembali dokumen itu untuk melihat: ke mana arah perjuangan literasi Dayak dimulai? Apa cita-cita yang pernah diletakkan? Apa kegelisahan zamannya?

Karena itu, seorang perumus harus mampu membedakan mana ide yang bersifat emosional sesaat dan mana yang memiliki daya tahan sejarah. Dr. Tirta Susila memahami hal itu. Ia membantu memastikan bahwa hasil kongres tidak jatuh menjadi slogan kosong. Rumusan harus hidup. Harus dapat dijalankan. Harus menjadi kompas.

Sementara itu, Alkap Pasti bekerja dengan kesabaran seorang guru. Ia memahami bahwa bahasa adalah jembatan. Dalam forum besar, sering kali muncul pelbagai pandangan, bahkan perbedaan. Ada yang berbicara dari sudut budaya, ada yang dari pendidikan, ada yang dari aktivisme, ada pula yang dari pengalaman kampung. Tugas perumus adalah menyatukan semuanya tanpa menghilangkan suara masing-masing.

Itulah pekerjaan sunyi yang tidak mudah.

Perumus kongres ibarat pandai besi. Mereka menempa gagasan yang masih mentah menjadi alat perjuangan yang tajam. Mereka bekerja sampai larut malam ketika peserta lain mungkin sudah beristirahat. Mereka mencocokkan kembali hasil sidang. Memastikan tidak ada gagasan penting yang tercecer. Memastikan setiap kalimat tidak menimbulkan tafsir yang salah. Sebab satu kata saja dapat mengubah makna sejarah.

Dalam tradisi intelektual modern, sebuah kongres dianggap berhasil bukan hanya karena ramainya peserta, tetapi karena kualitas rumusannya. Acara dapat selesai dalam dua hari, tetapi rumusan dapat hidup puluhan tahun. Rumusan kongres yang baik akan menjadi dasar gerakan, pijakan penelitian, referensi kebijakan, bahkan inspirasi generasi berikutnya.

Karena itu, pekerjaan tim perumus sejatinya adalah pekerjaan peradaban.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, masyarakat Dayak menghadapi banyak tantangan: ekspansi sawit, deforestasi, pergeseran budaya, migrasi, dan penetrasi digital yang begitu masif. Jika tidak memiliki arah, generasi muda Dayak dapat tercerabut dari akar budayanya sendiri. Maka kongres literasi ini menjadi penting sebagai ruang untuk merumuskan masa depan.

Dan masa depan tidak lahir begitu saja. Ia ditulis. Dirumuskan. Dipikirkan.

Itulah sebabnya, orang-orang yang bekerja dalam diam sering kali justru paling menentukan.

Saya teringat pepatah lama: “Air yang tenang menghanyutkan.” Dalam konteks ini, mereka yang tidak banyak tampil justru sedang menggerakkan sesuatu yang besar. Albertus Imas, Dr. Tirta Susila, dan Alkap Pasti menunjukkan bahwa intelektual sejati tidak selalu berdiri di panggung. Kadang mereka duduk di meja kecil, dikelilingi kertas dan laptop, menyusun kalimat demi kalimat agar sebuah gerakan memiliki arah.

Kerja mereka mungkin tidak banyak dipotret. Nama mereka mungkin tidak paling sering disebut. Tetapi sejarah sering kali dibangun oleh orang-orang seperti itu: mereka yang bekerja tanpa banyak suara, namun meninggalkan jejak yang panjang.

Kongres Internasional I Literasi Dayak di Sekadau bukan hanya peristiwa seremonial. Ia adalah penanda zaman. Dan di balik penanda zaman itu, ada tangan-tangan sunyi yang merumuskan jalan.

Mereka bekerja dalam diam. Tetapi hasil kerja mereka akan berbicara lama sesudah kongres usai.
Oleh Masri Sareb Putra

Jakarta senja jelang malam, 21 Mei 2026


0 Comments

Type above and press Enter to search.