| Memoar Politik Dr. (H.C.) Cornelis: apa pentingnya: Ist. |
Memoar Politik Dr. (H.C.) Cornelis mengungkap strategi dan perubahan besar keterwakilan Dayak dalam birokrasi Kalimantan Barat selama satu dekade, dari 3 menjadi 31 pejabat strategis, serta dampaknya pada partisipasi dan kepercayaan diri masyarakat.
Memoar yang dibuka pelan-pelan
Ada buku yang tidak hanya ditulis, tetapi seperti “dibuka pelan-pelan” dari ruang yang selama ini terkunci rapat oleh waktu, kepentingan, dan ingatan kolektif. Memoar Politik ini termasuk di dalamnya. Ia hadir bukan sebagai laporan administratif, melainkan sebagai jejak kesadaran politik yang tumbuh dari tanah Kalimantan Barat, dari denyut masyarakat Dayak yang lama berada di tepi, lalu perlahan bergerak ke pusat.
Tokoh besar yang dimaksud dalam memoar ini adalah Dr. (H.C.) Cornelis, seorang figur yang dalam belantara politik daerah sering dipandang bukan hanya sebagai pejabat, melainkan sebagai arsitek perubahan sosial-politik yang bekerja melalui birokrasi, jaringan, dan kebijakan yang terukur.
Ketika saya diminta menulis biografi dan memoarnya, ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai dijawab: mengapa harus saya? Mengapa harus ditulis sekarang? Dan mengapa bagian-bagian tertentu dari perjalanan ini justru muncul ketika ingatan sudah mulai dipanggil kembali oleh sejarah?
Sejarah tidak menunggu kesiapan
Jawaban paling jujur adalah: mungkin karena sejarah tidak menunggu kesiapan penulis.
Memoar Politik Dr. Cornelis ini kemudian menjadi salah satu pustaka yang diperkenalkan dalam Kongres Internasional I Literasi Dayak & The 1st Dayak Book Fair, 15–16 Mei 2026 di Sekadau, Kalimantan Barat. Di kongres dan ruang pameran itu, buku tidak hanya diperlakukan sebagai benda bacaan, tetapi sebagai artefak sosial, bukti bahwa sebuah komunitas sedang menulis dirinya sendiri, dengan sadar, dengan bangga, dan dengan luka yang telah mulai dipahami.
Isi buku ini membuka lapisan yang jarang dibicarakan secara terang-terangan: bagaimana politik bekerja bukan hanya di permukaan pemilu, tetapi di dalam mekanisme penempatan orang, penguatan kapasitas, dan pembukaan akses yang selama ini tertutup oleh sejarah panjang ketimpangan representasi.
Dalam narasi itu, kita menemukan satu garis perubahan yang sangat konkret: dalam satu dekade, terjadi lonjakan keterwakilan orang Dayak dalam jabatan strategis. Dari hanya 3 posisi menjadi 31. Sebuah angka yang tidak hanya berbicara tentang statistik, tetapi tentang perubahan struktur kekuasaan. Di sisi lain, persentase keterlibatan juga meningkat dari 8,57% menjadi 65% dalam kurun waktu yang sama. Angka-angka ini, jika dibaca secara dingin, tampak seperti tabel laporan. Tetapi dalam kehidupan sosial, ia adalah pergeseran posisi: dari pinggiran menuju pusat keputusan.
Perubahan ini tidak lahir dari ledakan sesaat. Ia tidak hadir sebagai kebetulan sejarah. Memoar ini justru menegaskan bahwa transformasi tersebut dibentuk melalui proses yang panjang, sistematis, dan sering kali tidak terlihat oleh publik. Ada pengkaderan yang dirancang. Ada penataan birokrasi yang tidak selalu populer. Ada distribusi peran yang harus dinegosiasikan di tengah realitas masyarakat majemuk yang memiliki kepentingan berlapis-lapis.
Di titik ini, politik tidak lagi dapat dipahami sebagai bukan hanya perebutan kekuasaan, tetapi sebagai seni mengatur kemungkinan. Siapa mendapat akses. Siapa diberi ruang tumbuh. Siapa yang selama ini hanya menjadi penonton, lalu perlahan dipanggil masuk ke panggung.
Memoar ini juga memperlihatkan satu hal penting: perubahan tidak pernah netral. Ketika satu kelompok naik dalam struktur representasi, selalu ada dinamika penyesuaian di kelompok lain. Namun yang menarik dari narasi ini adalah upaya menjaga keseimbangan. Tidak ada kesan bahwa perubahan diarahkan untuk menggantikan satu dominasi dengan dominasi lain. Yang ditekankan adalah perluasan ruang, bukan penyingkiran.
Kalbar: masyarakat majemuk
Di Kalimantan Barat, konteks masyarakat majemuk menjadi latar yang tidak bisa diabaikan. Dalam lanskap seperti ini, kebijakan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersentuhan dengan sejarah, identitas, dan ingatan kolektif. Maka ketika buku ini memaparkan bagaimana kepemimpinan bekerja, yang dibaca bukan hanya kebijakan formal, tetapi juga cara seorang pemimpin membaca denyut sosial di sekitarnya.
Ada bagian-bagian dalam memoar ini yang terasa seperti catatan dapur politik: bagaimana keputusan diambil, bagaimana negosiasi berlangsung, bagaimana resistensi dikelola tanpa harus selalu menjadi konflik terbuka. Namun di balik itu semua, ada satu benang merah yang konsisten: keterbukaan akses sebagai fondasi perubahan.
Keterbukaan itu kemudian menjadi pintu bagi meningkatnya partisipasi masyarakat. Orang-orang yang sebelumnya berada di luar sistem mulai masuk ke dalamnya, bukan sebagai simbol, tetapi sebagai pelaku. Mereka tidak hanya hadir, tetapi juga berperan dalam pengambilan keputusan. Di sinilah perubahan menjadi nyata: ketika struktur tidak hanya berubah di atas kertas, tetapi juga dalam cara orang memandang dirinya sendiri.
Salah satu hal yang paling menarik dari memoar ini adalah cara ia memperlakukan waktu. Satu dekade tidak dibaca sebagai rentang kronologis biasa, melainkan sebagai ruang transformasi. Di dalam ruang itu, kebijakan diuji oleh realitas, strategi diuji oleh resistensi, dan visi diuji oleh kompleksitas masyarakat.
Dalam gaya penulisan yang reflektif, seperti yang sering kita temukan dalam tradisi esai biografis, politik tidak pernah dipisahkan dari kemanusiaan. Seorang pemimpin tidak hanya dilihat sebagai pengambil keputusan, tetapi juga sebagai individu yang harus terus membaca ulang dirinya di tengah perubahan yang ia sendiri ikut ciptakan.
Ada paradoks yang menarik: semakin besar perubahan yang terjadi, semakin sulit mengklaim siapa sebenarnya “pemilik” perubahan itu. Apakah individu? Apakah institusi? Ataukah masyarakat yang perlahan belajar mengambil ruangnya sendiri?
Membuka ruang tafsir
Memoar ini tidak memberikan jawaban tunggal. Ia justru membuka ruang tafsir. Di situlah kekuatannya.
Ketika buku ini diperkenalkan di Sekadau, ia tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari percakapan yang lebih besar tentang literasi Dayak, tentang bagaimana komunitas menulis sejarahnya sendiri, dan tentang bagaimana pengetahuan tidak lagi hanya diproduksi dari luar, tetapi juga dari dalam.
Dalam konteks itu, memoar politik bukan hanya dokumentasi. Ia adalah pernyataan bahwa pengalaman politik lokal layak menjadi bagian dari pengetahuan publik. Bahwa perubahan di Kalimantan Barat tidak hanya penting bagi daerah itu sendiri, tetapi juga bagi cara kita memahami politik di masyarakat plural secara lebih luas.
Pada akhirnya, yang tersisa dari memoar ini bukan hanya angka, bukan hanya jabatan, dan bukan hanya kebijakan. Yang tersisa adalah kesadaran bahwa representasi bukan sesuatu yang diberikan, melainkan sesuatu yang diperjuangkan, dibangun, dan dijaga.
Dan seperti semua perubahan besar, ia tidak pernah selesai. Ia hanya berpindah bentuk, dari kebijakan menjadi budaya, dari struktur menjadi kesadaran, dari statistik menjadi kepercayaan diri kolektif.
Di titik itu, pertanyaan awal tentang “mengapa harus saya menulisnya” mungkin tidak lagi terlalu penting. Karena yang lebih penting adalah: apa yang terjadi jika tidak ditulis?
0 Comments