Menulis sebagai Kurikulum Kepemimpinan di CU Keling Kumang dan Puskhat
| Writing skill sebagai Kurikulum Kepemimpinan di CU Keling Kumang dan Puskhat. Ist. |
Menulis sebagai Kurikulum Kepemimpinan. Hal yang tidak lazim, tetapi mulai menjadi biasa di lingkungan Credit Union Keling Kumang dan Puskopdit Khatulistiwa (Puskhat).
Di tengah arus pelatihan kepemimpinan yang umumnya berfokus pada strategi, keuangan, dan tata kelola. Writing skill, keterampilan menulis justru hadir sebagai bagian penting dalam membentuk cara berpikir dan cara memimpin.
Ada banyak pelatihan untuk manajer dan calon pemimpin. Topiknya berkisar pada kepemimpinan, tata kelola, keuangan, strategi bisnis, dan pelayanan anggota. Semua penting. Namun ada satu topik yang jarang mendapat tempat khusus dalam kurikulum kepemimpinan, yaitu menulis.
Karena itu saya memandang menarik apa yang dilakukan konsorsium Credit Union di bawah naungan Puskopdit dan program calon CEO CU Keling Kumang. Di sana keterampilan menulis tidak dianggap pelengkap. Menulis menjadi bagian dari proses pembentukan pemimpin.
Program Writing Skills ini sudah tiga kali dilaksanakan. Saya bersama Munaldus atau Liu Ban Fo mendapat kesempatan menjadi fasilitator dan narasumber.
Selama tiga hari kami mendampingi peserta mulai. Mulai dari memahami teori. Melakukan praktik. Hingga membedah karya mereka secara langsung di kelas.
Menulis Adalah Berpikir
Salah satu prinsip yang kami ajarkan sederhana. Clear writing comes from clear thinking. Tulisan yang jernih lahir dari pikiran yang jernih. Topik yang biasanya menarik, sekaligus menantang. Terutama di mana topik membangun "general statement" menjadi sesi paling alot, penuh tantangan, sekaligus momok bagi sebagian peserta. Sebab di sana gagasan diuji. Kalimat dicerca. Dan argumen dipertahankan.
Banyak orang mengira menulis adalah urusan kata-kata. Padahal akar persoalannya sering bukan pada kata-kata.
Akar persoalannya ada pada cara berpikir. Manakala seseorang kesulitan menjelaskan sesuatu dalam tulisan, sering kali ia sebenarnya sedang kesulitan menata pikirannya sendiri.
Karena itu, peserta tidak hanya belajar menyusun kalimat. Mereka belajar menyusun logika. Mereka belajar melihat hubungan sebab akibat. Mereka belajar mengembangkan gagasan dan menyajikannya secara runtut. Dalam banyak kasus memperbaiki tulisan berarti memperbaiki cara berpikir.
Tulisan yang baik bukan sekadar enak dibaca. Tulisan yang baik menunjukkan bahwa penulisnya memahami apa yang sedang ia bicarakan.
Membongkar Tulisan Membongkar Cara Berpikir
Bagian yang paling menarik dari pelatihan biasanya terjadi ketika karya peserta dibedah bersama. Pada sesi ini setiap tulisan dibaca secara kritis. Struktur diperiksa. Logika diuji. Alur diperjelas. Kalimat yang berputar-putar dipangkas. Gagasan yang masih kabur dipertajam.
Di sinilah peserta melihat bahwa tulisan yang tampak sederhana sesungguhnya lahir dari proses berpikir yang tidak sederhana. Banyak tulisan menjadi panjang bukan karena gagasannya besar melainkan karena penulisnya belum menemukan inti yang ingin disampaikan.
Kami juga menekankan pentingnya dua hal. Alur logika dan alur bercerita. Logika membuat tulisan mudah dipahami. Cerita membuat tulisan tetap menarik diikuti sampai akhir. Seorang pemimpin membutuhkan keduanya.
Pemimpin Masa Kini Harus Terampil Menulis
Dunia kerja terus berubah. Komunikasi semakin banyak berlangsung melalui tulisan. Keputusan ditulis. Strategi ditulis. Laporan ditulis. Bahkan reputasi profesional seseorang sering kali dibangun melalui tulisan.
Karena itu kemampuan menulis bukan lagi keterampilan tambahan. Menulis adalah kompetensi kepemimpinan.
Pemimpin yang mampu menulis dengan baik biasanya mampu menjelaskan visinya dengan lebih jelas. Ia lebih mudah membangun kesepahaman. Ia juga lebih mudah menggerakkan orang lain karena pesannya dapat dipahami tanpa banyak penafsiran.
Di masa lalu seorang pemimpin mungkin cukup mengandalkan kemampuan berbicara. Hari ini dan terlebih pada masa yang akan datang kemampuan itu saja tidak cukup.
Pemimpin harus mampu menuangkan pikirannya dalam tulisan yang jernih, runtut, dan meyakinkan.
Sebab pada akhirnya tulisan adalah cermin pikiran. Dan pemimpin yang pikirannya jernih akan selalu lebih mudah membawa orang lain menuju tujuan yang sama.
Jakarta 21 Juni 2026
0 Comments